Bertasawuf Dengan Seekor Semut

Semut adalah binatang berkategori serangga. Semut hidup dalam suatu komunitas yang terdiri dari semut ratu, semut pejantan, dan semut pekerja. Dalam hal bersosial, semut mempunyai rasa sosial yang tinggi.

Terlepas dari itu, ada suatu hal berharga yang bisa kita ambil beberapa hikmah dari seekor semut. Hikmah tersebut adalah dari sisi ketasawufan. Sebelum menelisik lebih jauh lagi dalam menyelami sisi ketasawufan dari seekor semut, perlulah kita memahami dulu apa itu arti dari tasawuf.

Tasawuf secara etimologis berasal dari bahasa Arab, yaitu tashawwafa. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shuf yang artinya bulu domba. Maksud bulu domba adalah bahwa para penganut tasawuf ini sangatlah sederhana dalam berkehidupan, berhati mulia, menjauhi pakaian sutra, dan memakai kain dari wol kasar. Dalam hal berpakaiannya yang menggunakan kain wol kasar, para sufi mengatakan bahwa wol kasar itu menandakan suatu kesederhanaan pada saat itu.

Adapun tasawuf menurut terminologi adalah sebuah cara atau jalan untuk mengetahui tentang bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun diri dari sisi lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal yang bersifat keduniawian).

Dari pengertian tasawuf secara etimologi dan terminologi diatas, dapatdiambil kesimpulan bahwasanya tasawuf adalah pelatihan dengan kesungguhan untuk dapat membersihkan, memperdalam, mensucikan jiwa atau rohani manusia.

Hal tadi dilakukan untuk melakukan pendekatan kepada Allah Swt sebagai Sang Maha Pencipta segala yang ada dan dengannya segala aktivitas kehidupan sehari-hari hanya terfokus untuk Allah semata.

Untuk itu, tasawuf tentu berkaitan dengan pembinaan akhlak, pembangunan rohani, sikap sederhana dalam hidup, dan menjauhi hal-hal dunia yang dapat melenakan. Tasawuf ini dapat dilakukan oleh siapapun yang ingin membangun akhlak yang baik, sikap terpuji, kesucian jiwa, dan kembalinya pada Ilahi dalam kondisi yang suci.

Kembali kepada bahasan tentang sisi ketasawufan dari seekor semut. Katakanlah sebagai suatu permisalan ada seekor semut yang sedang mencari makanan. Kemudian semut itu menemukan sebuah tetesan madu yang jatuh dari sarang lebah yang ada di atas pohon.

Karena tergiur dengan aroma madu tersebut maka semut tadi mendekatinya seraya mencicipi manisnya setetes madu dari sisi pinggir tetesan. Setelah mencicipi manisnya tetesan madu tadi, semut pun berguman “Alangkah manisnya madu ini”.

Setelah semut kenyang akan manisnya madu, semut pun ingin kembali kesarangnya, tetapi hatinya tidak tenang karena masih ada sisa tetesan madu yang ditinggalkan.

Semut pun kembali ke tempat tetesan madu tadi seraya bergumam kembali “Rasa pinggiran tetesan madu ini  sangatlah manis, bagaimanakah jika aku menceburkan diri didalamnya?”. Singkat cerita, semut pun menceburkan dirinya dalam tetesan madu tadi dan terperangkaplah ia dalam tetesan madu hingga ia mati dalam kubangan manisnya madu.

Permisalan seekor semut yang tenggelam dalam tetesan madu tadi sangatlah sederhana,sesuatu yang sangat manusiawi jika kita pikirkan. Dalam kisah setetes madu danseekor semut tadi, ada suatu hikmah yang dapat dipetik dan diamalkan. Sebagai analogi sederhana, setetes madu tadi diibaratkan dengan manisnya dunia, kemudian seekor semut tadi diibaratkan dengan seorang manusia yang mencintai kehidupan dunia.

Jika seekor semut tadi hanya mengisap manisnya madu di tepiannya saja tanpa bercebur dalam tetesan madu, maka semut tadi akan selamat. Seperti itu pulalah permisalan seseorang yang mencicipi kenikmatan dunia sedikit saja maka ia akan selamat. Akan tetapi, jika ia menceburkan diri dalam manisnya dunia maka ia akan sengsara.

Beberapa permisalan dari fenomena tadi, dapat kita dapati dalam Alquran. Sebuah kisah tentang seorang raja pada masa Nabi Musa A.s, yaitu Fir’aun. Fir’aun adalah seorang raja yang kaya raya, ia angkuh dan menyatakan dirinya adalah Tuhan yang berhak disembah dan siapapun yang tidak menyembahnya akan dibunuh. Maka Allah Swt menyengsarakan Fir’aun yang sombong tadi dengan menenggelamkannya di laut merah ketika ia dan pasukannya tengah mengejar Nabi Musa A.s dan para pengikutnya.

Kemudian,kita tahu pula ada kisah Qarun di zaman Nabi Musa A.s. Qarun mempunyai harta yang berlimpah ruah. Ia mempunyai gudang-gudang penyimpanan harta yang kuncinya saja hanya dapat dibawa dengan dipikul oleh beberapa orang yang kuat, alangkah besarnya kunci gudang-gudang penyimpanan harta Qarun. Kemudian dengan hartanya ia berlaku sombong dan membanggakan diri.

Keberlimpahan harta tadi ternyata membuat Qarun sombong dan kikir serta enggan bersedekah. MakaAllah menenggelamkan Qarun bersama hartanya ke dasar bumi akibat kesombongannya. Tentulah hal ini adalah suatu pelajaran bagi seseorang yang berlaku sombong.

Dari cerita semut, Fir’aun dan Qarun tadi, dapat diambil kesimpulan bahwasanya barang siapa yang menceburkan dirinya dalam manisnya kehidupan dunia, maka Allah Swt akan membinasakannya. Mencintai dunia adalah suatu perkara yang membuat kita lalai akan kebesaran Allah Swt dan mengakibatkan timbulnya sifat sombong dalam diri.
Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply