Tafsir Al-Quran Isyari Ala Ibnu Arabi

Membaca kitab al-Futuhat al-Makkiyah karya Ibnu Arabi merupakan pekerjaan yang cukup menantang. Untuk memahami kitab ini diperlukan rasa spiritual yang kuat selain harus mengetahui terlebih dahulu beberapa tradisi kebatinan yang diwariskan oleh Syiah Ismailiyyah dan filsafat Yunani di masa kemundurannya: neoplatonisme dan hermetisme.

Ibnu Arabi merupakan sosok sufi yang banyak dibentuk dan dibesarkan oleh tradisi kesufian Ibnu Masarrah al-Bathini. Di Maroko, Ibnu Arabi belajar di Fes dan bertemu dengan gurunya Abu Madin di Bijayah, salah satu wilayah di al-Jazair. Di wilayah timur Islam, Ibnu Arabi menghabiskan separuh hidupnya untuk belajar dan bolak balik di beberapa wilayah tersebut. Di wilayah ini, Ibnu Arabi mendapatkan kesempatan yang begitu luas untuk menelaah karya-karya kebatinan sufi, terutama Syiah Ismailiyyah, dan mungkin juga mempelajari secara langsung karya-karya Hermes.

Selain itu, Ibnu Arabi memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh sufi di Andalusia, Maroko dan di wilayah timur Islam. Beliau banyak bergaul dengan mereka dan sering melakukan diskusi-diskusi kebatinan. Lebih menariknya lagi, Ibnu Arabi memiliki kepakaran dalam berbagai bidang pengetahuan keislaman seperti fikih, kalam, nahwu, balaghah, hadis dan tafsir. Pandangan-pandangannya, terutama dalam fikih dan kalam, banyak dipengaruhi oleh tradisi zahiriyyah di Andalusia yang semuanya itu berada di bawah bayang-bayang pengaruh Ibnu Hazm.

Menariknya, selain beraliran kebathinan yang cukup mendalam dalam tasawufnya, Ibnu Arabi dalam hal-hal yang berkaitan dengan syariat sangatlah terpengaruh oleh aliran zhahiriyyah-nya Ibnu Hazm.

Dalam menulis kitab al-Futuhat al-Makkkiyyah, Ibnu Arabi tidak terlalu memperhatikan kohesi dan koherensi gagasan-gagasan sufistiknya sehingga jika kita baca kitabnya ini terkesan adanya ketidakutuhan dalam bahasan-bahasannya. Inilah karakteristik tulisan-tulisan Ibnu Arabi dan memang beliau mengakui demikian. Ini terjadi, kata Ibnu Arabi, bukan karena kehendak dan pilihannya namun karena ilham. Jadi ilham inilah yang menjadikan gaya penulisan Ibnu Arabi tidak utuh dan tercecer di berbagai bagian dalam kitabnya tersebut. Bagi Ibnu Arabi, Inkoherensi dan ketidaksistematisan merupakan ciri yang cukup melekat dalam tulisan-tulisan mengenai dunia spiritual.

Salah satu tujuan dari gaya penulisan yang inkoheren dan tidak sistematis ini ialah agar hanya dapat dibaca melalui pendekatan ilham, dan terlebih agar terhindar dari kecaman ahli fikih yang dalam pengalaman keagamaannya lebih banyak menekankan aspek lahir.

اعلم أن الله عز وجل لما خلق الخلق خلق الإنسان أطوارا: فمنا العالم والجاهل، ومنا المنصف والمعاند، ومنا القاهر ومنا المقهور، ومنا الحاكم ومنا المحكوم، ومنا المتحكم ومنا المتحكم فيه…وما خلق الله أشق ولا أشد من علماء الرسوم على أهل الله المختصين بخدمته العارفين به من طريق الوهب الإلهي الذي منحهم أسراره في خلقه، وفهمهم معاني كتابه وإشارات خطابه، فهم لهذه الطائفة مثل الفراعنة للرسل عليهم السلام.

“Ketahuilah bahwa ketika menciptakan alam semesta, Allah SWT menciptakan manusia dalam bertingkat-tingkat: ada yang alim dan ada yang jahil, ada yang taat dan ada yang membangkang, ada yang memaksa dan ada yang dipaksa, ada yang berkuasa dan ada yang dikuasai, ada yang memerintah dan ada yang diperintah…Allah tidak menciptakan manusia yang lebih kasar dan lebih kejam terhadap Ahli Allah -yang selalu melayani-Nya, yang tahu betul tentang diri-Nya, yang selalu dikaruniai rahasia-rahasia-Nya dan yang amat paham terhadap makna kitab-Nya dan isyarat-isyarat pesan-Nya- daripada ahli fikih. Sikap mereka (ahli fikih) terhadap ahli Allah ini sama seperti sikap Fir’aun terhadap para rasul-Nya.  ”

Ahli fikih atau ahli rusum oleh Ibnu Arabi dianggap sebagai Fir’aun, karena mereka selalu menyerang kaum sufi. Serangan ahli fikih terhadap mereka bisa dikatakan serangan yang cukup mengkhawatirkan, bahkan akan mengganggu eksistensi mereka. Kaum sufi di awal kemunculannya selalu menjadi objek kecaman ahli fikih dan ahli hadis. Mereka ini yang disebut Ibnu Arabi sebagai ahli rusum karena tidak mampu memahami kedalaman makna ayat-ayat Allah SWT. Ibnu Arabi lebih jauh menjelaskan:

Baca Juga :  Ini Ciri-ciri Ulama Su’ Menurut Imam Ghazali

ولما كان الأمر…كما ذكرناه عدل أصحابنا إلى الإشارات…فكلامهم رضي الله عنهم في شرح كتابه العزيز إشارات، وإن كان ذلك حقيقة وتفسيرا لمعانيه النافعة، ورد ذلك كله إلى نفوسهم، مع تقريرهم إياه في العموم وفيما نزل فيه كما يعلمه أهل اللسان الذين نزل ذلك الكتاب بلسانهم، فعم به سبحانه وتعالى عندهم الوجهتين: الباطن والظاهر.

“Karena menghadapi kecaman dari mereka, banyak kawan-kawan kita (maksudnya kaum sufi) yang menggunakan bahasa-bahasa simbolik (isyarat) dalam menuliskan karya mereka…penafsiran mereka terhadap al-Quran diperoleh dari isyarat-isyarat ilahi dan tafsir tersebut sangat mewakili kebenaran makna yang dikandungnya…isyarat-isyarat tersebut muncul dari kondisi jiwa mereka..kendati mereka memahami hakikat makna ayat yang sebenarnya, mereka tetap menegaskan makna lahir  pada umumnya seperti yang dikenal oleh masyarakat yang menerima pertama kali pesan ayat tersebut..karena itu, Allah SWT mengajarkan kepada mereka dua makna ayat secara sekaligus: makna lahir dan makna bathin.”

Berdasarkan kerangka makna lahir dan makna batin ayat-ayat Alquran ini, Ibnu Arabi kemudian mengutip Surat Fusshilat ayat 53 dan langsung mengalihkan maknanya kepada kaum sufi (Ibnu Arabi mengistilahkannya sebagai keluarganya Allah, Ahlulllah) dimana Allah mengajarkan kepada mereka makna lahir ayat yang bisa dipahami oleh semua manusia dari kalangan awam dan mengajarkan makna batin ayat yang hanya untuk kaum sufi saja, makna yang dikaruniakan oleh Allah dalam diri mereka.

Makna batin ini yang dibukakan untuk ahli Allah dalam pandangan Ibnu Arabi merupakan kebenaran yang sebenarnya, namun kebenaran yang diperoleh ini tidak boleh disebar dan diartikulasikan secara eksplisit. Kebenaran yang didapat harus diartikulasikan dalam bentuk isyarat-isyarat atau simbol-simbol dulu. Itulah yang dilakukan oleh Ahli Allah agar terhindar dari kecaman ahli fikih dan ahli hadis, kalangan yang sering disebut Ibnu Arabi sebagai ahli rusum, kalangan yang lebih mementingkan formalitas ritual.

Sumber : bincangsyariah.com

No Comments

    Leave a reply