Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Membuat pembaca hikayat tersenyum bahagia itu mudah, tapi tidak dengan membuatnya bersedih dan menangis kecewa. Agaknya, inilah yang spesial dari dua fiksi karya Hamka, khususnya novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Bagaimana tidak, membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (TKVDW) berarti siap makan hati berulam jantung.

Dengan gaya bahasa yang kental khas melayu, Hamka sebagai pemikir yang memiliki pemahaman mendalam terhadap suatu perkara, banyak menyisipkan pelajaran berharga di dalamnya.

Mungkin bagi yang tidak peka, akan sulit menyadari kritik sosial yang diselipkan Hamka dalam novel tersebut. Kata-kata adat dan suku berungkali disebutkan. Terselip upaya rekonstruksi atas realitas sosial yang terlalu membangga-banggakan adat dan suku, sehingga kerap merendahkan martabat manusia yang berbeda asal, suku dan keturunannya.

Kisah pahit Zainuddin terangkum dari sejak kecil hingga ia dewasa. Dimulai sejak ayahnya yang terbuang dari kampung halaman hingga kematiannya di usia yang masih belia. Tak cukup sampai di sana, Zainudin pun ditinggal mati ibunya ketika ia sedang asik bermain dan masih membutuhkan belaian. Setelah itu, ia masih harus hidup melarat bersama ibu angkatnya di tanah Mengkasar yang selang beberapa saat juga berpisah untuk selama-lamanya.

Puncaknya adalah tragedi yang paling berat, yakni ketika tokoh utama novel ini ditinggal kawin oleh Hayati, wanita harapan penyambung hidupnya. Berat, karena saat dikhianati Hayati ia hidup sebatangkara, tak ada tiang tempat bersandar.

Nampak bagi Zainudin, hanya Hayati harapan tempat persandingan hidupnya. Tapi harapan itu sirna, tenggelam bersama hadirnya sosok Azis yang menjadi suami Hayati kemudian.

Kepiluan hidup Zainuddin sudah bermula sejak ia lahir. Ia tidak lahir di tanah tempat ayahnya dilahirkan. Sejak muda, ayahnya harus meninggalkan Padang, kota kelahirannya. Karena terlibat permasalahan dengan Datuk Mantari Labih, sang ayah dibuang ke Cilacap dan berakhir di Tanah Bugis. Lantas di sanalah ia kawin dengan perempuan Mengkasar berketurunan Melayu.

Bersebab kawin dengan orang yang bukan berdarah Minangkabau, maka status Zainuddin sebagai anak tidak bisa dianggap sebagai orang Padang. Di Mengkasar ia dikira sebagai orang lain, di Padang juga tidak dianggap. Di Mengkasar ia dipandang sebagai orang Padang dan di Padang dipandang sebagai orang Mengkasar. Di sini tidak, di sana bukan.

Yang menarik dari novel ini adalah kecerdasan Hamka dalam menciptakan klimaks cerita. Klimaks dalam novel ini dapa dikatakan majemuk bertingkat. Sesudah terjatuh lalu terinjak paku kemudian tertimpa tangga pula.

Belum pulih kesedihannya karena berpisah dengan Mak Base dari Mengkasar dan ditinggal mati ibu-bapaknya, Zainuddin harus terusir dari Batipuh, tanah kelahirannya. Beberapa saat tinggal di Padang Panjang, ia menerima lagi kabar duka kematian ibu angkatnya, Mak Base.

Saat hidup sebatang kara itulah sosok Hayati, kekasihnya, memberikan nafas pengharapan untuk hidup Zainudin. Bagai pohon yang kekeringan disirami air, ataupun orang yang kehausan di bawah panas terik matahari disuguhi segelas air dingin. Betapa sejuk dan tenteramnya hati Zainuddin.

Namun apa daya, pengharapan kemudian putus jua. Tak disangka, Hayati, wanita yang telah mengucapkan sumpah setia cinta kepadanya, yang selalu menyiratkan cinta tulus dalam wajahnya, yang memercikkan garis-garis kesetiaan di setiap parasnya, kemudian mengkhianati ketulusan Zainuddin.

Gadis yang dicintai Zainudin itu merobohkan bangunan cinta yang dibangunnya dengan darah dan air mata. Cinta yang dibayangkan masih utuh dalam jiwa Hayati seakan sirna. Patah, remuk, hancur berkeping-keping hati Zainuddin ketika menerima surat Hayati yang mengajak untuk menutup semua riwayat masa lalu yang pernah ada, menghapus semua kenangan yang pernah tercipta. Lengkaplah semua penderitaan yang dirasakan Zainuddin.

Berbulan-bulan ia sakit akibat asmara hingga akhirnya ia pindah ke pulau Jawa bersama sahabatnya, Muluk. Tak berapa lama ia tinggal di Batavia, lalu menetap di Surabaya sebagai orang yang masyhur. Hikayat-hikayat yang dikarangnya dimuat di media lalu dibaca oleh banyak orang.

Maklum, karangan-karangan dari seorang yang mengalami langsung duka nestapa, apalagi tentang cinta, memang lebih menggugah hati banyak orang.

Selain mengisahkan duka nestapa seorang Zainuddin, Hamka juga tidak membiarkan teks-teks tersebut sekedar bercerita dan berkhayal belaka. Banyak pelajaran yang dapat diserap dari hikayat ini.

Tampak jelas pada halaman 171-172, hampir dua halaman penuh Hamka menulis yang tidak berkaitan langsung dengan cerita. Akan tetapi, bukan berarti tidak berhubungan sama sekali. Beliau menjelaskan apa yang seharusnya dipahami pembaca di balik cerita secara tekstual atau pokok pikiran yang semestinya menjadi perhatian pembaca.

Dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah (DBLK) juga tidak jauh berbeda. Ada ciri khas tersendiri yang membentuk gaya kepenulisan Hamka.

DLBK menceritakan kisah cinta terpendam antara Hamid dan Zainab yang juga terbawa mati. Sad-ending sepertinya sudah menjadi jiwa pengarang untuk meremukkan hati dan pikiran pembaca agar senantiasa berpikir akan kemungkinan pahit nan getir. Hamka nampak tidak terlena dengan kisah-kisah cinta yang selalu berakhir bahagia seperti film-film yang ditayangkan F*V.

Aku baru membaca novel TKVDW setahun setelah menonton versi filmnya. Ada suatu hal yang amat kusesali ketika membaca novel ini setelah menonton terlebih dahulu versi filmnya.

Versi film membatasi imajinasiku dalam melukiskan kecantikan Hayati dan wajah-wajah pemeran lain seperti Zainuddin, Aziz, Muluk dll. Bersebab film tersebut, kecantikan Hayati hanya sebatas kecantikan pada seorang Pevita Pearce.

Padahal, seandainya aku tidak menonton filmnya terlebih dahulu, aku bisa berimajinasi sesuai seleraku sendiri, yang pastinya jauh lebih cantik dari sosok Pevita Pearce. Begitu juga dengan Zainuddin yang membatasi imajinasiku pada sosok Herjunot Ali, Azis dengan Reza Rahardian, Muluk dengan Randy Nidji. Ah, sungguh menyebalkan!

Aku juga sempat merasakan peperangan batin [(eaaaak)] pada klimaks yang terakhir, ketika Zainuddin “menghajar” Hayati yang meminta hidup berdampingan di dekatnya. Zainudin sampai hati memulangkan Hayati ke negeri yang bersuku, berlembaga yang memiliki peraturan-peraturan adat yang kokoh. Wajar saja, beberapa tahun diabaikan, Hayati baru memintanya hidup berdampingan setelah ditinggal mati Azis.

Tetapi, di sisi yang lain, Hayati adalah satu-satunya sosok yang dikenang, diratap-tangisi hingga ia merasa begitu kehilangan, hatinya hampa. Namun setelah mendapat kesempatan untuk bersatu, ia malah diantarkan pulang ke kampung halaman yang ketat dengan adat itu. Ini adalah moment yang serba salah (hikz).

Apapun itu, penulis telah berhasil meleburkan pembaca –setidaknya aku sendiri—dalam hikayatnya tersebut. Ia berhasil mengelaborasikan kritik sosial dalam sebuah hikayat yang sangat menggugah.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik, mulai dari bagaimana mendudukkan suatu perkara dalam dinamika kehidupan ini, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Bagaimana misalnya memosisikan adat, suku dan keturunan dalam interaksi kemanusiaan.

Kisah pilu yang terangkum sejak Pandekar Sutan diusir dari kampung halamannya, juga sosok Zainuddin yang tidak dianggap sebagai orang Minangkabau sehingga ia disisihkan dalam pergaulan, hingga ditolaknya pinangan Zainuddin terhadap Hayati, semuanya merupakan kritik terhadap kondisi sosial yang berlaku di tanah Minangkabau. Tanah yang beradat dan berlembaga itu.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply