Tindak Kekerasan di Lingkungan Sekitar Kita

Tanpa kita sadari, di lingkungan sekitar kita, sering kali ada tindakan kekerasan yang terjadi. Baik kita mengakuinya atau tidak, bisa jadi kita telah menjadi korban atau pelaku dari tindak kekerasan itu sendiri.

Nah, kekerasan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah 1 perihal (yang bersifat, berciri) keras; 2 perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain; 3 paksaan.

Meski begitu, kekerasan tak melulu terkait dengan fisik, ada pula kekerasan verbal yang terjadi di sekitar kita. Jika kekerasan fisi efeknya bisa dengan mudah kita lihat seperti luka lecet ataupun memar. Dampak dari kekerasan verbal tak bisa kita lihat sepenuhnya, bisa jadi efeknya seperti perubahan perilaku, menjadi tidak percaya diri, dan menyalahkan diri sendiri.

Terlepas dari apa pun bentuknya, kekerasan adalah bentuk tidak manusiawi yang terjadi dalam proses sosial. Kita mungkin masih ingat dengan Grup Band Linkin Park, sang vokalis Chester Benington memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kediamannya.

Bennington pernah mengalami kekerasan seksual pada masa kecilnya dan berdampak pada sisi psikis dan emosionalnya meski peristiwa itu telah lama terjadi. Bennington pernah mengungkapkan kebiasaannya mengonsumsi minuman beralkohol dan narkoba sekadar pelarian dari depresi dan trauma yang telah dialami pada masa kecilnya.

Tentu peristiwa kekerasan semacam di atas pernah terjadi di lingkungan kita, terlepas dari posisi kita sebagai korban, pelaku, atau keduanya. Hanya saja peristiwa yang kita lihat atau alami tidak disorot oleh media. Jika dicontohkan pada kehidupan sehari-hari, tidak sulit bagi kita untuk menemukan contoh lain.

Berdasar laporan Komnas perlindungan anak di kawasan Jabodetabek pada 2010 saja mencapai 2.046 kasus. Laporan kekerasan pada anak tahun 2011 naik menjadi 2.462 kasus. Pada 2012 naik lagi menjadi 2626 kasus dan pada 2013 melonjak menjadi 3.339 kasus. Ini menjadi penting karena angka-angka tersebut menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.

Pola perilaku kekerasan perlu kita pahami, apa penyebabnya, begitu juga dengan motivasinya. Sering kali kekerasan terjadi bahkan di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi sarana untuk belajar dan mendapatkan pengetahuan.

Kita memang tidak bisa menentukan faktor yang paling dominan yang menyebabkan individu sehingga melakukan tindakan kekerasan. Faktor psikis, pola pikir, juga lingkungan sejauh ini adalah faktor penentu manusia atau pribadi mengambil inisiatif atau merespons terhadap sesuatu.

Kalau saya ambil contoh sederhana, mengingat kembali pada masa SD dulu, ada seorang anak yang sering kali menganggu teman sekelasnya, sebut saja namanya Salim (bukan nama asli).

Yang Salim lakukan memang hal remeh dan wajar sekali jika melihat usianya saat itu. Ia memang anak paling berumur di kelas usianya setahun lebih tua dari teman sekelas. Dengan begitu ia memiliki keunggulan fisik, yaitu lebih tinggi dan lebih kuat. Hampir semua anak sekelas mendapat perilaku tidak menyenangkan darinya termasuk saya. Ia pernah merobek baju teman sekelas dan berkata kasar pada seorang teman wanita.

Tentu ini bukan untuk memojokkan si Salim, banyak faktor yang menyebabkannya berperilaku demikian. Salim dibesarkan hanya oleh neneknya yang bekerja sebagai buruh tani.

Perilaku manusia dewasa sebenarnya tak jauh berbeda dengan si Salim. Jika Salim merasa superior dengan keunggulan fisiknya, sehingga ia merasa berhak untuk melakukan tindakan semaunya pada teman sekelas, maka variabel lain bisa jadi berbeda saat manusia mulai dewasa. Variabel itu dapat berupa kekayaan, pengaruh poitik atau status sosial meski keunggulan fisik juga tetap menjadi faktor pendukungnya.

Baik korban maupun pelaku, kekerasan perlu kita soroti bersama untuk dicarikan solusinya. Perlu kita ketahui, dalam kasus kekerasan, terutama kekerasan seksual, sebagian besar pelaku merupakan korban pada masa lalu. Sering kali kita lihat dalam media massa menjelaskan demikian. Semisal ada kasus orangtua menemukan lecet atau memar pada bagian tubuh, hal wajar yang akan terjadi adalah dialog semacam ini.

“Loh, dik, tanganmu kenapa?”

“Gapapa, Ma, tadi habis jatuh main bola.”

“Oh, ya sudah lain kali hati-hati ya.”

Namun sering kali dengan berjalannya waktu memar tidak hanya ada di tangan, memar lalu ada di tangan atau bahkan pada punggung. Hal sekecil ini memang tak terlalu diperhatikan mendalam oleh orangtua karena si anak hanya menjawab dengan sekadarnya juga. Perlu diketahui anak laki-laki memang memiliki kecenderungan enggan bercerita hal spesifik mengenai pribadinya, menganggap dirinya kuat dan sebagainya.

Keterbukaan memegang peranan penting dalam hal semacam ini. Dengan memaksa si anak bercerita memang adalah salah cara memperoleh informasi tentang apa yang terjadi. Namun ini tidak membangun rasa percaya antara hubungan anak dan orangtua.

Pendekatan khusus perlu dilakukan, semisal membahas terlebih dulu topik kesukaanya sebelum pada inti permasalahan. Jangan khawatir jika anak belum juga mau bercerita. Inti dari permasalahannya adalah memotong mata rantai kekerasan terhadap anak agar kelak ia tak lagi menjadi korban atau pelaku kekerasan.

Hal terpentingnya adalah membekali anak agar mampu melindungi diri sendiri dari kekerasan. Ini tentu berbeda dengan menganjurkan anak untuk siap berkelahi apabila ada yang mengganggunya. Semisal, membuat anak berani melapor pada guru apabila menjumpai kekerasan yang terjadi di sekolah, memberinya fondasi berpikir bahwa kekerasan bukanlah sebuah kewajaran.

Karena bagaimanapun orangtua tidak akan selalu berada di sisi anak. Jadi penting untuk membentuk anak memiliki karakter yang kuat, mandiri, dan tidak tergantung orang lain untuk membela diri sendiri.

Kalau kita kembali pada kasus Salim di atas, hal yang dilakukan Salim dipicu dari kesadaran pibadinya bahwa ia lebih unggul dari teman-teman sekelasnya. Di samping itu, peranan keluarga yang minim dalam pemenuhan kebutuhan kasih sayang dan konseling juga menjadi pemicu. Bahkan sebelum menginjak usia Sekolah Dasar, anak perlu diberi pemahaman tentang menghargai perbedaan.

Kekerasan yang terjadi pada dasarnya pelaku merasa bisa melakukannya terhadap individu lain yang mereka anggap lebih lemah. Coba kita ingat kembali ingatan masa kecil dulu, akan ada seorang anak populer, pembangkang, penurut, kutu buku, dan sebagainya. Bukankah begitu?

Mereka akan membentuk grup sendiri-sendiri untuk mengasosiasikan dirinya dengan lingkungan sekitar. Hal ini tentu wajar saja. Akan tidak wajar apabila setiap grup tersebut merasa lebih penting atau superior terhadap grup lainnya. Ini akan memicu potensi tindak kekerasan meski sangat kecil kemungkinannya.

Dalam bahasa yang lebih populer, kekerasan semacam di atas disebut bullying. Menurut Barbara Coloroso, “Bullying adalah tindakan bermusuhan yang dilakukan secara sadar dan disengaja yang bertujuan untuk menyakiti, seperti menakuti melalui ancaman agresi dan menimbulkan teror. Termasuk juga tindakan yang direncanakan maupun yang spontan bersifat nyata atau hampir tidak terlihat, di hadapan seseorang atau di belakang seseorang, mudah untuk diidentifikasi atau terselubung di balik persahabatan, dilakukan oleh seorang anak atau kelompok anak.”

Jangan dikira bullying hanya memberi efek buruk pada korban, hal ini juga memberikan efek buruk bagi pelakunya. Bullying, apabila dilakukan dengan intensitas berlebih dan telah menjadi kebiasaan, ini akan membuat pelakunya manjadi arogan kemudian merasa bahwa lingkungan dan masyarakatlah yang harus mengikuti aturan serta norma yang ia anut bukan sebaliknya. Bullying juga membuat pelakunya mengacuhkan norma, aturan yang berlaku dalam hidup bermasyarakat, baik saat ini maupun masa yang mendatang.

Menurut Sanders (2003; dalam Anesty, 2009) National Youth Violence Prevention yang mengemukakan bahwa pada umumnya para pelaku bullying memiliki rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi dengan harga diri yang tinggi pula, sehingga cenderung bersifat maupun bertindak secara agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan.

Sebagian besar memiliki tipikal orang berwatak keras, mudah marah atau emosinya cepat naik dan impulsif, memiliki rasa toleransi yang rendah terhadap hal yang membuat frustrasi baginya atau dibenci. Para pelaku bullying ini mempunyai kebutuhan kuat untuk selalu ingin mendominasi orang lain lalu kurang berempati terhadap targetnya.

Apa yang diungkapkan oleh Sanders hampir sama dengan yang dikemukakan oleh seorang ahli bernama Coloroso yang menyatakan bahwa siswa yang ikut dan terperangkap dalam peran melakukan tindakan bullying, maka ia tidak dapat mengembangkan hubungan yang sehat, kurang cakap untuk memandang dari perspektif lain, tidak memiliki rasa empati, serta menganggap bahwa dirinya kuat dan disukai sehingga dapat memengaruhi pola hubungan sosialnya di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, memberikan pemahaman pada anak mengenai nilai-nilai mendasar tentang kesetaraan dan menghargai perbedaan adalah penting, meski dengan penyampaian yang sederhana. Semisal dengan menanyakan anak pertanyaan semacam ini;

“Kakak kalo dicubit sakit,ndak?”

“Sakit, ma”

“Lho, terus kenapa adik sering kakak cubit?”

Di samping itu, memberikan contoh nyata tentang perbedaan pada anak akan lebih mudah dicerna. Semisal dengan memberi contoh agama yang ada di Indonesia .Tak cuma Islam agama yang ada di Indonesia, masih ada Hindu, Buddha, Kristen, Protestan, dan aliran kepercayaan. Penting bagi anak untuk menghargai tiap perbedaan, agar potensi kekerasan tidak muncul ketika mereka dewasa kelak.

Masalahnya bukan terletak pada perbedaan tiap individu ataupun kelompok karena perbedaan adalah mutlak. Yang menjadi pokok permasalahan adalah kurangnya sikap toleran terhadap perbedaan. Perbedaan agama, ras, pilihan politik, status sosial tidak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan.

Memang siklus kekrasan harus diputus sampai pada pangkalnya. Tentu kita harus paham yang bermasalah bukanlah pribadinya melainkan mengapa seseorang melakukan tindak kekerasan, apa faktor penyebabnya yang melatarbelakangi dan juga pemicunya.

Perempuan dan Kekerasan     

Dalam forum nasional maupun internasional, hal-hal yang terkait mengenai kesetaraan kaum perempuan, kebebasan dan kekerasan yang terkait dengannya masih sering dibahas. Ada yang berpendapat perempuan dan kekerasan saling berkaitan.

Tentu saya tidak sependapat dengan pernyataan yang demikian. Perempuan dan kekerasan tidaklah selalu berkaitan dan tidak seharusnya seperti itu. Dalam menyikapi ini, semua pihak harus sepakat bahwa perempuan adalah subjek bukanlah objek. Dan ini merupakan kesepakatan yang tidak bisa ditawar lagi.

Menurut data dari Komnas Perempuan, pada tahun 2016 terdapat 259.150 jumlah kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan di ranah persoalan masih menempati posisi tertinggi. 245.548 kasus kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraian.

Di ranah personal, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menempati peringkat pertama dengan 5.784 kasus. Disusul kekerasan dalam pacaran 2.171 kasus, kekerasan terhadap anak perempuan 1.799 kasus.

Menurut Indraswari, kekerasan personal tertinggi terjadi melalui kekerasan fisik 42 persen, kekerasan seksual 34 persen, kekerasan psikis 14 persen. Sisanya, terjadi kekerasan ekonomi. Dalam kekerasan seksual di KDRT, perkosaan menempati posisi tertinggi dengan 1.389 kasus, diikuti pencabulan sebayak 1.266 kasus. Perkosaan dalam perkawinan juga banyak terjadi dengan 135 kasus.

Angka-angka di atas menunjukkan banyaknya kasus kekerasan yang terjadi menimpa perempuan. Belum lagi kasus kekerasan yang tidak dilaporkan karena dianggap aib, apalagi jika pelaku merupakan kerabat dekat korban.

Sering kali korban juga mendapat stigma negatif atas apa yang menimpanya, apalagi kasus yang menimpamya berupa kekerasan seksual. Ada saja yang beranggapan kekerasan seksual yang terjadi karena penyebab perempuan berbusana tidak senonoh. Pendapat ini tidak sepenuhnya bisa dibenarkan, bagaimana dengan pelaku yang berhubungan dekat bahkan masih punya hubungan kerabat.

Hal mendasar dari tindak kekerasan semacam ini adalah kontrol sosial yang lemah serta kurangnya penghargaan atas hak-hak pribadi. Terlebih sulit lagi jika contoh kasusnya adalah KDRT di mana perempuan sering kali menjadi korban.

Ia akan menganggap hal yang menimpanya adalah permasalahan keluarga dan akan selesai dengan sendirinya. Sayangnya, yang selanjutnya terjadi tidaklah demikian, kekerasan yang terjadi semakin berulang. Pihak suami merasa memiliki kuasa penuh atas istrinya. Pembiaran semacam ini justru tidak menyelesaikan masalah, justru membuatnya semakin parah.

KDRT juga akan berdampak pada sisi psikis anak. Anak akan mendapat goncangan psikis, terlebih jika ayah si anak melakukan kekerasan di depannya. Hal ini akan membuat anak menjadi pribadi yang murung, memilki rasa percaya diri rendah juga pesimistik. Selain itu, hal ini juga berkaitan dengan orientasi ke depan si anak tentang pernikahan itu sendiri.

Potensi adanya kekerasan terhadap perempuan dalam hal ini sebenarnya bisa dilihat sebelum membangun pernikahan. Jika kembali melihat statistik kekerasan dalam pacaran mencapai 2171 kasus. Ini tentu bisa dijadikan pertimbangan.

Jika belum melakukan pernikahan saja pasangan kita sudah melakukan tindak kekerasan, apalagi setelah menikah nanti? Ketika menikah nanti, apalagi telah memiliki anak, pertimbangan tentu akan dibuat juga didasarkan pada kebutuhan kembang si anak. Ini menjadi penting karena ketika menikah nanti hubungan bungan hanya bukan melibatkan dua orang saja.

Memang benar ada anggapan bahwa ketika menikah harus siap menerima sikap baik maupun buruk pasangannya. Namun hal ini bukan berarti membenarkan setiap tindakan yang dilakukan. Jika satu atau dua kali tindak kekerasan bisa diterima sebagai bentuk kekhilafan, bagaimana jika ini terjadi tiga atau empat kali, masihkah ini diterima sebagai bentuk kekhilafan?

Akan membahayakan jika kekerasan terjadi berulang kali sehingga membentuk sebuah kebiasaan. Kalau ini sudah terjadi, baiknya istri tanpa ragu melaporkan pada pihak berwajib.

Namun perlu digarisbawahi, semua upaya telah dikerjakan yang meliputi diaolog, bahkan mediasi. Ini menjadi penting karena hendaknya meski dalam hubungan suami istri sekalipun ada hak-hak pribadi yang harus dihormati dan tidak boleh dilanggar. Dengan begitu, semua pihak akan saling menghargai, juga menghormati privasi masing-masing. Kekerasan yang terjadi di sekitar kita memang terkadang tak kita lihat meski kadang kita sendiri terlibat di dalamnya.

Indonesia dan Kekerasan

Bukanlah lagi rahasia jika Indonesia adalah negara dengan penduduk yang majemuk dengan penduduknya yang berjumlah 262 juta jiwa membuat Indonesia masuk daftar dalam lima negara yang terbanyak jumlah penduduknya. Indonesia juga memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.

Suku Jawa adalah kelompok suku terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 41% dari total populasi. Orang Jawa kebanyakan berkumpul di pulau Jawa, akan tetapi jutaan jiwa telah bertransmigrasi dan tersebar ke berbagai pulau di Nusantara bahkan bermigrasi ke luar negeri seperti ke Malaysia dan Suriname. Suku Sunda adalah kelompok terbesar berikutnya di negara ini.

Di tambah lagi Indonesia memiliki kurang lebih 500 bahasa. Tentu ini adalah modal yang patut kita syukuri. Namun jika tidak dikelola dengan baik, tentu ini akan menimbulkan konflik sosial yang berujung kekerasan.

Kalau kita mencermati sejarah dengan baik, tentu kita akan mengingat konflik-konflik yang terjadi di Indonesia.

  • Dalam konflik Dayak dan Madura, terdapat 469 korban meninggal dunia dan 108.000 warga mengungsi, dengan lama konflik mencapai 10 hari sepanjang tahun 2001. Cakupan konflik juga terjadi dari Kota Sampit ibukota Kotawaringin Timur meluas ke Kota Palangkaraya, Kuala Kapuas, dan Pangkalanbun. Kerugian materi akibat konflik ini terdiri atas 192 rumah dibakar dan 748 rumah rusak serta 16 mobil dan 43 sepeda motor hancur.
  • Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta juga menjadi kasus konflik kekerasan terburuk. Dalam kasus itu mengakibatkan 1.217 korban meninggal dunia, 85 wanita diperkosa, dan 70.000 warga mengungsi. Dengan lama konflik selama 3 hari, dari tanggal 13 sampai 15 Mei 1998, cakupan konflik ini mencapai se-Provinsi DKI Jakarta. Total kerugian akibat kerusuhan sekitar Rp 2,5 triliun.
  • Kasus konflik kekerasan lainnya adalah Ahmadiyah Lombok atau Transito Mataram. Dalam kasus itu ditemukan 9 korban meninggal dunia, 8 luka-luka, 9 gangguan jiwa, 379 terusir, 9 dipaksa cerai, 3 keguguran, 61 putus sekolah, 45 dipersulit membuat KTP, dan 322 dipaksa keluar dari Ahmadiyah.  Konflik ini berlangsung hingga 7 kali penyerangan yang massif antara kurun 1998 sampai 2006 dengan 8 tahun warga jadi pengungsian. Cakupan konflik ini mencapai 4 wilayah provinsi, yakni Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Kota Mataram. Kasus ini mengakibatkan 11 tempat ibadah dan 114 rumah rusak, dengan 64,14 hektar tanah terlantar, 25 tempat usaha rusak, dan ratusan harta benda rusak dan dijarah.

Peristiwa tersebut di atas tentu sudah lama terjadi, dan bisa kita jadikan pelajaran kedepannya.Betapa perbedaan dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan. Semua warga negara hendaknya sadar dan menghayati semboyan bhineka tunggal ika juga dasar negara, yakni Pancasila.

Semua pihak, apa pun agamanya, sukunya maupun bahasanya, memiliki martabat yang sama di mata Tuhan. Ada istilah “Semua orang belajar tapi tidak semuanya menjadi terpelajar.”

Namun bukan karena itu kita harus berhenti belajar, belajar menghargai adalah tetap merupakan proses yang penting. Jika semua orang berpikir bahwa mereka adalah setara, maka tindakan menghardik, merendahkan atas dasar etnis, bahkan melakukan kekerasan atas dasar agama bisa kita hindarkan.

Kekerasan bukanlah sikap alami dari manusia, ia terbentuk karena lingkungan dan pola pikir manusianya. Lingkungan sekitar memang menjadi faktor harus kita cermati, dengan menjaga diri kita sendiri untuk tidak melakukan kekerasan serta bersikap reaktif ketika melihat kekerasan akan melindungi orang-orang sekitar kita dari tindak kekerasan.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply