Tauhid dan Trinitas Memang Bertentangan

Ada seorang pria bernama Mun’im Sirry. Tinggal di Amerika, mengajar di Universitas Notre Dame, dan orang-orang mengenal dia sebagai sosok yang cerdas, tampan, dermawan, dan rajin menelurkan gagasan-gagasan yang mampu memporak-porandakan iman.

Tak ada yang bisa menolak bahwa sosok Mun’im adalah sosok yang satu. Ketika saya memperkenalkan Mun’im dengan sejumlah atribut di atas, orang yang bernama Mun’im itu sendiri pribadinya hanya ada satu. Tapi, pribadi yang satu itu memiliki sekian banyak sifat, di antaranya seperti yang saya sebutkan tadi; cerdas, tampan, dermawan dan rajin.

Pertanyaannya: Apakah sifat-sifat itu mempengaruhi kesatuan Mun’im? Tentu saja tidak. Berapapun banyaknya sifat yang dimiliki Mun’im, pribadi Mun’im tetaplah pribadi yang satu. Dzat Mun’im adalah dzat yang satu. Dan dzat yang satu itu sendiri—dengan seluruh sifat yang dimilikinya—membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan sehingga lahirlah sosok yang kita kenal sebagai Mun’im.

Penting dicatat bahwa sifat-sifat itu tak lebih dari sekedar makna. Kegantengan, kedermawanan, kerajinan, dan sifat-sifat lainnya, itu hanya sekedar makna yang, sekali lagi, tidak mempengaruhi kesatuan dzatnya.

Sekarang kalau ada yang bertanya: sifat Mun’im itu Mun’im atau bukan? Saya rubah pertanyaannya dengan redaksi yang lebih jelas: Tadi dikatakan bahwa dzat Mun’im itu satu, tapi yang satu itu memiliki sekian banyak sifat. Dan sifat-sifat itu sendiri tak lebih dari sekedar makna, yang membentuk satu-kesatuan dengan dzat.

Katakanlah sifat yang dimaksud itu, misalnya, sifat cerdas. Mun’im memiliki sifat cerdas. Pertanyaannya: sifat cerdas itu Mun’im atau bukan? Kalau Anda mengamati maksud dari pertanyaan ini dengan baik, Anda akan berkata bukan. Sifat Mun’im itu bukan Mun’im.

Mengapa? Karena Mun’im bukan hanya cerdas. Kecerdasan itu hanya salah satu saja dari sifat yang dimiliki Mun’im. Adapun Mun’im itu sendiri merupakan dzat, yang memiliki sekian banyak sifat. Keliru kalau Anda menyebut kecerdasan itu sebagai Mun’im. Karena, sekali lagi, kecerdasan itu hanya salah satu sifat yang dimiliki oleh Mun’im, tapi bukan Mun’im itu sendiri.

Adakah yang sulit untuk menerima penjelasan ini? Tidak ada. Semua orang tahu bahwa sifat yang dimiliki oleh seseorang itu bukan orang itu sendiri. Ini satu poin yang perlu dicatat dengan baik.

Sekarang muncul pertanyaan baru: Kalau memang sifat itu bukan Mun’im, lalu apakah dia merupakan sesuatu selain Mun’im? Pahami pertanyaan ini dengan baik. Kalau Anda membaca pertanyaan ini dengan cermat, Anda juga akan berkata bukan. Sifat cerdas itu bukan sesuatu selain Mun’im.

Mengapa? Karena dia berada dalam diri Mun’im. Sesuatu itu bisa dikatakan “selain” bagi sesuatu yang lain kalau keduanya bisa terpisah di alam luar. Misalnya saya dengan Mun’im. Anda bisa saja berkata bahwa saya bukan Mun’im, atau saya selain Mun’im. Mengapa? Karena keberadaan Mun’im tak bergantung pada keberadaan saya, sebagaimana keberadaan saya juga tak bergantung pada keberadaan Mun’im.

Tapi bagaimana dengan sifat yang dimiliki Mun’im? Yang namanya sifat itu pasti tak akan terlepas dari yang namanya dzat. Di mana ada sifat, maka pastilah di sana ada dzat. Apa itu dzat? Dzat adalah sesuatu yang memiliki sifat. Apa sifat? Sifat adalah sesuatu (baca: makna) yang berada dalam dzat.

Karena sifat cerdas itu berada dalam diri Mun’im, maka saya tak bisa berkata bahwa sifat itu “selain” Mun’im. Sifat cerdas itu bukan Mun’im, dari sudut konsepnya—karena makna Mun’im dengan makna cerdas sudah pasti berbeda—tapi dalam saat yang sama dia juga bukan selain Mun’im, kalau dilihat dari sudut wujudnya. Karena sifat cerdas itu sendiri berada dalam diri Mun’im.

Begitulah sebenarnya cara termudah untuk memahami konsep ketuhanan dalam Islam. Tuhan itu Dzat plus sifat. Islam meyakini adanya satu dzat, tapi satu dzat ini diyakini memiliki sekian banyak sifat. Ingat, sekali lagi sifat, bukan dzat. Islam tak meyakini adanya dzat yang berbilang. Dzatnya satu, tapi sifatnya banyak. Dan sifat itu sendiri, seperti yang saya katakan tadi, hanya sekedar makna, yang berapapun banyaknya, tidak akan mempengaruhi keesaan Dzat.

Kalau Anda paham dengan ilustrasi di atas, tak akan sulit bagi Anda untuk memahami pernyataan bahwa Sifat Tuhan itu bukan Tuhan. Karena kalau kita meyakini sifat Tuhan sebagai Tuhan, sementara sifat Tuhan itu banyak, maka konsekuensinya kita akan meyakini Tuhan yang berbilang. Tapi sifat Tuhan juga bukan sesuatu selain Tuhan.

Mengapa? Karena dia berada dalam Dzat Tuhan. Kita bisa mengatakan sifat itu selain Tuhan, kalau memang dia punya wujud sendiri, dan terpisah dari Dzat Tuhan. Dan kita tidak mungkin meyakini itu. Sebab, seperti yang saya katakan tadi, sifat itu senantiasa menyertai dzat. Sebagaimana dzat senantiasa disertai oleh sifat. Keduanya saling terkait satu sama lain. Tak ada yang sulit dengan konsep ketuhanan yang seperti ini.

Namun, dalam salah satu tulisannya, Mun’im mengklaim bahwa konsep ketuhanan Islam itu tak kalah rumit dari konsep ketuhanan Kristen. Kalau Anda perhatikan uraian saya di atas, dengan mengacu pada contoh yang kerap kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, apakah kesulitan itu masih Anda temukan?

Saya masih penasaran: Di mana sebetulnya letak kesulitan itu? Konsep ketuhanan yang seperti itu justru sangat mudah untuk diterima hatta oleh kalangan awam sekalipun.

Tuhan itu Dzat, dan Dzat itu memiliki sifat. Sifat itu bukan Dzat, karena memang makna keduanya berbeda, tapi dalam saat yang sama dia juga bukan selain Dzat, karena dia berada dalam Dzat. Satu Dzat, sifatnya banyak. Apa yang sulit dengan konsep ketuhanan seperti itu?

Konsep ketuhanan yang rumit itu justru konsep ketuhanan Kristen, seperti yang dikatakan Mun’im. Kalau terkait ini saya sangat setuju. Konsep ketuhanan Kristen memang rumit. Mereka percaya pada satu Tuhan. Tapi, Tuhan yang satu itu diyakini memiliki tiga pribadi. Tiga pribadi artinya tiga dzat. Bapak, Anak dan Roh Kudus itu merupakan dzat, bukan sifat.

Jadi, dalam konsep ketuhanan Kristen, yang berbilang itu bukan hanya sifat, tetapi juga berkaitan dengan dzat. Mengapa saya katakan tiga pribadi itu sebagai dzat? Dzat itu sesuatu yang memiliki sifat. Sementara sifat adalah sesuatu yang berada dalam dzat.

Bapak punya sifat? Punya. Anak punya sifat? Punya. Roh kudus punya sifat? Punya. Masing-masing dari mereka disebut sebagai Tuhan? Iya, mereka semua adalah Tuhan. Mereka adalah dzat? Ya, mereka adalah dzat. Jumlahnya ada berapa? Tiga. Jadi Tuhan mereka ada berapa? Mereka akan menjawab satu. Padahal, dzat yang mereka yakini sebagai Tuhan itu sendiri jumlahnya ada tiga.

Bukankah keyakinan seperti ini yang lebih rumit? Dan bukankah itu menunjukan bahwa trinitas itu bertentangan dengan ajaran tauhid? Tauhid meniscayakan adanya kesatuan dzat, sementara trinitas meyakini dzat yang berbilang. Tiga dzat dibilang satu, yang satu dibilang tiga. Mun’im akan bilang: Anda tidak paham Kristen! Coba, saya minta Mun’im untuk menjelaskan itu.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply