Telaah Ahlu Fatrah dalam Al-Qur’an

Ahlu Fatrah

Menurut Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya, fatrah secara bahasa berarti diam, maksudnya adalah diamnya kedatangan rasul, atau tidak adanya rasul. Dalam Lisanul Arab disebutkan fatrah berarti pecah dan lemah. Sedangkan menurut istilah, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya ialah masa antara dua rasul, yaitu putusnya pengutusan rasul antara Nabi Isa A.s. dan Nabi Muhammad Saw.. Adapula pendapat Imam Asy-Syarbini bahwa fatrah adalah masa di antara Nabi Isma’il A.s. dan Nabi Muhammad Saw.. Orang-orang yang hidup di masa itu disebut Ahlul Fatrah.

Ahlu dalam bahasa Arab berarti penduduk, keluarga atau pemilik. Fatrah di sini tidaklah dikhususkan untuk bangsa Arab saja, tetapi berlaku bagi seluruh kaum yang tidak pernah menemui rasul yang diutus sebelum mereka maupun yang datang sesudah mereka. Al-Qur’an secara langsung menyebutkan masa fatrah ini secara umum dalam Surah Al-Ma’idah ayat 19:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “tidak ada datang kepada Kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas bahwa fatrah itu umum, bukan pada masa atau kaum tertentu. Intinya fatrah adalah masa kosongnya pengutusan rasul, baik antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad, ataupun pada masa-masa terdahulu seperti yang pernah terjadi antara masa Nabi Nuh dan Idris a.s.. Ayat di atas ditujukan kepada Ahli Kitab yaitu Yahudi, karena pada saat itu Ahli Kitab di Madinah hanyalah orang-orang Yahudi. Tetapi jika melihat sebab turunnya ayat, maka akan ditemukan bahwa Rasulullah Saw. diutus untuk umat seluruh alam, bukan hanya bangsa Arab.

Namun dalam pembahasan ini mencakup pembahasan fatrah antara Nabi Isa dan Muhammad saja. Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai lamanya fatrah. Ada empat pendapat yang didasari dalil-dalil hadis maupun perkataan tabi’in:

Imam Muqatil, dari Ibnu Abbas r.a. mengatakan masa fatrah antara Nabi Isa dan Muhammad ialah 600 tahun.

Imam Qatadah mengatakan 550 tahun.

Adh-Dhahhak berpendapat 430 tahun lebih.

Ibnu Sa’ad mengatakan 599 tahun, dan di antara Nabi Isa dan Muhammad ada tiga rasul lain dari Bani Isra’il yang diutus oleh Allah Swt.. Namun riwayat ini dianggap sangat lemah oleh para ahli hadis seperti Al-Albani karena terdapat Muhammad bin As-Sa’ib yang terkenal kadzib dan menyelisihi riwayat Al-Bukhori yang shahih.

Di antara pendapat-pendapat di atas yang paling kuat dan penulis pegang ialah pendapat yang pertama. Adapun mengenai bagaimana hukum atau keadaan mereka diakhirat  ada beberapa pendapat, sebelum kita membahas lebih lanjut perlu diketahui bahwa para ulama sepakat bahwa hukum hanya berlaku bagi orang-orang yang sudah mukallaf atau orang yang sudah wajib melaksanakan syariat agama.

Para ulama membagi Ahlul Fatrah menjadi dua bagian. Pertama, golongan orang yang dakwah Islam telah sampai kepada mereka, bagi golongan ini mereka dihukumi sama dengan hukum yang telah ada pada agama Islam pada umumnya. Kedua, golongan yang tidak pernah mendapatkan dakwah Islam, hukum untuk golongan ini terdapat beberapa pendapat, sebagai berikut:

Pertama, selamat dan masuk surga, pendapat ini dipegan oleh kalangan Asy’ariyah, dan ulama-ulama Syafi’iyah. Hal ini didasari banyaknya dalil dari ayat Al-Qur’an, salah satunya adalah ayat 59 Surah Al-Qashash berikut:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

Artinya: “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam Keadaan melakukan kezaliman.

Kedua, masuk neraka, Ini adalah pendapat kaum Mu’tazilah dan mayoritas orang-orang madzhab Hanafiyah Maturidiyah. Mereka berpendapat bahwa Ahlul Fatrah termasuk mukallaf walaupun tidak ada rasul yang diutus kepada mereka. Mereka menghukumi secara akal dan menerapkannya ke dalil-dalil bahwa barangsiapa menyekutukan Allah, maka dia wajib masuk neraka. Contohnya pada ayat:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Artinya: “dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (Q.S. An-Nisa: 18).

Ketiga, diuji pada hari kiamat, pendapat ini mengatakan bahwa di hari akhir nanti Ahlul Fatrah akan diuji oleh Allah dengan api, mereka disuruh masuk ke dalamnya. Barangsiapa yang memasukinya maka dia selamat, dan barangsiapa tidak memasukinya berarti dia akan masuk neraka. Ketentuan masuknya ke dalam api tersebut hanya ada pada ilmu Allah sendiri.

Inilah pendapat yang dipilih oleh para ulama masyhur semacam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beberapa muridnya seperti Ibnul Qayyim dan Ibnu Katsir. Ulama kontemporer seperti Amin Asy-Syinqithi juga berpendapat demikian dalam kitabnya Adhwa’ul Bayan.

Di antara semua pendapat di atas, menurut penulis pendapat yang terkuat ialah pendapat pertama karena kuantitas dan kualitas dalil. Sedangkan pendapat kedua lebih dilandasi secara akal, dan juga terdapat banyak dalil yang menyelisihinya. Begitu pula pendapat ketiga, pendapat ini lebih khusus kepada orang-orang tertentu seperti anak kecil dan orang gila.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply