Puasa, Untuk Apa?

Sampai sekarang sering saya dengar, berpuasa hanya untuk melatih diri. Orang puasa untuk melatih diri menahan hawa nafsu, mulai dari soal-soal sepele seperti makan-minum, bertutur, bersikap dan bertindak, hingga seks. Semua harus orang tahan di hari-hari yang katanya bulan suci penuh rahmat bernama Ramadhan ini.

Di lain pihak saya juga mendengar, orang puasa untuk melatih bagaimana cara agar kepekaan sosial mereka bisa meningkat. Rasa haus dan lapar yang ditahan selama kurang lebih 12 jam dalam sehari, tak lain bertujuan untuk bagaimana orang juga bisa merasakan derita mereka-mereka yang tak berpunya. Empati lahir. Sesederhana itu.

Tapi ada juga meyakini bahwa berpuasa itu merupakan sarana penyehatan raga. Dan yang paling unggul, biasa dimaknai sebagai satu upaya yang bernilai ibadah di sisi-Nya, berganjar pahala berlipat ganda.

Selintas, tujuan-tujuan dari berpuasa di atas kesannya mulia. Hanya saja timbul pertanyaan, untuk apa lagi harus berpuasa jika kesadaran semacam itu sudah kita miliki? Bukankah itu hanya harus berlaku kepada mereka yang tidak tahu saja?

Anggaplah misalnya anak kecil memang tak tahu-menahu soal tujuan-tujuan berpuasa seperti di atas. Tentu mereka wajib diharuskan untuk melakoninya. Tapi pada kita, yang dewasa, yang sudah tahu maksud dari semuanya, untuk apalagi kewajiban semacam itu harus direalisasikan? Sama saja dengan memundurkan harkat-derajat kemanusiaan kita sendiri, bukan?

Untuk apa berpuasa jika soalnya hanya ingin tahu bagaimana rasanya menahan lapar dan haus sebagaimana yang miskin rasakan sepanjang hidupnya? Untuk apa berpuasa jika tujuannya hanya untuk tahu bagaimana cara menahan hawa nafsu-hawa nafsu yang tidak memicu produktivitas? Untuk apa berpuasa jika niatan awal hanya untuk tahu bagaimana cara meningkatkan kepekaan sosial?

Untuk apa pula puasa jika soal yang ingin dicapai adalah kesehatan raga? Bukankah ada banyak cara untuk itu? Dan yang terakhir, jika niatnya adalah pahala, sekerdil itukah cara Tuhan mengganjarnya?

Saya rasa sudah waktunya kita mencukupkan ajaran kerdil semacam ini. Kita tak butuh lagi seruan-seruan kuno semacam itu. Lagipula, tak ada efek dari berpuasa selain hanya melahirkan hambatan-hambatan. Kebebasan (kehendak bebas) terbungkam selama kurang lebih satu bulan. Waktu yang cukup untuk beramal secara produktif.

Berpaham demikian tak berarti saya hendak melecehkan ajaran Islam tentang puasa. Sebagai yang muslim, khawatir saya hanya satu: puasa melulu dilakoni tanpa sikap kritis. Sebab konteks yang melandasinya sendiri sudah sangat tak relevan.

Agar Kamu Bertaqwa

Mengapa dulu ada perintah untuk kita harus puasa? Jawabnya bisa singkat: la allakum tattaqun (agar kamu bertaqwa).

Bagi saya, itulah seruan utama mengapa orang harus berpuasa. Bahwa tujuan dari berpuasa adalah agar orang bisa bertaqwa. Tetapi itu di ujung sana. Masih ada jalan yang mesti kita tempuh agar bisa sampai ke ujung itu (taqwa).

Secara harfiah, kata “taqwa” bisa kita maknai sebagai hal yang mencakup sikap-sikap kebajikan. Misalnya mengejar ilmu, itu juga termasuk kebajikan, taqwa. Bersabar pun demikian.

Jadi, jika kita bersama-sama mengakui “agar kamu bertaqwa” sebagai tujuan esa dari berpuasa, maka cukup kiranya bagi kita untuk hanya menyeru, memberi contoh pada, yang lain pada kebajikan. Tak perlu bersusah-susah menahan segala macam bentuk hawa nafsu, cukup tebar kebaikan lalu semua akan beres.

“Diwajibkan kepada kamu berpuasa supaya kamu bertaqwa.” Jelas, maksud dari seruan ini supaya terhimpun dalam diri manusia segala macam kebajikan. Jelas pula bahwa puasa bukanlah sekadar menahan diri, juga untuk melatih diri, untuk tidak meruangkan kerja-kerja yang tidak produktif.

Tapi tak masalah jika masih ada di antara kita yang mempertahankan ajaran kuno semacam itu. Hanya tolong, jangan paksakan kepada mereka yang tak mau menerimanya sebagai kewajiban.

Berpuasa ya berpuasa saja. Lapar dan haus ditahan sendiri. Nafsu-nafsu, jika benar itu tak memicu produktivitas, ya ditahan sendiri juga. Tak perlu mewajibkan kepada yang lain, termasuk orangtua sekalipun kepada anaknya.

Dan untuk yang tak berpuasa, sebab tahu bahwa ini sudah keliru, beranikan saja untuk menjalaninya. Tak perlu peduli pada apa yang diwajibkan dari luar.

Tak berpuasa ya tak berpuasa saja. Jangan pula paksakan kehendak itu kepada mereka yang masih meyakini bahwa ada nilai yang benar-benar dikandung di dalam puasa.

Oleh karena sukarnya menarik satu kesepahaman tentang ini, maka yang paling memungkinkan untuk kita tekankan adalah seruan toleransi. Baik yang berpuasa maupun yang tidak, mesti sama-sama saling harga-menghargai. Jangan hanya karena merasa melakukan kewajiban agama lalu meminta orang lain untuk memberi penghargaan lebih. Pun demikian yang harus berlaku sebaliknya.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply