Untuk Apa Ada Agama? Keliru Memahami Agama

Penduduk dunia berada dalam lost of humanity and lost of love, manusia tenggelam dalam lautan amarah dan kekerasan. Subjek dan objek amarah dan kekerasan berangkat dari orang-orang yang beragama dan sasarannya pun adalah orang-orang yang beragama.

Kenapa bisa terjadi orang-orang beragama bisa menjadi manusia yang kejam, amoral dan memanusiakan manusia seolah-olah fana dari kehidupannya, padahal manusia dibimbing oleh agama dengan hypergood menjadi manusia tercerahkan antar-sesama.

Agama merupakan ajaran tentang philosophy, pandangan filosofis adalah gambaran menyeluruh dan world view kehidupan yang dijadikan pegangan oleh setiap pribadi/masyarakat dalam menjalani hidup. Pandangan filosofis tersebut mengandung hakikat, fungsi utama, dan tujuan hidup. (Bustanuddin Agus, 2006).

Secara filosofis, agama merupakan tujuan hidup, dengan adanya agama manusia berada dalam kedamaian dan ketenangan. Agama juga bisa dipahami dengan mudah oleh orang awam bahwa agama sesuatu yang diyakini dan patuh terhadap ajaran agama, tapi sulit didefinisikan dan sulit dijelaskan maksudnya bagi antropolog atau ilmuwan.

Sebagaimana diungkapkan oleh Quraish Shihab bahwa agama adalah satu kata yang mudah dijelaskan maksudnya bagi orang awam, tapi sulit diberikan definisi (maksud) bagi para pakar (2006), seorang pengkaji sosiologi EK Notingham juga mengakui tidak ada definisi (agama) yang benar-benar memuaskan (2002).

Secara etimologi agama dijelaskan oleh Harun Nasution bahwa agama dalam bahasa Arab dikenal dengan kata din yang berarti patuh, religi dari bahasa Latin berarti membaca, mengikat. Sementara di Indonesia dikenal dengan agama. Kata agama tersusun dari dua kata, a (tidak) dan gam (pergi), jadi agama tidak pergi.

Lafaz din dalam Alquran diungkapkan di beberapa surat dan ayat. Salah satunya, ayat berikut ini: “Maka apakah mereka mencari agama (din) yang lain dari agama Allah….., (QS. Ali-Imran: 83).

Makna filosofis yang terkandung dalam agama memberi hakikat, fungsi, dan tujuan hidup, karena itu manusia butuh pada agama. Walaupun manusia diciptakan oleh illah mujidah dalam bentuk terbaik dan sempurna (QS. at-Tiin: 4), kesempurnaan manusia lewat akal dan panca indera, tapi tetap ada keterbatasan.

Keterbatasan tersebut menjadi sekian banyak tanda tanya yang muncul dalam benak manusia tidak dapat terjawab. Hal ini dapat mengganggu perasaan dan jiwa, semakin mendesak pertanyaan tersebut semakin gelisah bila tidak terjawab karena manusia mempunyai naluri ingin tahu.

Karena itu, manusia membutuhkan informasi tentang apa yang tidak diketahuinya. Disinilah informasi Tuhan datang, atau dengan kata lain yaitu agama. (Quraish Shihab, 2006: 211).

Agama membimbing manusia kepada arah kebaikan, kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan sesuai dengan sistem kepercayaan dan tata cara beribadah dari setiap pemeluk agama. Satu dari sekain banyak agama yang ada di alam semesta ada Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan kitab suci Alquran.

Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, pesan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Allah Swt memberi misi kepada Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya’: 107).

Rasulullah mempraktikkan akhlak yang baik, benar-benar sebagai rahmat bagi siapa pun dan dengan kelembutan serta kasih sayang Rasulullah melunakkan hati yang keras, dengan kasih dan cinta inilah Islam diterima dengan baik oleh manusia di muka bumi ini.

Sementara itu dalam keyakinan Badshah Khan, seorang pejuang muslim antikekerasan mengungkapkan Islam adalah amal (pengorbanan tanpa pamrih), yakeen (iman) dan muhabat (cinta, kasih sayang). Amal, tanpa ketiga ini, sebutan muslim adalah bunyi terompet dan denting simbol.

Dalam pandangan penulis, Islam adalah agama humanistik, estetik, dan mahabbah. Islam memanusiakan manusia, bukankah kedudukan wanita sebelum datangnya Islam, ia hina dalam pandangan lakik-laki sehingga Rasulullah mengangkat derajat wanita menjadi istimewa dan terhormat.

Dari penjelasan di atas, maka dapat dipastikan bahwa Islam tidak mengajarkan amarah dan kekerasan. Nah, kenapa bisa terjadi amarah dan kekerasan dari orang-orang beragama?

Khaled Abou el Fadl, dalam bukunya Selamatkan Islam dari Muslim Puritan. Ciri muslim puritan adalah dalam hal keyakinannya menganut paham absolutisme dan tak kenal kompromi, cenderung menjadi puris, dalam arti memandang realitas pluralis sebagai suatu bentuk kontaminasi atas kebenaran sejati.

Guru Besar Hukum Islam ini juga mengatakan “Setelah bertahun-tahun membaca sumber-sumber keislaman, saya semakin yakin bahwa Islam yang tidak humanistik adalah Islam yang keliru, Islam adalah pesan kasih sayang, rahmat cinta dan keindahan.

Keliru Memahami Agama

Haidar Bagir penulis yang concern dalam pemikiran, mengatakan kekeliruan dalam memahami agama karena pemeluk agama tidak mempunyai wawasan tentang agama itu sendiri. Membatasi agama hanya dalam hal syariat, dalam aspek hukum yang semata-mata verbal, fisik, dan keimanan yang selalu rasional.

Ada hal yang justru paling esensial dari agama yang dilupakan, yaitu sumber spiritualitas dan moralitas. Agama tidak bisa dilepaskan dari spiritualitas, dari spiritualitas lahir moralitas dan rahmat (cinta kasih) bagi alam semesta.

Boleh jadi agama bersinggungan dengan politik, agama tidak boleh dijadikan ideologi karena dijadikan ideologi maka front-front konflik akan terbuka: baik dengan pengikut agama yang sama, apalagi pengikut agama dan kelompok lain. (Haidar Bagir, 2018: 262).

Ketika agama kehilangan makna dalam kehidupan dan tidak memahami ajaran agama dengan baik, adakalanya juga agama dibela mati-matian, tetapi lain kali  agama diposisikan sebagai sumber konflik dan alat legitimasi kekuasaan sehingga agama tidak menjadi sumber pencerahan, demikian kata Komaruddin Hidayat.

Agama Islam yang seharusnya menjadi sumber pencerahan dan rahmat bagi manusia, tapi pada kenyataannya justru para pemeluk agama yang membawa konflik ke tengah-tengah kehidupan sehingga lost of humanity and lost of love padahal agama Islam love and humanistik.

Islam sebagai agama mahabbah membawa pesan kasih sayang dan rahmat kepada manusia. Karena itu, agama membawa misi kedamaian dan kebahagiaan sebagai pandangan hidup sehingga manusia yang beragama benar-benar menjadi orang-orang yang beragama.

Nah, dengan adanya agama manusia terarah dengan baik sehingga menjadi manusia yang humanis, menaburkan cinta di alam semesta. Mari kita renungkan  pesan dari sahabat Gus Dur KH. Husein Muhammad, Pengasuh PP Darut Tauhid, Jawa Barat yang dikutip dari buku “Karena Kau Manusia, Sayangi Manusia.”

“Tidak ada satu agama pun di dunia ini yang mengajarkan pemeluknya untuk melecehkan, merendahkan, mencabik-cabik kehormatan manusia. Apalah arti beragama jika melukai sesama? Apalah arti menjadi manusia, jika menjadi serigala bagi manusia yang lain?

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply