Tuhan Orang Islam Satu, tetapi Mengapa Sifatnya Bisa Banyak?

Sebagai lelaki normal yang dikaruniai rasa suka terhadap wanita, saya pernah merasakan jatuh cinta bahkan menderita dengan tangisan bernanah gara-gara ditikung dan ditinggalkan oleh orang yang saya cinta.

Saya berharap Anda tidak bertanya tentang bagaimana prosesnya terjadinya tragedi penikungan itu berlangsung. Yang jelas, perasaan itu pernah saya telan. Dan kini saya sudah kapok dengan yang namanya pacaran, meskipun saya ingin merasakan mahligai pernikahan.

Saya sudah sampai pada kesimpulan bahwa cinta yang tak terajut oleh kesetiaan itu pasti akan berujung dengan penyesalan dan berakhir dengan kekecewaan. Untungnya saya hanya menjadi korban.

Tak jadi pelaku, juga tak menjelma sebagai lelaki bajingan. Tapi, pada akhirnya, rasa sakit, sedih, galau, kecewa dan sengsara itu tetap saya rasakan. Sekarang sih udah nggak. Tapi dulu itu, beneran nih ya, sakitnya itu nggak ketulungan.

Nah, apa yang rasakan itu, kalau kita bahasakan dengan terma ilmu kalam, disebut dengan istilah shifat. Sedangkan saya, sebagai sosok yang menampung perasaan itu, disebut dengan istilah dzât. Sifat itu ada dalam diri saya. Dan dzat saya sendiri menjadi satu kesatuan dengan sifat yang ada dalam diri saya.

Namun, selain memiliki perasaan cinta, sedih, galau, kecewa, dan lain semacamnya, saya juga memiliki atribut-atribut lain yang jumlahnya sedemikian banyak.

Anda bisa mengatakan saya bodoh, dan kebodohan itu adalah sifat yang melekat dalam diri saya. Sesekali saya suka marah, dan ketika itu kemarahan menjadi bagian dari sifat saya sebagai manusia biasa.

Badan saya bisa Anda katakan kurus, dan ketika itu kekurusan menjadi sifat yang menceminkan kualitas badan saya. Rambut saya bisa Anda katakan kusam, dan kekusaman juga ketika itu menjadi sifat yang dimiliki oleh rambut saya. Dan begitu seterusnya.

Semua atribut yang melekat dalam diri saya itu dinamai shifât. Sedangkan saya, sebagai sosok yang menampung atribut-atribut tersebut disebut sebagai dzât.

Adakalanya sifat itu berupa makna yang melekat dan berada dalam diri saya—seperti sifat-sifat yang saya sebutkan tadi. Tapi adakalanya juga sifat yang saya miliki itu mewujud dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan yang saya lakukan setiap hari. Dan semua itu dikategorikan sebagai sifat.

Yang pertama bisa disebut sebagai shifâtudzzât/shifat dzâtiyyah, sedangkan yang kedua bisa dikatakan sebagai shifatul af’âl. Yang pertama mencerminkan identitas suatu dzat, sedangkan yang kedua berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan oleh dzat.

Hal yang sama juga berlaku bagi Anda dan makhluk-makhluk yang lain, baik dia itu makhluk hidup maupun benda mati. Bahwa setiap dzat itu pasti memiliki sifat, dan setiap sifat pasti berada dan berdiri dengan sesuatu yang bernama dzat.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sifat itu ialah “sesuatu yang berdiri/berada dengan dzat” (mâ qâma bidzzât), sedangkan yang dimaksud dengan dzat ialah “sesuatu yang memiliki sifat” (mâ qâma bihi al-Shifât).

Dengan demikian, dzat dan sifat itu adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Di mana ada dzat, maka di sana ada sifat. Di mana ada sifat, maka pastilah di sana ada yang namanya dzat. Tidak mungkin yang satu terpisah dari yang lain.

Sebagai contoh: Misalnya Anda menilai saya sebagai orang yang bodoh. Sekarang saya mau tanya: Bisa tidak sifat bodoh itu lepas dari diri saya dan mewujud secara berdiri sendiri tanpa bergantung pada wujud yang lain? Tentu saja tidak bisa. Kalaupun harus lepas dari diri saya, pada akhirnya dia akan melekat dalam dzat yang lain selain saya.

Begitu juga halnya dengan saya sebagai suatu dzat. Anda mengenal saya sebagai orang yang bernama Muhammad Nuruddin. Bisakah Anda melihat saya sebagai saya tapi saya sendiri tidak memiliki sifat sama sekali yang mencerminkan identitas saya? Jawabannya hanya ada satu, yaitu tidak bisa.

Artinya, Anda bisa mengenal saya melalui sifat saya. Dan sifat saya juga bisa dikenal karena adanya saya. Kalau dzat saya tidak ada, sifatnya pun menjadi tiada. Sebagaimana kalau semua sifat itu tiada, maka dzat saya pun menjadi tidak ada. Singkat kata, dzat dan sifat adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Nah, sekarang, ada satu pertanyaan lagi yang mungkin perlu untuk kita jawab, karena ini relevan dengan judul tulisan di atas: Ketika saya dikatakan memiliki sifat A, B, C, dan seterusnya, sayanya itu sendiri berbilang atau tidak?

Dengan pertanyaan yang lebih jelas: Saya punya sifat ini, itu dan ini. Artinya saya memiliki sifat yang sedemikian banyak, terlepas apakah itu baik ataupun buruk. Tapi, apakah banyaknya sifat tersebut mempengaruhi ketunggalan dzat saya? Jelas tidak. Sayanya tetap tunggal, tapi ketunggalan tersebut meniscayakan adanya keragaman sifat.

Karena saya tidak mungkin dikatakan sebagai suatu dzat kecuali dengan adanya sifat. Sebagaimana sifat itu tidak mungkin dikatakan sebagai sebuah sifat jika dia tidak berada dalam sesuatu yang kita namai sebagai dzat.

Beginilah cara termudah untuk memahami keyakinan bahwa dzat Tuhan itu satu, tapi memiliki sekian banyak sifat. Keberbilangan sifat itu, dalam keyakinan umat Islam, dan berdasarkan hukum-hukum rasional, tidak berkonsekuensi pada keberbilangan dzat.

Dzat Tuhan yang kita imani itu hanya ada satu dan tidak berbilang. Tapi dalam saat yang sama kita katakan bahwa dzat yang satu itu meniscayakan adanya sekian banyak sifat sebagai wujud dari kesempurnaan-Nya sebagai Tuhan.

Dari sini menjadi tidak relevan bagi umat Agama lain untuk “menuduh” umat Islam—secara khusus kalangan Ahlussunnah—sebagai kelompok umat beragama yang memiliki banyak Tuhan.

Karena Dzat Tuhan yang diimani keberadaan-Nya, sekali lagi, hanya ada satu. Tapi dzat yang satu itu memiliki keragaman sifat yang pada gilirannya membentuk satu kesatuan dengan dzat. Dia itu bukan dzat, tapi juga bukan selain dzat.

Dikatakan bukan dzat karena dzat dan sifat itu jelas berbeda maknanya, berdasarkan definisi yang kita kemukakan di atas. Dan dikatakan bukan selain dzat karena memang dia tidak terpisah dengan dzat, melainkan ada dan menjadi satu kesatuan dengan dzat. Inilah konsep keyakinan yang diimani oleh kaum Sunni pada umumnya.

Hanya saja, perlu kita ketahui juga bahwa cara pandang seperti ini tidak akan selamat dari berbagai macam kritik. Salah satu kritikan tertajam yang ditujukan kepada Ahlussunnah ialah kritik yang mendasarkan pandangannya pada penolakan Qiyâs al-Ghâib ‘alâ al-Syâhid.

Apa itu Qiyâs al-Ghâib ‘alâ al-Syâhid? Yang dimaksud dengan ungkapan tersebut ialah menganalogikan yang ghaib (yang tidak tampak), yang dalam hal ini adalah Tuhan, dengan yang tampak, yang dalam hal ini adalah makhluk. Padahal keduanya memiliki hukum dan ketentuan berbeda.

Dengan ilustrasi di atas, seolah-olah kita “mempersamakan” Tuhan dengan makhluk. Kalau dalam dunia keseharian saja kita bisa melihat satu orang yang memiliki keragaman sifat, tanpa mempengaruhi kesatuan orangnya, maka keyakinan kita terhadap Tuhan juga demikian.

Ini namanya Qiyâs al-Ghâib ‘ala al-Syâhid. Penjelasan seperti ini memang sangat cocok bagi orang awam. Tapi dalam ranah diskusi ilmiah para teolog raksasa akan memandang hal itu sebagai sebuah kelemahan.

Salah satu mazhab yang memiliki kritik pedas terhadap Ahlussunnah dalam masalah ini ialah Muktazilah. Mazhab yang terakhir disebut ini tidak bisa menerima adanya keragaman sifat. Bagi mereka, sifat Tuhan itu adalah dzat Tuhan itu sendiri, bukan sesuatu yang lain, seperti yang diyakini oleh kaum Sunni.

Ketika al-Quran menyatakan bahwa Allah Swt itu Mahakuasa, misalnya, Muktazilah berpandangan bahwa Allah itu berkuasa dengan diri-Nya sendiri (qâdir bidzâtihi), bukan dengan sifat kuasa (qudrah) yang berada dalam diri-Nya, seperti yang diyakini oleh kaum Sunni.

Itulah alasan mengapa mereka kerap mendaku sebagai Ahlu Tawhid (para penganut keesaan). Karena dengan pandangan seperti itu mereka merasa sudah mengesakan Tuhan. Dalam keyakinan mereka, rumusan akidah yang mengamini keberbilangan sifat itu bertentangan dengan ajaran tauhid. Dan karena itu harus ditolak.

Tapi, yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah: Benarkah Muktazilah itu sendiri mengingkari adanya sifat hanya dengan dalih keesaan? Dan benarkah keyakinan Ahlussunnah tentang keberbilangan sifat itu juga bertentangan dengan ajaran tauhid yang diajarkan dalam Agama Islam?

Dua pertanyaan ini perlu dijawab secara terpisah. Tapi, jawaban atas dua pertanyaan tersebut sangat bergantung pada pemahaman kita tentang apa itu sifat, dan apa itu dzat? Karena itulah dua kata kunci yang kadang dipahami secara berbeda oleh kedua belah pihak.

Dari paparan di atas kiranya menjadi jelas bahwa dzat itu adalah sesuatu yang memiliki sifat, sementara sifat ialah sesuatu yang berdiri dan berada dengan dzat. Dan keduanya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Adanya keberbilangan sifat itu tidak berkonsekuensi pada keberbilangan dzat. Di samping karena dzat itu berbeda dengan sifat, adanya dzat itu sendiri sudah meniscayakan adanya sifat, sebagaimana keberadaan sifat itu juga meniscayakan adanya dzat. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply