Salahkah Mengekspresikan Eksepsionalisme?

America is the greatest country in the world.” Mungkin ada beberapa pembaca mengira bahwa pernyataan ini hanya diutarakan Donald Trump. Padahal, ekspresi ini sudah dinyatakan oleh banyak presiden Amerika Serikat sebagai bentuk kebanggaan terhadap bangsanya.

Ekspresi kebanggaan ini disebut sebagai eksepsionalisme. Istilah ini merujuk kepada anggapan bahwa suatu negara/bangsa itu spesial dibanding negara/bangsa lain. Artinya, negara atau bangsa kita memiliki tempat partikular di dunia ini. Alias unik dan berbeda dibanding yang lain.

Keunikan itu bisa muncul dari berbagai faktor. Amerika Serikat sendiri mengambil eksepsionalisme dari sejarah bangsanya. Mereka percaya bahwa hanya Amerika Serikat yang mengawali sejarahnya sebagai bangsa yang demokratis-individualis. Selain itu, status mereka sebagai negara adidaya juga membakar semangat ini. A shining city on a hill adalah gambaran sempurna eksepsionalisme itu.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut penulis, negara kita memiliki banyak sekali sumur eksepsionalisme. Negeri kita adalah gugusan kepulauan dengan keindahan alam yang tiada tara. Selain itu, ada kekayaan budaya yang beragam. Lantas, keberagaman budaya itu diikat dengan persamaan sejarah sebagai penduduk Nusantara. Unik, bukan?

Istilahnya, mana ada negara lain yang mempunyai 17,504 pulau? 1,331 suku bangsa? 652 bahasa daerah yang berbeda? Belum ada bangsa lain yang mampu menyamai kekayaan ini (Azanella et al, 2019). Dengan kata lain, bangsa Indonesia itu eksepsional.

Eksepsionalisme ini menemukan jalannya menuju beberapa lagu wajib nasional. Terjemahan bahasa Inggris dari judul lagu Rayuan Pulau Kelapa adalah Solace on Coconut Islands. Tempat berlindung di kala turunnya roda kehidupan. Ekspresi eksepsionalisme semakin kentara ketika mendengar lirik seperti berikut. Rasanya kita seperti memberi apotheosis terhadap bangsa ini:

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur        

Pulau melati pujaan bangsa               

Sejak dulu kala

Selain itu, ada pula lagu Indonesia Pusaka. Judulnya saja sudah eksepsionalis. Indonesia adalah warisan yang harus kita banggakan. Bahkan, verse kedua lagu ini menyatakan eksepsionalisme ala Indonesia secara eksplisit. Berikut adalah bunyinya:

Sungguh indah tanah air beta       

 Tiada bandingnya di dunia       

Karya indah Tuhan Maha Kuasa        

Bagi bangsa yang memujanya

Jadi, eksepsionalisme bukan cara pandang yang dimonopoli Amerika Serikat semata. Setiap bangsa memiliki kualitas eksepsional masing-masing. Sehingga, setiap bangsa pasti memiliki eksepsionalisme. Tanpanya, sebuah bangsa akan kehilangan bahan bakar yang membuatnya solid dan bersemangat.

Akan tetapi, apakah eksepsionalisme ini boleh dinyatakan? Jawaban penulis adalah boleh. Namun, ada satu syarat yang harus dipahami oleh setiap individu yang melakukannya. Apa syarat tersebut? Jangan rendahkan negara, bangsa, atau ras lain. Kita ini unik, bukan superior.

Kalimat seperti Deutschland uber alles, uber alles in der welt (stanza pertama Deutschlandlied) adalah contoh eksepsionalisme yang kelewatan. Artinya dalam bahasa Indonesia: Jerman di atas segalanya di dunia. Artinya, bangsa, negara, bahkan ras lain dinyatakan lebih rendah secara eksplisit. Ekspresi ini begitu kelewatan sampai pemerintah Jerman melarangnya setelah Perang Dunia Kedua.

Ini berbeda dengan kasus Presiden Trump. Ketika Beliau menyatakan bahwa America is the greatest country in the world, tidak ada pernyataan bahwa pihak lain lebih rendah. Herannya, banyak orang merasa terserang dengan pernyataan ini. Penulis tidak tahu apakah ini disebabkan oleh pernyataan atau si pembuat pernyataannya. Tetapi, kemarahan ini jelas aneh dan politically-motivated.

Sebagai warga negara dan presiden AS, Beliau menyatakan kecintaan terhadap identitas bangsanya. Begitu pula dengan kebanggaan yang tinggi atas apa yang dicapai AS selama 244 tahun merdeka. Apa salahnya? He’s proud of his nation and he’s not ashamed to admit it.

Seharusnya, eksepsionalisme itu mengalir lintas golongan dan warna politik. Ideologi dan prinsip boleh berbeda. Tetapi, kita harus bersatu padu dalam kecintaan terhadap bangsa tempat kita bernaung. Sayangnya, suasana politik yang semakin divisive merusak aliran ini.

Kelindan inilah yang harus kita bangun kembali. Sehingga, kebangaan terhadap bangsa dan negara masing-masing bisa kembali memantik semangat kita. Khususnya semangat untuk menjaga perdamaian sebagai bagian dari peradaban global.

Kesimpulannya, tidak salah bagi individu untuk mengekspresikan eksepsionalisme. Ekspresi ini adalah wujud dari kebanggaan seorang patriot terhadap keunikan bangsanya. Asalkan tidak merendahkan negara, bangsa, atau ras lain, kebanggaan ini adalah tali yang mengikat persatuan di antara kita sebagai sebuah bangsa. Tanpa persatuan bangsa, maka perdamaian dunia tidak akan terwujud.

Jadi, mari kita berbangga dengan identitas dan keunikan bangsa masing-masing. Jaga kedaulatan dan kekuatannya dengan segenap jiwa raga. Akhirnya, kita akan mampu hidup berdampingan sebagai proud nation-states yang berkooperasi untuk membangun kekuatan kita bersama.

Rionanda Dhamma Putra

Sumber: https://www.qureta.com/next/post/salahkah-mengekspresikan-eksepsionalisme

 

No Comments

    Leave a reply