Stop Kekerasan Berjubah Agama!

Sebenarnya bukanlah barang baru, kekerasan berjubah agama sepanjang sejarah kehidupan umat beragama. Agama acapkali dijadikan alat legitimasi untuk mengesahkan kekerasan yang dilakukan. Baik dalam eskalasi yang cukup besar, maupun kecil.

Sebagaimana pernah dikutip oleh Abd. A’la dalam bukunya, Melampaui Diaolog Agama, 2002:16), kekerasan-kerasan berjubah agama dapat dijumpai dalam setiap agama, baik secara implicit, maiupun ekspilisit. Misalnya dalam agama Yahudi, kita mengenal tokoh yang bernama Shlomo Goren, mantan pimpinan Rabbi untuk kelompomk  Yahudi Eropa Barat di Israel yang mengeluarkan fatwa (1984), bahwa melakukan pembunuhan terhadap Yasser Arafat merupakan tugas suci keagamaan.

Demikian pula dalam Kristen, sejak awal dekade sembilan puluhan kita menyaksikan, bagaimana penguasa Serbia yang didukung Gereja Ortodoks membumihanguskan masjid-masjid di Sarajevo menjadi lautan darah.

Dalam Islam sendiri, kita dapat melacak dan menemukan gerakan-gerakan radikalisme dan terorisme dengan beraneka ragam bentuknya. Seperti Al-Qaidah, Hezballah dan lain-lain yang bertanggung jawab atas serangan gedung WTC di Amerika Serikat dan bertanggung jawab atas pengerahan truk-truk bom maut yang menghancurkan markas besar pasukan Amerika Serikat, Inggris dan Perancis di Beirut.

Sedangkan di Indonesia juga terdapat gerakan-gerakan kekerasan berjubah agama. Seperti gerakan teroris pimpinan Amrozi yang bertanggung jawab atas tragedi bom Bali. Dan masih banyak gerakan-gerakan radikal lainnya yang digerakkan oleh semacam motivasi keagamaan.

Seperti halnya kekerasan yang terjadi baru-baru ini di Yogyakarta dan masih hangat diperbincangkan sampai hari ini oleh para aktivis dan pegiat toleransi di Indonesia. Sebagaimana banyak diperbincangkan oleh publik kita, bahwa pada hari Minggu (11/2) terjadi penyerangan oleh seorang pria bersenjata tajam terhadap kegiatan umat beragama, sekitar pukul 07.30 wib di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta.

Saat teror sedang terjadi, jemaat di Gereja tersebut sedang mengikuti kegiatan ibadah Misa pagi. Pelaku kemudian berhasil diamankan polisi setelah sempat melawan saat hendak dihentikan aksinya. Akibatnya, tiga umat , satu orang Romo dan satu anggota polisi mengalami luka akibat sabetan pedang (CNN Indonesia, 11/2).

Sebelum berbicara banyak tentang aksi-aksi kekerasan berjubah agama, idzinkan saya menyampaikan kepada pembaca, bahwa tulisan ini tidak hendak membahas kekerasan-kekerasan dalam semua agama, melainkan ingin fokus terhadap kekerasan yang terjadi dalam agama Islam. Khususnya tragedi penyerangan Gereja St Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta, yang dilakukan oleh oknum umat Islam.

Karena untuk berbicara kekerasan atas nama agama di luar Islam, saya tidak memiliki kapasitas intelektual yang cukup mapan serta miskin pengetahuan tentang agama-agama di luar Islam. Juga untuk menghindarkan diri saya dari subjektifitas pembahasan dan penilaian mengenai agama-agama di luar Islam.

Dengan memfokuskan tulisan ini pada aksi-aksi kekerasan berjubaha agama (baca: Islam), bukan berarti saya memiliki kapasitas mumpuni dan memiliki profesionalisme dalam membahas perihal ke-Islaman, apalagi menyangkut ke-Islaman orang lain, tidak. Juga tidak menjamin, bahwa pembahasan saya tentang kekerasan-kekerasan dalam Islam akan terhindar dari kesalahan-kesalahan. Karena kebenaran yang mutlak dan hakiki (absolut) itu hanya milik Allah SWT.

Tetapi meski pun demikian, saya tetap merasa mempunyai kewajiban untuk berbicara lantang tentang pentingnya menghentikan kekerasan berjubah agama (baca: Islam), sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan saya terhadap Islam. Sederhananya, sebagai lahan dan media dakwah saya dalam melakukan “amar makruf dan nahi mungkar”, dalam konteks ini, melawan kekerasan berjubah agama dan mendakwahkan agama yang santun dan damai.

Baik, sekarang kita kembali pada konteks pembahasan. Sebagaimana dilansir Tribun news.com, bahwa pelaku penyerangan Gereja di Sleman tersebut berasal dari Banyuawangi.

Dia beberapa kali sempat pindah dari pondok pesantren yang satu ke pondok pesantren yang lain, dikarenakan paham ke-Islaman yang diajarkan di pesantrennya tidak sepaham dengan apa yang dia pahami selama ini. Salah satunya Pondok Pesantren Ibnu Sina, Genteng, Banyuawangi yang diasuh oleh KH. Maskur Ali, Ketua PCNU Banyuwangi.

Sebagaimana kita mafhum, bahwa Pondok Pesantren (NU) mengajarkan paham ke-Islaman yang moderat dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antar golongan, madzhab dan agama. Karena kesantunan dan perdamaian yang menjadi orientasi dakwahnya, sebagai manifestasi dari “Islam rahmatan lil alamin.”

Saya yakin, ketidak sepahaman pelaku penyerangan Gereja di Yogyakarta tersebut dikarenakan dia mempunyai paham ke-Islaman yang radikal. Buktinya, dia berhenti dari beberapa pesantren yang mengajarkan paham ke-Islaman yang moderat. Dan ketika disuruh pulang oleh orang tuanya ke Banyuawangi agar segera menikah, dia menolaknya dan bilang, jika dia menikah, hanya akan menikah dengan Bidadari.

Kronologi sejak dia berpindah-pindah pondok pesantren karena alasan ketidaksamaan paham, niatnya yang hendak menikahi Bidadari hingga penyerangan yang dilakukannya terhadap Gereja St Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta, semakin memperkuat keyakinan saya, bahwa penyerangan tersebut bermotifkan (semangat) keagamaan.

Tentu niat menikahi Bidadari itu sah-sah saja. Dan siapapun berhak bercita-cita atau berimajinasi menikahinya tanpa ada yang bisa melarangnya. Tapi caranya tidak begitu juga. Ingin masuk Surga, kemudian menikahi Bidadari di sana, tapi kok dengan cara kekerasan. Menyerang Gereja dan melukai jemaatnya. Apa pantas dia mendapatkan Surga, lalu meminang Bidadari? Ah, tidak. Surga dan Bidadari itu tidak semurah itu.

Ia tidak dihadiahkan untuk orang-orang yang keji, lagi tidak manusiawi. Ingat itu! Carilah dalam literatur ke-iIslaman mana pun, tidak akan ditemukan satu pun literatur ke-Islaman yang membenarkan aksi kekerasan terhadap umat di luar Islam atas dalih apapun, apalagi atas nama agama.

Dalam literatur ke-Islaman kita, umat di luar Islam yang tinggal di wilayah negara Islam (darul Islam) itu disebut “kafir dzimmi”. Meskipun mereka bukan muslim, tapi wajib dilindungi dengan syarat mau berdamai dengan Islam dan mau membayar Jizyah. Apalagi Indonesia bukan negara Islam (secara formal), lantas apa haknya mengurus apalgi menghakimi umat agama yang lain? inilah yang disebut manusia yang sok menjadi Tuhan atau minimal wakil Tuhan.

Itulah hakikat Islam, sangat menghargai dan menghormati umat di luar dirinya. Tidak seperti apa yang telah dilakukan oleh pelaku penyerangan Gereja di Sleman, Yogyakarta tersebut. Karena bagi Islam, sejatinya nilai-nilai kemanusiaan (humanisme) itu berada di atas agama manapun, termasuk Islam. Harga kemanusiaan lebih mahal dari pada harga agama manapun.

Jelas, aksi penyerangan tersebut merupakan aksi yang merusak tatanan kemanusiaan yang begitu mulia di hadapan agama manapun, termasuk Islam. Dan tindakan tersebut lebih kejam dari tindakan binatang manapun.

Sebab kata Erich From (2000), binatang menunjukkan perilaku agresif hanya dalam bentuk defensif, yaitu jika kepentingan hatinya mulai terancam. Tujuannya bukan untuk menghancurkan, melainkan sekedar menjaga keberlansungan hidupnya.

Berbeda dengan yang namanya manusia, kekejaman termasuk kekerasan yang dilakukan adalah untuk menghancurkan dan menguasai yang lain. Dan dia merasa puas dan paling benar atas kekerasan yang telah dilakukan.

Dalam konteks ini, benar apa yang dikatakan oleh Thomas Hubbes, “Homo Homoni Lupus” (manusia adalah serigala bagi manusia yang lain). bahkan saya berpandangan, pelaku penyerangan Gereja tersebut lebih buas dan lebih kejam dari pada Serigala itu sendiri.

Sebenarnya ada banyak faktor sebenarnya dalam tindak kekerasan berjubah agama (radikalisme agama). Diantaranya, adanya fenomena klaim kebenaran absolute (absolute truth-claims). Yaitu setiap pemeluk agama mengklaim bahwa, agamanyalah yang paling benar dan yang lain salah dan sesat.

Kemudian klaim ini melahirkan keyakianan yang biasa disebut “doktrin keselamatan” (doctrine of salvation), bahwa keselamatan atau pencerahan  (enlightenment) atau surga merupakan hak pengikut agama tertentu, sedangkan pemeluk agama lain akan celaka dan masuk Surga.

Sehingga lahirlah suatu keyakinan, bahwa darah mereka (umat di luar agamanya) halal dan yang membunuhnya akan mendapatkan pahala dan masuk Surga yang dipenuhi para Bidadari (lihat Pendahuluan dalam buku Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, 2005:1)

Juga yang menjadi faktor adalah pemahaman keagamaan yang fundamental. Mereka cenderung memahami teks-teks keagamaan secara parsial dan literal. Sehingga acapkali terjebak pada pemahaman keagamaan yang sempit dan tidak mampu melakukan kontekstualisasi pemahaman keagamaan (baca: ke-Islaman) dalam kehidupan nyata (Abd. A’la, 20012).

Terminologi yang acapkali disalah pahami dalam Islam adalah “jihad”. Konsep jihad sebatas dipahami secara literal tanpa mau mencoba membuka dan memahami makna yang ada di balik teks. Sehingga mereka (umat Islam) menghasilkan makna dan pemahaman yang sempit atas terminologi jihad.

Sebagaimana lazim dipahami oleh banyak kalangan, bahwa jihad berarti melakukan tindak kekerasan dan berperang melawan umat di luar Islam, yang mereka klaim sebagai orang-orang kafir. Ditambah keyakinan, siapapun dari umat Islam yang mampu melakukannya akan bernilai ibadah dan akan mendapatkan pahala dan Surga yang di dalamnya disesaki Bidadari-Bidadari cantik.

padahal pada hakikatnya, makna jihad yang hakiki itu bukanlah demikian, meski tidak dapat dipungkiri bahwa, ada beraneka ragam makna jihad yang berkembang dalam dunia Islam. Tetapi saya lebih tertarik pada makna jihad yang didefinisikan oleh Muhammad Sa’id al-Asymawi.

Menurut beliau, secara etimologis, jihad berarti sesuatu yang sudah diarahkan  pada tujuan yang telah ditentukan. Dan kemudian makna ini bisa diperluas, menjadi menumpahkan  segala potensidan kemampuan secara maksimal untuk suatu pekerjaan.

Untuk lebih memperjelas makna “jihad” di hadapan para pembaca, saya akan mencoba mengemabalikan ingatan anda pada suatu peristiwa penting pada tahun 624, yakni perang Badar yang terjadi antara umat Islam Madinah dengan kaum pagan Mekkah.

Seusai perang, Nabi mengingatkan para sahabat, bahwa perang yang mereka lakukan merupakan perang untuk mempertahankan diri seiring dengan semakin kuatnya tekanan yang baru mereka dapatkan. Kemudian Nabi Muhammad bersabda pada saat itu juga: “kita kembali dari jihad kecil menuju jihad akbar (besar). Kemudian, ada salah seorang bertanya pada Nabi, “jihad apa itu wahai Nabi? Nabi menjawab: yaitu jihad melawan hawa nafsu (diri sendiri).

Sabda Nabi tersebut merupakan peringatan terus menerus kepada para sahabatnya, bahwa makna jihad harus dikembalikan pada artinya sebagai panggilan moral dan spiritual, yakni menuntut kerja keras yang terus menerus untuk meningkatkan kualitas diri dalam melawan kesombongan, nafsu, kelemahan dan ketakutan.

Sedangkan “perang fisik” menjadi sesuatu yang sekunder dalam makna jihad. Makna jihad sebagai perang fisik hanya dapat digunakan pada saat-saat emergency (Hasan Basri dan Veri Verdiansyah, 2004).

Penyebab lain terjadinya aksi kekerasan berjubah agama adalah adanya kecurigaan terhadap agama lain (di luar Islam). Sikap curiga ini kemudian melahirkan tuduhan, bahwa umat agama lain telah melakukan kecurangan dalam menyebarkan misi agamanya.

Kecurigaan yang tidak beralasan inilah yang kemudian menjadi alasan bagi orang-orang yang menaruh curiga untuk menanggapinya secara reaksioner, yang kemudian mengarah pada bentuk kekerasan dan semacamnya. Dalam kondisi yang penuh kecurigaan ini, suatu kelompok radikal akan melihat segala persoalan  yang berkaitan dengan umat dari agama lain dalam perspektif teologi eksklusif (Abd. A’la, 2002).

Ini ditunjukkan antara lain dengan menawarkan pandangan keagamaan yang serba sempit, fanatik dan tidak toleran. Fundamentalisme di sini hanya memahami agama sebagai deretan diktum-diktum mati dan kaku serta simplistik, dan sebagai larangan-larangan tidak rasional, tanpa memberi peluang untuk adanya pertanyaan dan “penanyaan”.

Obsesi kaum fundamentalis di sana adalah memaksa orang lain mengikuti kelompok mereka. Rekruitmen anggota baru dilakukan melalui usaha-usaha cuci otak dan deprogramming, untuk menghasilkan mindset yang tegar dan taat secara mutlak tanpa sikap kritis. Mereka tidak tertarik pada usaha jujur dan sejati untuk mencari makna hidup (Fathi Osman, 2012).

Maka dari itu, stop kekerasan berjubah agama! Karena agama itu sakral nan suci, maka tidak boleh, satu pun tindak kekerasan dan aksi-aksi radikal lainnya yang mengatasnamakan agama. Haram hukumnya melakukan desakralisasi terhadap agama apapun bentuknya, apalagi dengan melakukan aksi kekerasan dan menjadikan agama sebagi legitimasi  atas tindakan kekejiaannya tersebut.

Terutama di Indonesia, negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan konsisten  merawat nilai-nilai pluralisme, guna mewujudkan “baldatun toyyibatun warabbun ghafur” dalam bingkai Pancasila.

Sudah menjadi tugas bersama setiap komponen umat dan bangsa(tokoh masyarakat, pemuka agama, intelektual dan cendikiawan) untuk menghentikan gerakan-gerakan radikal (kekerasan) berjubah agama dengan mengkampanyekan wajah Islam yang santun dan damai. Karena Islam sejatinya adalah agama yang “rahmatan lil alamin” (rahmat bagi seluruh alam).

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply