Tidak Ada Kekerasan Atas Nama Agama

No man should be harassed for his opinions nor troubled in the practice of his religion. ~ Rabaut Saint Etienne

Tanggal 3-5 Februari 2019 merupakan hari-hari bersejarah yang menyita perhatian banyak pasang mata di seluruh dunia. Pada saat itu, terjadi perjumpaan antara Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb yang memenuhi undangan dari Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Zayed al-Nahyan di Abu Dhabi.

Tidak hanya dialog dan perjumpaan, pertemuan ini juga diisi dengan penandatanganan dokumen tentang persaudaraan manusia untuk perdamaian dan hidup bersama, sebuah dokumen berharga tentang bagaimana manusia yang berbeda-beda mesti hidup bersama dalam keharmonisan.

Bagi saya secara pribadi, ada yang menarik untuk diperhatikan dari salah satu bagian dokumen tersebut, khususnya mengenai bagaimana nama Tuhan, agama, dan praktiknya dihayati.

Bagian dokumen tersebut berbunyi demikian:

Moreover, we resolutely declare that religions must never incite war, hateful attitudes, hostility and extremism, nor must they incite violence or the shedding of blood. These tragic realities are the consequence of a deviation from religious teachings… 

We thus call upon all concerned to stop using religions to incite hatred, violence, extremism and blind fanaticism, and to refrain from using the name of God to justify acts of murder, exile, terrorism, and oppression.

Apa yang menarik dari bagian dokumen di atas adalah adanya sebuah kesadaran dan pernyataan bahwa nama Tuhan dan agama tidak boleh digunakan untuk melegitimasi tindakan kekerasan terhadap mereka “yang lain”.

Kalau masih saja ada kekerasan, menurut dokumen tersebut, hal itu terjadi karena adanya penyimpangan ajaran agama. Ajaran agama yang begitu luhur disalahartikan atau sengaja dijadikan senjata untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan pribadi atau golongannya sendiri.

Bagaimana hal ini lantas perlu direfleksikan lebih lanjut?

Pertama, menurut saya, hidup beragama pada dasarnya merupakan relasi yang intim antara manusia dengan Tuhan. Ada sebuah ikatan personal dan mendalam, sebuah pencarian tak berkesudahan antara seorang pribadi dan Dia yang diyakini dalam hatinya yang terdalam.

Maka, tidak boleh ada seorang pun yang dapat dilarang untuk mengungkapkan imannya yang begitu personal kepada Tuhan yang diyakininya. Itu adalah hak asasi terdalam yang melekat pada diri setiap orang, sebuah hak untuk memiliki pegangan dan sandaran dalam perjalanan panjang hidup ini.

Dalam arti ini, kebebasan untuk beragama sungguh-sungguh harus diperjuangkan sebagaimana telah tertera dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Persekusi atau kekerasan yang dilakukan untuk menghalangi seseorang atau sekelompok orang dalam beribadah, bagi saya, jelas merupakan sebuah pelanggaran yang serius. Untuk itu, segala kekerasan yang mengatasnamakan agama tertentu merupakan sebuah tindakan yang harus ditangani serius pula, terutama oleh pihak yang berwajib.

Kedua, menjadi semakin jelas bahwa keluhuran nama Tuhan, agama, dan praktik ibadah tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan tindak kekerasan. Tidak boleh ada instrumentalisasi nama Tuhan ataupun agama demi kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Apabila terjadi demikian, maka sudah dapat dipastikan bahwa ada kepentingan lain yang menunggangi keluhuran nama Tuhan dan agama, misalnya kepentingan ekonomi atau politik.

Persis di sinilah, masyarakat kita seringkali dikaburkan. Kita mesti bersikap kritis terhadap situasi demikian.

Ketiga, apa yang penting dengan demikian adalah dengan damai dan cinta kasih menjalankan kepercayaannya masing-masing. Bukankah memang demikian citra sesungguhnya dari hidup beriman?

Tidak pernah ada agama yang mendukung tindak kekerasan terhadap “yang lain”. Relasi yang intim dengan Tuhan seharusnya memunculkan rasa damai dalam hati. Kedamaian inilah yang wajib dibagikan pada orang-orang di sekitar.

Kalau sikapku saja sudah mengancam orang lain terkait hidup beragamanya, pertanyaannya kemudian adalah: Sungguhkah aku telah membangun relasi yang intim dan mendalam dengan Tuhan Sang Pembawa Damai?

Atau, jangan-jangan selama ini aku hanya berpura-pura saja dekat dengan Tuhan, menampilkan diri seolah-olah aku adalah pribadi religius. Nama Tuhan kugunakan demi kepentinganku sendiri. Apa yang ada di permukaan menjadi lebih penting dibandingkan dengan apa yang ada di dalam hati. Iman hanya dihayati secara dangkal.

Seorang filsuf bernama Levinas mengatakan bahwa ungkapan iman terhadap Tuhan tercermin dalam sikapku terhadap “yang lain”. Dari ungkapan tersebut, saya menarik sebuah simpul bahwa semakin mendalam relasi seseorang dengan Tuhan, semakin baik dan damai pulalah relasinya dengan orang lain.

Atau, dengan kata lain, tidak ada hal yang tidak membawa kedamaian yang berasal dari nama Tuhan atau ajaran-ajaran agama. Semua bermula dari kedamaian dan berakhir pula pada hidup yang damai, secara bersama-sama dengan pelbagai macam perbedaan yang ada.

Di sanalah persis nikmatnya hidup.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply