Sertifikat “Agama Damai” UNESCO

Ada situs satire yang menerbitkan artikel tentang sertifikat “agama paling damai” yang dikeluarkan oleh UNESCO. Reaksi terhadap arikel itu menarik untuk dibahas.

Satire adalah suatu cara untuk menyampaikan kritik melalui sindiran. Ini sebenarnya cara yang halus. Tapi menariknya, satire bisa lebih menusuk. Kenapa? Karena ada unsur olok-olok. Olok-olok itu lucu dan menghibur. Tapi pada saat yang sama bisa menusuk sangat tajam. Olok-olok bisa pula dianggap sebagai penghinaan.

Satire soal sertifikat agama paling damai itu adalah sebuah protes atas kesenjangan antara doktrin atau klaim, dengan fakta. Islam adalah agama damai. Namanya saja Islam, berasal dari kata salam, artinya damai. Itu doktrin. Klaimnya pun begitu. Kami cinta damai. Namun fakta menyiratkan bahwa dunia Islam masih sarat dengan konflik. Ironisnya, sebagian besar konflik itu bukan antara muslim dengan umat lain, tapi antar muslim sendiri. Lalu, di mana damainya?

Tentu saja kita paham bahwa Islam bukan satu-satunya faktor penyebab konflik. Kita juga paham bahwa Islam dalam wajah yang damai hadir di berbagai belahan bumi ini. Tapi tetap saja fakta adanya konflik itu adalah sebuah kesenjangan besar terhadap doktrin dan klaim sebagai agama damai tadi. Kesenjangan itulah yang sedang dikritik.

Tanggapan umat Islam terhadap satire sering kali menyedihkan. Mereka hanya bisa melihat satire sebagai sebuah penghinaan belaka. Basisnya adalah mentalitas korban. Dalam doktrin Islam, kaum muslim dan Islam adalah musuh bagi umat lain. Maka apapun yang datang dari musuh selalu dianggap sebagai serangan.

Satire akhirnya tidak menjadi kritik untuk memperbaiki. Ia kemudian memicu permusuhan saja. Apakah satire pangkal masalahnya? Bagi saya bukan. Pangkal masalah adalah doktrin Islam, yang menganggap semua pihak di luar dirinya selalu memusuhi Islam.

Itulah yang terjadi dengan artikel satire ini. Artikel ini dianggap sebagai bagian dari usaha untuk memojokkan Islam. Ini penghinaan. Titik.

Yang lebih menyedihkan adalah tanggapan orang-orang yang gagal menyadari bahwa ini satire. Mereka mengira ini fakta, kemudian membanggakannya. Kenapa bisa begitu?

Salah satu sebabnya adalah kehausan orang-orang Islam terhadap pengakuan. Senang betul mereka bila mendapat pujian. Terlebih bila yang memuji adalah orang-orang non muslim, yang dalam keseharian mereka sebut orang kafir (ingkar). UNESCO ini adalah lembaga yang dipimpin orang kafir. Kalau dipuji oleh UNESCO, tentu mereka sangat bahagia.

Gejala ini sejenis dengan kebanggaan orang-orang soal “kecocokan” antara Quran dan sains. Banyak orang yang dengan bangga mengutip pengakuan para ilmuwan kafir yang mengatakan bahwa Quran itu cocok dengan sains. Tidakkah Anda melihat paradoks di situ?

Orang-orang kafir itu, sesuai ajaran Quran, adalah orang-orang yang harus diwaspadai kata-katanya. Bagaimana Anda yakin bahwa mereka jujur ketika mengatakan itu? Tidakkah Anda curiga bahwa itu dilakukan untuk menyesatkan? Atau jangan-jangan itu adalah olok-olok satire pula.

Begitulah. Bagi saya semua ini hanyalah tanda bahwa memang masih banyak persoalan dalam tubuh umat Islam. Persoalan yang paling pokok adalah soal kemampuan menggunakan nalar.

Sumber : qureta.com

Tags: , , ,

No Comments

    Leave a reply