SMARTPHONE DAN KESEHATAN MENTAL KITA

Siang itu, saat sedang duduk di salah satu sudut kampus. Seperti biasanya, sudut itu selalu ramai ketika masuk jam istirahat kuliah. Dalam keramaian dan waktu senggang itu, hampir pasti didapatkan pemandangan orang-orang sedang menunduk, asik menggenggam dan memandangi smartphone-nya masing-masing.

Pemandangan serupa saya rasa sangat sering dijumpai dimanapun saat ini. Saat sedang ingin menyantap makanan, tangan kanan kita menyendok makanan, tangan kiri kita sedang menggenggam smartphone untuk membalas pesan-pesan yang masuk.

Saat sedang mengendarai kendaraan, jari jemari kita selalu tergoda untuk memainkan smartphone. Bahkan saat sedang berjalanpun kita begitu multitasking untuk berjalan dan sambil menundukan kepala kita ke smartphone.

Yang paling parah tentunya saat sedang berkumpul dengan orang-orang di sekitar kita, seharusnya kita menghabiskan waktu dengan berinteraksi dan mengobrol, justru kita selalu sibuk sendiri mengurusi smartphone kita. Saat ini orang-orang telah diperbudak dengan smartphonenya, Seringkali teman yang sedang mengajak bicara kita respon namun mata kita tetap asik memandangi smartphone.

Pengguna Smartphone saat ini tidak bisa terlepas atau jauh dari Smartphonenya. Orang-orang yang Smartphonenya mati atau tertinggal akan merasa cemas dan was-was selain itu juga akan merasa kesal saat ada masalah yang penting atau darurat kemudian smartphonenya mati.

Ketergantungan akan smartphone sangat mengancam kesehatan mental kita, permasalahan kesehatan mental beberapa tahun belakang menjadi kajian yang cukup serius bagi tenaga kesehatan. Begitu juga dengan perkembangan smartphone dan kaitannya dengan kesehatan mental. Ketergantungan terhadap smartphone berpotensi membuat seseorang beresiko mengalami depresi, kesulitan tidur, dan mempengaruhi kesehatan mentalnya.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa semakin sering remaja menghabiskan waktunya di depan gadget, maka semakin tinggi kemungkinan mereka untuk mengalami depresi (Twenge, Joiner, Rogers & Martin, 2017). Bahkan, hal tersebut juga berhubungan dengan angka bunuh diri yang meningkat.

Aktifitas kita pada media sosial juga menjadi kegiatan yang sangat sering dilakukan dalam penggunaan smartphone. Kecanduan bermain media sosial telah menghabiskan banyak waktu kita di depan layar smartphone, membuat otak kelelahan, dan menurunkan kesehatan mental.

Media sosial dengan 53 juta pengguna di Indonesia yaitu Instagram menempati urutan pertama sebagai media sosial paling berdampak buruk terhadap kesehatan mental.

Belum lama, lembaga asal Inggris, Royal Society for Public Health (RSPH), merilis laporan survei mengenai efek media sosial terhadap kondisi kejiwaan anak-anak muda usia 14-24 tahun bertajuk #StatusOfMind. Dari 1.479 responden asal Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara ditemukan opini mayoritas bahwa Instagram merupakan media sosial yang paling buruk dampaknya bagi kesehatan mental.

Kecemasan akan ketinggalan tren atau isu-isu yang tengah marak diperbincangkan juga menjadi salah satu dampak buruk Instagram ataupun media sosial lainnya. Hal ini dikenal dengan FOMO alias fear of missing out.

FoMo merupakan kecemasan seseorang karena takut ketinggalan suatu momen di media sosialnya. Waktu yang banyak dihabiskan ini mengakibatkan timbulnya penggunaan media sosial yang berlebihan dan berkepanjangan dalam hidup manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali saya menemukan teman-teman saya yang mengalami kecanduan dalam menggunakan smartphonenya, khususnya ketergantungan dalam menggunakan media sosial. Gejala-gejala yang dialami persis sepeti yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, mereka mengalami kecemasan akan ketinggalan suatu momen jika tidak membuka media sosialnya, merasa depresi dan mempengaruhi interaksi mereka dalam sehari-hari.

Upaya-upaya yang dapat kita lakukan menurut saya pertama yaitu melakukan digital detox. Digital detox adalah periode waktu di mana seseorang menahan diri untuk tidak menggunakan perangkat elektronik seperti ponsel cerdas atau komputer, untuk mengurangi stres atau fokus pada interaksi sosial di dunia.

Kita dapat melakukannya secara bertahap, misalnya menerapkan aturan atau batasan dalam menggunakan smartphone, membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita bisa pergi 15 menit tanpa mengecek smartphone.

Seiring berjalannya waktu, tingkatkan lamanya waktu tanpa mengecek smartphone hingga kita terbiasa untuk tidak terlalu sering mengecek smartphone kita.

Kedua yaitu bijaklah dalam menggunakan smartphone. Smartphone tak selalu membawa dampak buruk tentunya. Banyak sekali sebenarnya manfaat yang dapat kita dapat jika kita bijak dalam menggunakan smartphone.

Dalam meningkatkan kesehatan mental misalnya, ada aplikasi-aplikasi yang telah dirancang dalam rangka meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Kita dapat melakukan cara ini untuk meningkatkan kesehatan mental kita.

Aplikasi-aplikasi tersebut misalnya Riliv, Operation Reach Out, Self-help Anxiety Management, What’s Up?, Pacifica, Depression CBT, Mindshift, dan Mood Tools.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, kita yang mengendalikan smartphone atau smartphone yang mengendalikan kita ? pilihannya ada di diri kita masing-masing. Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip kalimat dari video insipiratif dan sangat ‘menyentil’ dari Gary Turk berjudul Look Up yang menggambarkan kehidupan generasi digital saat ini.

“We are a generation of idiots, smart phones and dumb people.

So look up from your phone, shut down that display,

take in your surroundings, and make the most of today.

Just one real connection is all it can take, to show you the difference that being there can make.“

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply