Revolusi Kognitif Mematikan yang Bernama Agama

“Kita berprestasi mengerikan sebagai spesies paling mematikan dalam tarikh biologi.”

Sejarah dari sapiens di dunia ini tidak lain adalah sebagai salah satu pemangsa buas yang bertambah kemampuan kognitifnya karena mutasi genetik pada masa sebelum pemburu-pengumpul dimulai.

Masa perburuan yang dilakukan sapiens tidak lain adalah ketika pertama kali sapiens menemukan teknologi tercanggih, yaitu api. Sehingga menakdirkannya menjadi penguasa rantai makanan yang tertinggi.

Ketercapaian revolusi kognitif sapiens kemudian bukannya menjadi berkah, namun menjadi musibah atau kutukan bagi sebagian besar makhluk penghuni dunia.

Kepunahan makhluk bertubuh besar selain karena tidak mampu bertahan hidup pada iklim atau musim tertentu, ia juga menjadi sasaran oleh sebagain besar sapiens.

Perkembangan revolusi kognitif ini kemudian digunakan untuk kepentigan ekspansi penguasaan wilayah dan menyatukan sapiens pada satu ide yang mengikat.

Maka, hadirlah manusia dan segala konstruksinya melalui narasi-narasi dan dipercaya bersama sebagai kekuatan. Ini juga disebut sebagai grand narration.

Harari memberikan gambaran kepada sesuatu yang abstrak namun memiliki power sangat besar. Ilustrasi yang dicontohkan adalah nama sebuah PT atau brand sebagai pengikat kebersamaan dengan pertimbangan idealitas hampir utopis.

Disadari atau tidak, brand pengikat tersebut menjadi mematikan bagi seseorang pemuja berlebihan, atau bahkan memiliki keyakinan akan kekekalan. Maka, matilah seseorang dalam “nothing!” bukan “something!”

Brand pengikat lainnya salah satunya adalah agama, boleh direfleksikan untuk manusia modern kurun beberapa tahun ke belakang, sangat dekat. Bagaimana agama-agama dunia atau world religion menjadi penguasa di atas agama-agama luhur yang disebut sebagai kepercayaan.

Bisa dibayangkan bagaimana konstruksi manusia dalam revolusi kognitif yang semakin berkembang maka semakin mengikat dan semakin mematikan pemeluknya.

Brand agama tersebut secara historis telah ditempatkan secara institusional dan legal menjadi agama dunia yang wajib dianut oleh seluruh manusia di dunia. Demi kekuasaaan atau politis, kebudayaan/ kepercayaan habis juga oleh retoris agama yang secara auto memiliki label “baik dari yang terbaik”

Lalu bagaimana jika kepercayaan menghilang? Hal tersebut juga menjadi konsen pembahasan oleh Hefner dalam Picard. Sebuah rekognisi agama dunia yang disebut jg konstruksi besar-besaran kepada umat manusia, dibentuklah sebagian besar instrument pendukung untuk menguatkan. Hal ini dijelaskan oleh Talal Asad dalam Genealogy of Religion.

Bahkan dalam idenya, Saba Mahmood juga mendeskripsikan secara rinci, bagaimana gerakan perempuan muslim feminis yang secara dinamis dan beragam telah bangkit (revival) dalam berbagai kelompok di bebagai masjid di Kairo untuk memerangi sekularisme,

Sebagian besar aksi ekstrimisme dalam berbagai konsep dan konteks merupakan ciptaan manusia sendiri. Kita sebagai sapiens tidak akan pernah terlepas dari kekerasan dan sifat ingin menang. Apalagi banyak konsep, teori dan ideologi yang digunakan, akibatnya adalah memberikan celah untuk semakin memisahkan manusia karena perbedaan,

Berbagai macam teori, konsep, dan perspektif yang sangat beragam ini telah menjebak manusia dalam kungkungan kelompok manusia itu sendiri.

Tidak jauh berbeda, banyaknya teori yang tercipta hanyalah bayangan manusia. Bennedict Anderson dalam Imagined Community juga menjelaskan mengenai konsep yang mengikat manusia dalam suatu peta, bangsa, dan negara.

Secara otomatis, latar belakang pendidikan, suku, agama, ras, dan golongan adalah produk dari komunitas yang terbayangkan itu sendiri. Hal ini sama dengan penjelasan Harari mengenai pembentukan realitas yang dikhayalkan, mitos atau grand narration.

Isu-isu yang telah berkembang saat ini di dunia modern manusia tidak lain hanyalah bentuk dari segala konsep yang sengaja dikonstruksikan.

Dalam satu bagian tulisannya, Harari sendiri telah memancing kita dengan pernyataan “jangan percaya pada pemeluk pohon yang mengklaim leluhur kita hidup harmonis dengan alam.

Hal ini memberikan kesempatan kepada kita untuk refleksi bahwa tidak ada kebenaran dari konstruksi cerita yang disuguhkan saat ini. Teori pada konteks ini sebagai kekuatan revolusi kognitif yang tak dapat terbantahkan oleh manusia sekarang.

Masyarakat yang saat ini dibayangkan oleh banyak manusia baru semata tidak mengenal siapa sejatinya manusia dulu sebagai sapiens yang maha kejam dan penghabis segala sesuatu.

Sesuai yang dikatakan oleh Harari, bahwa sebaik apapun kita membersihkan nama kita, bukti historis tak akan pernah dapat dibohongi.

Jadi, apa yang ingin kita buktikan sebagai manusia baik? Apa yang ingin kita tujukkan? Kita tunjukkan kepada siapa? Kepada sesama sapiens yang juga pemangsa?

Jadi yang ingin saya katakan secara eksplisit disini adalah, usaha apapun yang digunakan manusia untuk menutup sifat asli manusia “asal sapiens” adalah hanya untuk meminimalisir kejahatan di dunia.

Bahkan, sudah sewajarnya kan sapiens menghabiskan segala sesuatu secara eksploitatif?

Banyak nasihat yang sering diperdengarkan dari santri kepada kita, yaitu “jika orang tersebut belajar agama, pasti tidak akan dia melakukan tindakan seperti itu”. Perbuatan baik tak melulu berpegang pada agama, sebab manusia bisa menjadi apapun yang ia mau.

Namun, tidak ada yang tidak mungkin dengan grand narration semua bisa dengan mudah dirubah, termasuk mereduksi sifat alami sapiens.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply