Salahkah Menjadi Sekuler?

Menjadi sekuler adalah kunci utama mencapai kebenaran yang paripurna, terutama di tengah pertarungan ideologi dari berbagai sisi kehidupan yang melanda tubuh umat Islam.

Arti sekuler pada tulisan ini bukanlah suatu paham yang dianut oleh sebagian negara-negara yang mendaku dirinya sekuler. Bukan pula suatu paham yang menginginkan terpisahnya agama dari kehidupan manusia.

Arti sekuler yang penulis pakai di sini adalah hasil dari pemikiran Nukrkholis Majid. Terkenal betul jargonnya kala itu: “Islam Yes, Partai Islam No!” yang belum sempat ia utarakan maksud slogannya itu, masyarakat buru-buru mencapnya: Cak Nur sekuler!

Dalam ranah politik, apa yang diinginkan oleh Cak Nur bukanlah pemisahan antara agama dan negara. Melalui slogannya tersebut, jelas bahwa Cak Nur masih mengakomodir agama dalam bernegara: Islam Yes!

Namun demikian, dimanakah batas kewajaran agama ini dalam politik? Benarkah agama sebagaimana yang diinginkan oleh kaum awam telah memberi nilai positif dalam perpolitikan di Indonesia? Atau justru sebaliknya?

Jika benar adanya, tidak mungkin seorang intelektual sekaliber Cak Nur akan mengeluarkan pernyataan semacam itu. Jika diamati, pernyataannya merupakan sebuah kritik terhadap budaya taklid buta yang menyerang umat Islam.

Dalam pengamatannya, umat Islam sangat mengagung-agungkan partai politik yang dia anggap benar, hanya karena berlabel “Islam”, bergambar islami, atau dipimpin oleh seorang muslim.

Pada saat seperti inilah sikap sekuler diharapkan. Harus ada sikap desakralisasi di tubuh umat Islam terhadap hal-hal yang tidak seharusnya sakral, termasuk partai politik.

Karena sifatnya yang tidak sakral, maka seharusnya juga tidak perlu dibela mati-matian. Walhasil, katakan salah apabila salah, sekalipun itu partai politik yang telah membesarkan namanya, dan katakan benar apabila memang benar.

Sikap sekuler juga berlaku dalam hal lain di luar politik. Keterlibatan kita dengan suatu organisasi tertentu bukan berarti bahwa kebenaran ada pada organisasi tersebut.

Pada dasarnya, suatu organisasi hanya sebagai sarana yang menyiapkan bibit-bibit unggul untuk masa depan bangsa. Ia hanya bagian terkecil dari hakikat kebenaran. Namun sayangnya, sistem yang ada di Indonesia membuat seseorang seakan-akan menjadi bagian dari organisasi tersebut.

Salah satu penyebabnya adalah adanya sistem pengkaderan di hampir setiap organisasi. Dalam proses pengkaderan tersebut, setiap anggota baru akan diajarkan materi-materi yang menjadi ciri khas organisasinya.

Sembari belajar, ia akan ditananamkan rasa kepemilikan (sense of belonging) sebagai syarat mutlak setiap anggota.

Sampai di sini, proses yang ada merupakan hal yang positif. Lebih positif lagi, jika yang ditanamkan adalah hal-hal yang sesuai dengan cita-cita dan tujuan bangsa, sehingga harapannya setiap anggota akan membawa masa depan yang cerah bagi negara.

Namun, kekacauan akan terjadi apabila para anggota menanamkan sikap fanatik kepada organisasi yang dianutnya. Lagi-lagi, sikap ini akan membawa kerusakan sistem.

Sekuler dalam bermedsos

Sikap sekuler ini juga sangat dibutuhkan dalam bermedia sosial. Sebagaimana yang telah diutarakan, sekuler di sini bukan berarti sesuatu yang negatif terhadap agama.

Untuk memudahkan pemahaman, penulis mencoba membuat ilustrasi seperti ini: seorang pemuda, sebut saja Markomat, merupakan anggota dari partai politik A. Malam hari, ia mendapat pesan broadcast yang bernada negatif tentang partai politik B yang menjadi lawannya di pemilu kali ini.

Jika ia bersikap sekuler, ia tidak akan membagikan pesan tersebut kepada orang lain. Bersikap sekuler dalam hal ini artinya mempertanyakan kebenaran pesan tersebut, sekalipun Markomat, merupakan anggota partai politik seberang.

Sebagai seorang yang sekuler, Markomat tidak memperdulikan keuntungan yang didapat dengan pesan tersebut. Sebaliknya, ia mempertanyakan kebenaran pesan tersebut: dari mana ia berasal? Siapa yang membuatnya? Apakah sudah dilakukan pengkajian dan penelitian yang mendalam?

Sekuler vs Hate Speech

Kehidupan bermedsos orang Indonesia tidak lagi tergolong sehat. Menko Polhukan Wiranto, memaparkan bahwa sepanjang 2018 ada sebanyak 324 kasus hate speech dan 53 kasus hoax. (detik.com)

Prasangka buruk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengguna medsos melayangkan ujaran kebencian. Prasangka itu kerapkali menyerang individu atau kelompok tertentu.

Tak jarang, individu atau kelompok yang menjadi sasaran ujaran kebencian merespon prasangka-prasangka tersebut. Bentuk respon yang dilayangkan pun tak jauh-jauh dari nada negatif. Hasilnya, ujaran itu hanya akan membentuk lingkaran setan yang membahayakan kehidupan bermedsos.

Belum lagi jika kita memikirkan bagaimana dampak buruk yang timbul bagi pembaca yang tidak mempunyai kepentingan apapun.

Mereka dengan percayanya akan membagikan hasil prasangka itu kepada publik lain yang juga tidak memiliki kepentingan. Media sosial akhirnya hanya akan menjadi tempat kebenaran yang sifatnya hitam-putih belaka.

Bersikap sekuler artinya memandang segala informasi yang ada dengan pertimbangan yang matang. Kebenaran dalam suatu informasi bukanlah sesuatu yang absolut, melainkan kebenaran yang bersifat dialogis-kritis yang harus dipertanyakan kejelasannya.

Sekuler sebagai jalan hidup, bukan sebagai ideologi

Sebagai penegasan, bahwa sekuler yang dimaksud di sini bukan pemisahan antara agama dan negara, melainkan memisahkan individu dari sikap fanatisme golongan yang berlebihan. Dengan kata lain, sikap ini ingin mengembalikan individu kepada sesuatu yang benar-benar sakral dan memang patut untuk disakralkan.

Dalam mencapai kebenaran yang paripurna, seseorang harus berani melepas baju identitas yang dikenakannya.

Hal ini, yang juga dipertegas dalam dunia tasawuf, keidentitasan hanya akan menjadi penghambat seseorang untuk mencapai Zat Hakiki. Karena kebenaran yang paripurna hanya akan tercapai dengan pemikiran yang matang, tanpa melibatkan ego fanatisme kelompok.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply