SAINS YANG MEMBUKA HATI

Apakah sains bidang kajian yang demikian kaku hingga membuat rambut para profesornya menjadi acak-acakan dan berdiri (bayangin Einstein)? Banyak yang berpikir begitu. Banyak juga yang beranggapan bahwa sains yang hanya dapat menerima kebenaran yang teramati, sehingga secara tidak langsung membuat sebuah batasan mutlak dengan agama yang kita ketahui berlandaskan keyakinan, terutama pada hal-hal gaib.

Dalam tulisan ini saya sedikit akan membuat sebuah gambaran bahwa tidaklah demikian adanya. Sains dapat membuat hatimu terbuka, tidak kaku dan sebagai jalan untuk lebih dekat dengan keagunganNya.

Bumi, lautan, gunung-gunung dan langit adalah benda-benda raksasa yang sejak jaman dulu selalu membuat manusia terkagum-kagum. Ketika menatap langit malam penuh bintang di daerah pegunungan, atau melihat debur ombak yang menghantam karang-karang terjal di tepi pantai, maka akan muncul suatu perasaan bahwa kita demikian kecil.

Secara alami kekaguman yang memuncak, tidak dibuat-buat, pada bagian diri yang terdalam akan lahir sebuah kesadaran bahwa ada yang lebih tinggi dari kita. Kemudian ada dorongan kuat untuk menghayati kekaguman itu, mencari dan memahami berbagai alasan yang mungkin bisa dicapai oleh akal tentang mengapa kita ada dan untuk apa kita melakukan berbagai aktivitas sehari-sehari selama ini.

Berdasarkan kajian mengenai perkembangan kognitif yang dilakukan oleh Jean Piaget di awal abad ke-20, diketahui bahwa kemampuan manusia untuk bisa menggunakan akalnya tidak berlangsung seketika melainkan dalam tahapan-tahapan tertentu.

Dari tahapan praoperasional, melalui pengamatan berbagai kejadian di sekelilingnya, bahkan juga berbagai uji coba mandiri (lihatlah bagaimana mereka tanpa kenal takut akan mengejar, menyentuh, melempar, menendang berbagai obyek) anak-anak akan beralih ke tahapan operasional. Artinya, mereka mulai paham pola-pola keteraturan yang ada di alam. Anak juga akan mulai mengerti bahwa berbagai kejadian ada penyebabnya.

Mereka ingin tahu berbagai hal, kalau bisa semuanya. Tanpa ragu, takut dan malu mereka akan bertanya dan juga mencari tahu sendiri. Jawaban para orang tua atau pengalaman langsung anak berinteraksi dengan lingkungan (biasanya dengan bermain) akan menentukan bagaimana kualitas tahapan perkembangan akal mereka. Jangan marahi ketika mereka bertanya. Jangan pula terlalu mengekang keinginan bermainnya.

Seandainya keingintahuan anak-anak tidak pernah surut, maka secara alami kita akan selalu terdorong untuk mencari tahu kenapa semua serba teratur. Demikian pula, jika segala sesuatu terikat oleh sebab akibat, artinya semua peristiwa ada penyebabnya, maka kita akan sangat penasaran tentang apa yang menjadi penyebab semua ini.

Termasuk diri kita sendiri, atau seluruh manusia beserta makhluk hidup yang lain. Kita akan benar-benar sesak oleh keingintahuan, keagungan seperti apa yang berada di balik semua ini. Sayangnya tidak demikian. Perlahan dunia remaja disibukkan oleh  keharusan belajar menjadi dewasa, yang artinya harus siap mandiri mencari uang, mencari pasangan dan kedudukan di masyarakat.

Tapi tunggu dulu, masih ada para saintis. Maksud saya adalah adalah mereka yang menyelami dunia ilmu pengetahuan sebenar-benarnya. Orang-orang dengan segunung rasa ingin tahu di kepalanya. Mereka yang menginginkan kebenaran di atas uang atau ketenaran.

Beruntunglah, keberadaan mereka, temuan-temuan terbaru yang mereka hasilkan menambah pemahaman manusia tentang betapa tak terperi keagungan yang tersimpan di alam semesta. Ketika daun-daun menguning dan berguguran, di saat semua orang hanya berkeluh kesah karena musim panas yang menyengat, serta sampah dedaunan yang mengganggu pemandangan, para saintis justru mengingatkan.

Lalu mereka tunjukkan bagaimana lembaran tipis yang tak berarti itu ternyata berisi jutaan sel yang menyalakan mesin hijau penghasil makanan bernama klorofil. Ketika daun-daun menua dan kerja mesin di dalamnya semakin lambat maka akan ada proses daur ulang.

Klorofil pada daun tua akan dirombak, kemudian zat-zat penting (seperti magnesium) diserap dan disalurkan ke daun-daun muda yang kerjanya masing kuat. Karena kehilangan banyak klorofil itu daun-daun tua menjadi tidak hijau lagi, sebelum akhirnya rontok. Generasi tua memang selalu berkorkan untuk penerus mereka.

Untuk daun rontok kecil tipis yang sering kita injak saja kita telah melihat keajaiban. Bagaimana dengan gunung-gunung, lautan, bulan, bintang dan juga jagad raya? Sains menunjukkan pada kita semua bahwa tak ada yang berjalan tanpa keteraturan dan keagungan di dalamnya.

Melalui perkembangan Astrofisika dan alat-alat canggih seperti teleskop Hubble, para saintis bahkan telah dapat menganalisis awal dari keberadaan semesta ini. Sekitar 14 milyar tahun silam diawali oleh suatu peristiwa ledakan energi yang disebut big bang.

Lalu muncullah materi, ruang dan waktu yang terus berproses hingga sekarang. Berbagai zat muncul, berinteraksi dan bersenyawa hingga yang paling kompleks adalah keberadaan makhluk hidup di bumi (atau mungkin juga di galaksi lain). Anehnya, partikel penyusun alam semesta terdiri atas dua hal pokok yaitu materi dan antimateri. Jika bertemu maka keduanya akan saling memusnahkan.

Berdasarkan penelitian hingga saat ini, diperoleh data bahwa jumlah kedua jenis partikel ini sama di alam, sehingga para saintis tiba pada pertanyaan bagaimana alam semesta ini ada? Mengapa materi dan antimateri sejak awal tidak saling memusnahkan? Jawabannya sekaligus akan menjadi pemecah misteri big bang, dan juga bagaimana awal penciptaan.

Semakin banyak penemuan, semakin banyak pula misteri baru muncul. Secanggih dan semaju apapun, pengetahuan manusia tak akan pernah lengkap. Belum lagi jika kita berbicara tentang apa yang akan terjadi setelah kehidupan dan mengapa semua ini tercipta. Sains memang membantu membuka kesadaran namun tidak bisa memberikan jawaban yang utuh. Untuk meraih hidup yang bermakna, kita membutuhkan petunjuk dari cara yang tidak biasa. Semacam jalan terobosan, yang kita kenal dengan wahyu.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply