Seruan Jihad Intelektual

Jihad secara generik adalah pengarahan upaya dan daya dalam medan perang.

Akan tetapi, yang telah melekat kuat di benak masyarakat pada umumnya diplesetkan ke arah Holy War yaitu yang bermakna secara fisikal (“perang suci atas nama agama”) yang lebih menekankan atau berkonotasi secara fisik. Akibat dari pemahaman dan penafsiran jhad secara fisikal dapat menimbulkan perpecahan antar umat beragama karenanya bermakna dangkal.

Kata jihad yang tadinya bersifat profan dan relatif an sich, kini mulai diperlakukan teks yang sakral, absolut, dan tidak dapat dirubah. Padahal, “semua itu tidak bisa dikatakan berakar dari spirit jihad..,” kritik Zianuddin Sardar dalam karyanya magnum opus-nya, The Others Jihad: Muslim Intelellectuals and Their Responsiilities, (1995).

Sardar benar, jihad jangan ditafsirkan secara fisikal melulu. Karena, jika penafsirannya demikian dilanggengkan, akhirnya mengalami proeses-proses yang saya sebut “sakralisasi teks”, maka yang akan terjadi adalah pola pikir umat pun akhirnya berwatak dikotomis : muslim vs non muslim, Islam vs kristen dan Yahudi.

Apabila slogan ”Jihad” diserukan untuk menanggapi tragedi Ambon, maka yang akan membara di permukaan adalah “perang suci umat islam vs Kristen”. Komunitas muslim akan menganggap umat Kristen sebagai common enemy, demikian sebaliknya umat Kristen akan mengaggap umat Islam sebagai common enemy too. Jika pemahaman seperti ini terjadi, maka akan menimbulkan sentimen keagamaan merabah kemana-mana. Dampak dari Holy War sangat terasa secara teologis dapat merusak rintisan dialog teologis antarumat beragama, secara psikologis akan mengusik ketenangan jiwa rohani kita, dan secara sosiologis dapat merusak suasana kehidupan beragama di tengah kemajemukan atau pluralitas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Untuk itu, jihad harus ditafsirkan genuine dan authentic, sehingga meciptakan keramahan, kedamaian, dan toleransi atau di masa globalisasi jihad intelektual.

Menekankan pada nilai-nilai keadilan, dan kebaikan. Hakikat jihad yang sebenarnya seperti dalam firman Allah :
والذين جاهدوافينالنهدينهم سبلنا وان الله لمع المسلمين

“Dan mereka yang berjihad di jalanKami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami, dan sesungguhnya Tuhan bersama merekan yang berbuat kebaikan”. (QS. Al-Ankabut :69)

Maka dari itu, jika ada seruan jihad, merupakan seruan untuk melakukan perlawanan terhadap diskriminasi antargolongan, penindasan, ancaman dan penistaan. Inilah yang harus ditanamkan dalam diri, bahwa sebagai umat Islam harus mampu memberantas ketidakadilan melalui jihad intelektual.

Tanpa harus memandang pelakunya Islam atau bukan, karena yang menjadi tujuan utama adalah menegakkan keadilan dalam jihad intelektual. Karena, pluralisme SARA merupakan sunatullah, maka apabila terjadi sebuah perbedaan dan perselisihan, teknis pemecahan masalah melalui komunikasi dan dialog secara intelektual.

Seperti kata Rasulullah, “tinta seorang sarjana lebih mulia ketimbang darah seorang martir (syuhada)”. Berarti, “jihad intelektual lebih mulia ketimbang jihad fisikal seperti Holy War”

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply