Tuhan, Tragedi Big Bang, dan Lelucon Hawking

“Saya tidak mempersyaratkan adanya seorang ‘Allah penutup lobang’, suatu allah yang perlunya hanya untuk menjelaskan hal-hal yang belum dijelaskan oleh sains. Sebaliknya, saya mempersyaratkan ada seorang Allah untuk menjelaskan apa yang dijelaskan oleh sains.

Saya tidak menyangkal bahwa sains memberikan kejelasan, tetapi saya mempersyaratkan adanya Allah untuk menjelaskan mengapa sains memberikan kejelasan.” ~ Richard Swinburne

Pengantar

Diskursus seputar tema kosmologi modern yang melibatkan sains dan Tuhan akhir-akhir ini menjadi bahan diskusi yang hangat. Pelbagai ilmuwan semakin rajin mengadakan penelitian serta pengamatan intensional di bidang sains, untuk membuktikan secara rasional misteri terbentunya alam semesta ini.

Semangat dan tekad ini juga cukup telak meruntuhkan sebagian tesis-tesis agamis yang melibatkan iman dan wahyu.

Stephen Hawking adalah salah satu ilmuwan modern yang cukup radikal dalam melabrak tembok wahyu yang ditanamkan secara sistematis oleh ajaran agama tentang alam semesta. Sehingga dalam satu hipotesisnya, ia secara terang-terangan  menolak adanya intervensi Allah sebagai sang pencipta alam semesta.

Ia mengatakan bahwa “teori kuantum sudah membuka suatu jalan lain, dimana ruang dan waktu tidak mempunyai perbatasan; jadi tidak perlu lagi menentukan pelakunya pada batas itu.

Tidak ada batas-batas khusus, artinya (tidak ada) suatu titik dari ruang-waktu dimana keluknya menjadi tak terbatas dan hukum-hukum fisika akan menjadi batal; tidak tepian bagi ruang dan waktu yang menuntut perlunya Allah atau hukum-hukum  baru.

Bisa dikatakan bahwa kondisi batas-batas alam semesta adalah bahwa alam semesta tidak mempunyai batas. Artinya dalam hal ini, alam semesta membuat dirinya sendiri secara total dan tidak dipengaruhi oleh apa pun di luar dirinya.

Ia tidak bisa diciptakan, dihancurkan pun tidak akan bisa. Dia hanya bisa BERADA. Big Bang adalah suatu pembuktian rasional ilmiah Hawking untuk meyakinkan umat manusia tetang misteri terbentuknya alam semesta.

Tentang Big Bang, Stephen Hawking dalam suatu jurnal Physical Review D yang dipublikasikan pada tahun 1981, mengatakan bahwa alam semesta tidaklah serumit yang dipaparkan oleh teori multisemesta atau multiverse sekarang ini. Dimana teori multisemesta tersebut dibangun berdasarkan suatu konsep yang disebut eternal inflation atau inflasi abadi.

Namun, analisis Hawking bersama Thomas Hertog mengatakan bahwa setelah kejadian Big Bang, alam semesta mengalami suatu periode inflasi eksponensial. Kemudian inflasi tersebut melambat, dan energinya dikonversikan menjadi zat dan radiasi.

Dengan pembuktian  ini, hampir pasti Hawking secara radikal menolak asumsi keterlibatan Tuhan dalam menciptakan alam semesta. Hawking bersama teorinya Big Bang memandang sinis-pesimistis tentang alam semesta sebagai mega proyek yang Ilahi.

Sehingga pada aras ini Paul Davis layak dikutip bahwa, “Fakta bahwa alam semesta mungkin tidak mempunyai awal temporal tidaklah menjelaskan eksistensinya sendiri, atau pun mengapa alam semesta itu tidak mempunyai sifat yang diperolehnya.”

Dengan demikian jelas bahwa suatu dunia tanpa awal temporal tidak pernah memberi tempat untuk “Sang Pencipta.”  Lalu dimanakah Tuhan?

Stephen Hawking dan Tragedi Big Bang

Stephen Hawking lahir di Inggris pada 8 Januari 1942. Dia mempelajari ilmu fisika di University College walaupun ayahnya memintanya belajar pengobatan. Setelah lulus, dia meneliti kosmologi di Cambridge University.

Pada awal Tahun 1963, Hawking yang saat itu mau berulang tahun yang ke-21 didiagnosis amyotrophic lateral sclerosis (ALS) atau penyakit Lou Gehring. Dia sempat dikira hanya akan bisa bertahan hidup selama dua tahun, tetapi nyatanya bisa hidup hingga usia 76 tahun.

Tahun 1985, Hawking harus menjalani operasi  trakeostomi yang membuatnya kehilangan kemampuan untuk berbicara. Untungnya, sebuah alat yang dibuat oleh Cambridge University membantunya untuk berkomunikasi. Hawking bisa memilih kata-katanya hanya dengan menggerakkan otot pada pipi.

Stephen Hawking akhirya meninggal pada 14 maret 2018, ia dikenal publik sebagai salah satu fisikawan teoretis paling ternama dalam sejarah. Karyanya mengenai asal-usul dan struktur alam semesta merevolusi fisika menjadi yang kita kenal sekarang.

Tentang Big Bang, Hawking berhipotesis bahwa jika alam semesta memiliki awal, yaitu Big Bang, maka ia memiliki akhir. Karena itu, Hawking dan rekannya Roger Penrose yang juga merupakan pakar kosmologi, sama-sama mendemonstrasikan Teori Relativitas Umum Albert Einstein, yang menunjukkan bahwa ruang angkasa dan waktu dimulai pada kelahiran alam semesta dan berakhir dengan lubang hitam.

Namun, jauh sebelum demonstrasi Teori Relativitas Umum Albert Einstein ini,  astronom Edwin Hubble pada tahun 1924, dengan bantuan teleskopnya menyaksikan bahwa selain Galaksi Bima Sakti masih terdapat ratusan miliar galaksi lain dan bahwa setiap galaksi memuat ratusan miliar bintang.

Seiring dengan itu, universum terus meluas, maka bisa diperhitungkan bahwa galaksi-galaksi itu dulu sama-sama lebih dekat, bahkan kira-kira 15 miliar tahun yang lalu menyatu di tempat yang sama, dalam keadaan fisik yang paling padat dan dengan energi yang meluap-luap.

Materi yang menyatu dan padat tersebut kemudian meletus dengan tenaga dasyhat sehingga gumpalan-gumpalan gas dan debu menjauh dengan kecepatan setinggi-tingginya. Letusan inilah yang kemudian dinamakan sebagai tragedi Big Bang yang kita kenal sekarang. Itulah permulaan dunia dan dengan demikian mulailah waktu.

Sebelum Big Bang tidak ada waktu, dan keadaan itu disebut singularitas (keunikan), yaitu suatu kenyataan yang tidak bisa diukur, diatur oleh hukum alam, maka menghilang dari pengertian kita.

Sehingga para ahli ilmu alam mengatakan bahwa mustahil menanyakan apa yang ada sebelum Big Bang, dan bahwa memang terdapat titik-titik nol dalam ilmu fisika, misalnya temperatur minus 273,15 derajat celsius. Temperatur itu tidak bisa turun di bawahnya lagi.

Setelah meyaksikan tragedi letusan hebat Big Bang, Hawking si jenius yang terkapar di kursi roda canggihnya, menguraikan perkembangan sesudah Big Bang secara sistematis. Ia mengatakan bahwa, satu detik setelah ledakan purba, temperatur berkisar 10 miliar derajat.

Pada saat itu universum memuat foton, elektron, neutrino, proton, dan neutron. Kebanyakan elektron dan anti elektron (positron) saling membinasakan diri dan menciptakan foton (bagian elementer terkecil dari sinar).

Kira-kira 100 detik kemudian, temperatur jatuh ke 1 miliar derajat saja. Proton dan neutron menyatukan diri menjadi inti atom hidrogen berat (deuterium), lalu terbina inti atom helium dan inti dari beberapa unsur kimiawi lebih berat seperti lithium.

Kemudian beberapa jam saja setelah Big Bang, terbentuklah zat helium dan unsur-unsur kimiawi lain. Sehingga dengan turunnya temperatur ke beberapa ribuan derajat celsius, elektron-elektron dan inti-inti atom menyatukan diri – karena daya tarik masing-masing menjadi atom-atom. Dengan demikian, kita sampai pada kekuatan inti dari kosmos.

Setelah dalam analisisnya, Hawking menemukan kekuatan inti dari kosmos, kemudian Ia mulai memikirkan suatu akhir seperti yang diramalkan oleh Edwind Hubble melalui teleskop sederhananya. Hawking menyebut akhir dari alam semesta adalah “lubang hitam” atau black hole.

Disebut lubang hitam karena tidak mengeluarkan sinar lagi. Lubang hitam juga merupakan singularitas, karena memiliki sifat-sifat yang bertentangan dan hukum alam tidak berlaku, waktu tidak ada lagi, karena tidak ada gerakan atau perubahan apa pun.

Lubang hitam adalah faktor penting dalam proses evolusi jagat raya dan membawa banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab. Teori yang mungkin paling mengena adalah bahwa lubang hitam terdiri dari kumpulan bintang masif yang meledak sebagai supernova, sehingga menyisahkan inti yang tiga kali lipat massa matahari.

Ketika bintang yang sekarat kehilangan energinya, bintang itu akan mengerut secara dramatis, menyebabkan tarikan gravitasi yang luar biasa terhadap permukaan sehingga apa pun yang ada didekatnya akan terisap.

Namun, setelah memadukan teori Einstein dan teori kuantum, Hawking menemukan bahwa lubang hitam tidak diam saja. Lubang hitam justru berdesis, mengeluarkan radiasi dan partikel, sebelum akhirnya meledak dan menghilang.

Dan ketika Ia menyadarinya, Hawking sendiri sempat tidak mempercayainya. Tetapi semua kalkulasinya kembali ke hasil yang sama. Hasil tersebut kemudian di publikasikan dalam artikel berjudul “Ledakan Lubang Hitam?” di jurnal Nature dan memunculkan konsep baru bernama “radiasi” Hawking.

Pada 2014, Hawking merevisi teorinya dan menyatakan bahwa lubang hitam tidak ada. Selain itu, Hawking juga mengklaim bahwa alam semesta tidak memiliki batas. Walaupun jumlah planetnya terbatas, seseorang bisa mengelilinginya tanpa batas dan tidak akan pernah bertemu dinding.

Lebih jauh, tentang kelahiran dan kematian alam semesta, Hawking menulis suatu buku menarik yang berjudul A Brief History of Time, dipublikasikan pada tahun 1988 dan telah terjual lebih dari 10 juta kopi.

Lelucon Hawking, Big Bang dan Pertanyaan Sains tentang Tuhan

Stephen Hawking dalam bukunya yang berjudul Brief Answers To The Big Questions, pernah membuat suatu lelucon ilmiah, dimana jika bertemu Tuhan Hawking bertanya; apakah Tuhan sempat berpikir serumit teori-M dalam sebelas dimensi? Tentu saja Hawking sekadar berkelakar.

Hawking menjelaskan bahwa teori- M merupakan teori  yang menyatukan semua teori yang menyelidiki interaksi alam semesta. Teori-M juga disebut sebagai maha-teori (theory of everything), ia pertama kali diperkenalkan oleh fisikawan Edward Witten dalam konferensi fisika sedunia pada musim semi 1995 di University of Southern California.

Dalam buku tersebut, Hawking juga mengumpulkan sebanyak 10 pertanyaan besar seputar kosmologi dan penciptaan alam semesta. Dan pertanyaan pertama yang Ia ajukan adalah tentang Tuhan. Ia berusaha untuk menganalisis keberadaan-Nya lewat penciptaan alam semesta.

Secara umum, Tuhan dalam konsep Hawking merujuk pada kepercayaan religius manusia sebagai zat yang menjadi penyebab segala hal yang ada  di dunia.  Matahari yang terbit di Timur, bulan yang mengitari bumi, dan gaya gravitasi disebut Hawking sebagai “hukum Tuhan”  yang dan  membuat segala hal menjadi serasi. Tapi, adakah Tuhan dalam proses penciptaan alam semesta? Tanya Hawking.

Tanpa ragu, Hawking menjawab pertanyaannya sendiri dengan mengatakan “tidak”. Menurut Hawking alam semesta terjadi karena ada materi dan energi. Keduanya muncul jika ada ruang. Tapi dari mana energi dan materi itu berasal? Para ilmuwan sudah menyimpulkan, pemicunya adalah dentuman besar yakni tragedi “Big Bang”.

Dan Big Bang menurut Hawking, merupakan detuman yang terjadi secara spontan, dari ketiadaan. Oleh karena itu, Hawking berhasil menyingkirkan intervensi Tuhan dalam menciptakan alam semesta ini. Bagi Hawking, pertanyaan tentang Tuhan sama kosongnya dengan pertanyaan apakah ada selatan dari kutub selatan.

Lelucon Hawking ini kemudian ditanggapi secara halus oleh Paus Yohanes Paulus II dalam suatu kesempatan diskusi yang bertemakan “Kosmologi dan Fisika Mendasar”.

Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Big Bang bisa saja menjadi bahan analisa empiris sains. Tetapi ada sebuah permasalahan mendasar bahwa apa yang memungkinkan Big Bang itu ada daripada tidak ada?

Tentu saja pertanyaan di atas bermain pada arena transendental yang berbau ilahi dan wahyu. Itulah alasan mengapa Arthur Gibson ngotot mengatakan bahwa bahasa sains dalam suatu kesempatan tertentu harus dirumuskan dalam bahasa transendental yang berada di luar bidang kriteria (yang khas) bukti empiris saintifik itu sendiri.

Penutup

Dari analisis panjang lebar di atas, tentu saja tulisan ini tidak bermaksud untuk memasukkan sains dan Tuhan sekaligus dalam suatu  arena tinju, lalu kemudian secara sepihak menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Mungkin dalam hal ini Claude Bruaire lebih bijaksana dengan mengatakan bahwa rasionalitas mencapai puncaknya kalau dia menyatakan Allah. Karena itu, tidak ada alasan untuk membenturkan sains dan iman, yang ada hanyalah ide untuk memperdamaikan keduanya dengan suatu diskursus yang konstruktif emansipatif.

Pierre Teilhard de Chardin benar bahwa “Tidak ada bidang atau tahap di mana sains dan wahyu saling menggusur atau menjadikan sia-sia satu sama lain […] Baik Sains maupun Wahyu sama-sama tidak dapat berfungsi selain dalam gerakan yang mempertemukan keduanya. Ke arah itu terbukalah pemecahan paripurna terhadap pertentangan antara sains dan wahyu.”

Sumber :qureta.com

No Comments

    Leave a reply