Yang Puasa Tolong Hargai yang Gak Puasa

Memasuki bulan ramadan, semua orang bersuka cita menyambut bulan penuh ampunan dan rahmat yang mana pada bulan ini dikenal juga dengan bulan puasa. Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa, dari terbit fajar sampai dengan tenggelamnya matahari yang diawali oleh niat.

Kewajiban menjalankan puasa telah Allah tetapkan dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya: “Hai Orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Lalu siapa sajakah orang yang diwajibkan untuk berpuasa?

Syarat wajib puasa

Dalam menjalankan puasa ramadan, terdapat tiga syarat wajib, yaitu Islam, balig, dan berakal. Ketiga syarat itu menjadi syarat mutlak bahwa setiap insan yang telah memenuhi tiga syarat itu maka baginya wajib untuk berpuasa.

Sedangkan ada pengecualian untuk beberapa kelompok orang yang tidak diwajibkan berpuasa, misalnya wanita haid, wanita hamil dan menyusui, sakit, musafir, dan orang yang lanjut usia. Mereka diberi keringanan oleh Allah untuk tidak menjalankan puasa, tetapi harus menggantinya setelah bulan ramadan selesai atau hari biasa dengan puasa serupa atau membayar fidyah sesuai ketentuan yang telah ditetapkan syara.

Tak bisa kita mungkiri bahwa di Indonesia yang mayoritas beragama Islam pun tidak dapat memaksa seseorang untuk menjalankan kewajiban berpuasa secara tegas. Selain puasa merupakan kewajiban hamba-hamba yang beriman kepada tuhannya, kita hanya bisa memberikan nasihat dan selebihnya orang itu sendiri yang bertanggung jawab atas kewajibannya sendiri terhadap tuhan.

Tak jarang jika sering kita temui orang yang tidak puasa makan di depan umum di bulan ramadhan. Pantaskah mereka untuk melakukan itu? Tentu tidak pantas. Dalam kehidupan bermasyarakat, tanggung jawab sosial harus ada, minimal memiliki rasa malu dan menghargai antar sesama manusia.

Orang yang tidak puasa, baik karena suatu hal yang secara syari diperbolehkan maupun tidak diperbolehkan, hendaknya menghargai mereka yang berpuasa dengan tidak makan atau minum di tempat umum atau di depan orang yang tidak puasa.

Jika orang tersebut memiliki iman yang kuat, mungkin saja tidak akan berpengaruh. Bagaimana jika mereka adalah anak-anak yang masih labil dan dalam proses pembelajaran lalu memutuskan untuk membatalkan puasa sebab melihat orang yang sedang makan tadi? Siapa yang berdosa?

Perbuatan tersebut mirip sekali dengan perbuatan setan yang mana mereka selalu menggoda manusia. Setan yang sebenarnya memang sedang dikerangkeng oleh Allah Swt. pada bulan ramadan, tapi setan-setan berwujud manusia berkeliaran di mana-mana dan mengganggu manusia agar selalu ingkar terhadap perintah tuhan melalui hawa nafsunya itu sendiri.

Saya ingat betul ketika mengaji dahulu, sering sekali diberitahu oleh guru saya, “Kalau gak puasa (alasannya dibenarkan oleh syar’i), mbok ya makan tu di kamar, pintunya dikunci rapat-rapat, jangan sampe orang tahu.”

Semenjak itu saya ketika sedang zuhur seembunyi-sembunyi makan di kamar dengan pintu terkunci rapat, atau tak jarang saya tak berani makan dan hanya sekadar membatalkan saja puasa semata dengan air putih.

Yang puasa tolong menghormati yang gak puasa

Slogan “yang puasa menghormati yang gak puasa” ramai diperbincangkan tahun 2015 lalu dengan adanya twit Menteri Sgama yang mendapat banyak respons, baik positif maupun negatif, dari masyarakat. Slogan itu dikaitkan dengan beberapa golongan yang melakukan aksi sweeping rumah makan yang buka pada siang hari di bulan ramadan dan memaksanya untuk tutup.

Di sini saya tidak akan berbicara masalah boleh atau tidaknya berdagang makanan saat siang hari di bulan suci ramadan karena di luar sana banyak yang lebih pantas menerangkan itu.

Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah orang yang berpuasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga saja, melainkan menahan diri dari hal-hal yang merusak pahala puasa, di antaranya berdusta, ghibah/membicarakan kejelekan orang, adu domba atau fitnah, memandang dengan nafsu, dan sumpah palsu.

Momentum ramadan mengajari kita untuk menahan dan mengendalikan diri; bukan hanya mengendalikan diri dari makan dan minum saja, melainkan mengendalikan emosi dan dari sifat-sifat tercela yang kadang sering dilakukan.

Jika hal itu dipraktikkan, maka seseorang tidak akan menuntut orang lain untuk menghargai dirinya dengan dalih sedang berpuasa. Karena sejatinya keimanan dan hakikat puasa yang sebenarnya akan ia dapatkan tatkala mereka dengan belajar sabar dan ikhlas dengan cobaan.

Sejatinya Allah Swt. mengutus orang-orang yang tidak puasa untuk memberi cobaan kepada hambanya yang taat dan beriman agar kualitas keimanan dan ketakwaannya makin bertambah dalam momentum ramadan ini, ramadan penuh berkah dan ampunan. Sudah selayaknya kita manfaatkan dengan banyak beribadah kepada Allah Swt. seraya memohon ampunan kepada Allah atas dosa yang kita lakukan sehingga kita dapat menjadi insan yang lebih baik ke depannya.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply