BUKU KEHIDUPAN

Hidup ini bagaikan sebuah buku. Sungguh, setiap manusia sedang menulis buku kehidupannya. Cover (kulit) buku adalah judul besar kehidupan yang akan dijabarkan oleh pengarang (diri) buku. Setiap manusia memiliki judul buku kehidupan yang berbeda-beda sesuai pilihan apa yang akan dilakukan selama di dunia. Ada yang menulisnya dengan judul besar dengan berbagai warna menarik nan indah. Tujuannya agar buku menarik perhatian pembaca untuk kemudian dibeli. Tapi tak jarang pembaca sering kecewa karena keindahan cover buku tak semenarik isi buku atau alasan lain sebagainya. Namun, ada pula yang menulis dengan kesederhanaan, tapi menyuguhkan isi tulisan berkualitas nan mencerdaskan.

Agar sebuah buku terarah, pengarang perlu menjelaskan arah cerita yang dinukilkan dalam kata pengantar. Dari sana, pembaca tau orientasi pengarang atas buku kehidupannya, apakah berorientasi pada real material, pseudo material, spritual, atau apa saja yang menjadi tujuan hidup dan karakter diri sang pengarang akan terlihat jelas.

Untuk mencapai orientasi dan tujuan hidup yang diinginkannya, pengarang membuat langkah-langkah strategis agar apa asanya tercapai. Langkah-langkah tersebut berupa daftar isi buku kehidupan. Sungguh, manusia terlihat jelas karakter dirinya dari suguhan daftar isi yang memuat langkah-langkah yang dibuat. Apakah langkah-langkah tersebut berisi kejujuran atau kemunafikan dan kedurjanaan. Langkah-langkah tesebut akan terlihat jelas pada isi pembahasan buku kehudupan.

Pembahasa sebuah buku kehidupan pasti menjelaskan secara lebih rinci apa yang ada pada bab daftar isi. Setiap bab mengisahkan apa yang akan dijelaskan pengarang. Di situ akan terlihat karakter diri dan kualitas penulis. Dalam paparanya ada beberapa tipikal manusia, antara lain :

Pertama, paparan penulis tanpa rujukan atau sumber pijakan. Tipikal ini memperlihatkan karakter penulis sebagai sosok yang angkuh dan merasa dirinya paling pintar. Keangkuhan ini menjadikan diri tertutup dari sisi kebenaran dan menerima pendapat orang lain. Jalan cerita bab ini akan melahirkan kesombongan yang melampaui hak Tuhan. Inilah yang dikhawatirkan Allah dalam hadis qudsi bahwa salah satu sifat yang dimurkai Allah tatkala hamba sombong dengan harta, ilmu, atau jabatan yang dimiliki apalagi digunakan untuk menzhalimi sesamanya.

Kedua, paparan penulis yang penuh dengan rujukan atau sumber pijakan pada hampir semua penjelasannya. Tipikal ini memperlihatkan karakter penulis tak memiliki kemampuan, tapi hanya bermodal keinginan yang tinggi. Semua sisi hidupnya hanya bersandar pada “kuasa atau kekuatan” orang lain. Jabatan yang diraih hanya kelincahan bermain-main dengan penguasa untuk merekomendasi dirinya. Untuk memperkuat “jualannya” langkah selanjutnya menggandeng kata pengantar para tokoh yang acapkali tak relevan dengan apa yang dibahas. Kondisi ini diperparah tatkala untuk melahirkan karyanya, sejumlah “pundi-pundi emas” dikeluarkan agar bukunya bisa diterbitkan. Sebuah kebiasaan yang acapkali menjadi trend generasi rapuh. Bila tipikal seperti ini mendapat giliran memimpin, maka dapat dipastikan apa yang akan dilakukan untuk mendapatkan jabatan dan memanfaatkan jabatan yang diperoleh untuk mengumpul pundi-pundi.

Ketiga, dalam mengupas isi buku, ada pula tipikal penulis yang cenderung bangga mengunakan istilah asing ketimbang istilah bangsa sendiri. Tipikal seperti ini memperlihatkan karakter yang tipis rasa nasionalisme pada dirinya. Selogan hanya pemanis bibir, sementara dalam prilaku justru hanya “menjual negara dan masa depan” dengan berbagai cara dan muslihat nan licik.

Keempat, mengupas buku dengan merujuk kitab standard dan ulama dibidangnya, sembari mencoba mengupas makna dan maksud para ulama yang dikaitkan sesuai dengan zaman kekinian. Kupasannya terkesan tak menggurui apalagi menghakimi, kalimatnya sederhana dan mudah dicerna, katanya indah dan penjelasannya menyejukkan, ke-tawadhu’-annya terasa dan terlihat jelas untuk dijadikan tauladan.

Kelima, sebuah buku (ilmiah) akan diakhiri sejumlah daftar rujukan yang digunakan untuk menulis “buku kehidupan”. Daftar pustaka merupakan dasar penulisan, tempat bertanya, dan ruang diskusi mengembangkan budaya keilmuan. Rujukan menunjukkan kualitas si penulis kepada siapa rujukan pertemanan dimuarakan. Bila pilihan baik, maka selamatlah diri. Jangan melakukan pilihan yang justru sebaliknya, maka hancurlah diri.

Sungguh penerbit sadar kalau penulis adalah manusia. Meski buku mau dicetak, penerbit selalu memberi peluang pada penulis untuk mengecek dan merevisi atas kemungkinan ada kesalahan dalam buku tersebut. Dalam konteks kehidupan, waktu merevisi “buku kehidupan” diberikan Allah bisa dalam wujud musibah atau nikmat, media ramadhan, haji, dan sejumlah media revisi lainnya. Bijaklah seorang penulis buku bila selalu merevisi “buku kehidupannya” menjadi lebih baik. Tapi tak jarang penulis yang justru tak mau merevisi atau justru merevisi ke arah yang lebih parah dan menjadikan diri semakin hina.

Lalu, pilihan mana yang akan diambil setiap diri sebagai penulis “buku kehidupan” dalam menapaki amanah kehidupan yang diberikan Ilahi ?
Wa Allahua’lam bi al-Shawwab.

Oleh  Samsul Nizar
(Guru Besar & Ketua STAIN Bengkalis)

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply