Tentang Jalan yang Lurus

Dalam sistem ajaran Islam, dikatakan bahwa fitrah (potensi dasar) manusia adalah bahwa pada dasarnya ia makhluk Allah yang hanif. Hanif adalah kecenderungan manusia yang selalu berada di atas jalan kebaikan dan kebenaran.

Kecenderungan manusia atas kebaikan dan kebenaran tersebut karena pada hakikatnya manusia itu berasal dari Allah, Sang Kebenaran Absolut (al-Haq al-Mutlaq) dan akan menuju kepada Kebenaran Absolut pula. Manusia itu berasal dari Allah, dan akan kembali pula kepada-Nya (inna lillah wa inna ilaihi raji’un).

Atas dasar Kebenaran Mutlak itulah, manusia melalui akal dan kehendak bebasnya mampu untuk memilah dan memilih jalan hidupnya. Titik awal dan tujuan akhir perjalanan manusia dihubungkan oleh suatu jalan yang disebut dengan jalan lurus (al-shirat al-mustaqim). Setiap saat dalam aktivitas ibadah salat, umat Islam selalu meminta kepada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus atau jalan yang benar.
“Tunjukanlah kepada kami jalan lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.” (al-Fatihah: 6-7)

Dalam ayat tersebut, jalan lurus itu senyatanya telah dicontohkan oleh mereka yang berpegang teguh pada agama Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang secara pribadi mampu menjalankan setiap apa yang Allah perintahkan. Dan mereka itu adalah para Nabi, Rasul, dan orang-orang saleh.
Nabi, Rasul, dan orang-orang saleh adalah mereka yang selalu dibimbing oleh Allah atas apa yang mereka lakukan. Mereka itu memiliki komitmen yang kuat terhadap Allah, dan memiliki harapan yang utuh bahwa gerak kehidupannya akan mengarah kepada Kebenaran Mutlak.

Komitmen atas Kebenaran Mutlak itulah yang menjadikan mereka selalu berada di atas jalan kebenaran. Jalan kebenaran erat kaitannya dengan komitmen awal dan akhir seseorang kepada Kebenaran Mutlak.

Logikanya, tidaklah mungkin seseorang berada di atas jalan kebenaran, sedangkan ia tidak memiliki komitmen awal dan akhir terhadap Kebenaran.

Sebaliknya, saat seseorang menjadikan Kebenaran Mutlak sebagai komitmen awal dan akhir, maka tidaklah mungkin ia berada di atas jalan kesalahan. Karena jalan penghubung antara Kebenaran Awal dan Kebenaran Akhir haruslah kebenaran pula.

Pada nyatanya, jalan kehidupan tidaklah seindah dengan apa yang diharapkan. Walau jalan yang ditempuh terjal dan berliku, asalkan ia masih komitmen kepada kebenaran, maka ia akan menjadi manusia yang istikamah, yaitu konsisten atas apa yang telah menjadi komitmennya. Al-shirat al-mustaqim (jalan lurus) dan istikamah (konsistensi) sangat erat kaitannya. Hanya dengan istikamahlah, seseorang akan terus bertahan di atas jalan kebenaran.

Dalam setiap niat, ucapan, dan tindakannya, manusia yang memiliki komitmen atas kebenaran akan selalu berupaya konsisten dalam melakukan amal saleh (kerja benar). Amal saleh adalah perwujudan nyata dari komitmen seseorang terhadap Kebenaran Mutlak.

Didalam perjalanan kehidupan ini, manusia harus dibimbing oleh Allah. Di situlah nilai-nilai ketauhidan, kemerdekaan, dan keadilan akan menjadi fondasi dasar atas apa yang akan ia perjuangkan.

Jalan yang lurus adalah jalan yang diridai Allah. Itulah Islam, Islam yang secara ideal diartikan sebagai jalan hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai rahmat atas semesta alam: wa ma arsalnaka illa rahmatan lil’alamin.
Siapa saja yang konsisten (istikamah) berada di atas jalan kebenaran (al-shirat al-mustaqim) maka dialah yang berupaya untuk menyempurnakan jiwa demi mencapai kebahagiaan di dunia dan di hari pembalasan.

Kebahagiaan yang dimaksud di atas oleh Ibn Sina tidak diartikan sebagai kenikmatan dalam persepsi jasmaniyah, melainkan suatu kondisi kejiwaan yang berada dalam keadaan yang murni, stabil, tenang, dan penuh dengan kenyamanan.

Dari itu, teguhkanlah hidupmu di atas jalan yang lurus, dengan melakukan serangkaian amal saleh, supaya kelak kamu termasuk orang-orang yang terpanggil: wahai jiwa-jiwa yang tenang, pulangkah engkau kepada Tuhanmu dengan penuh keikhlasan dan masuklah ke dalam surga-Nya.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply