Catatan Fazlur Rahman untuk Islam Nusantara

Dalam tradisi keilmuan Islam Kontemporer, barangkali sosok Fazlur Rahman dikenal sebagai seorang modernis untuk Studi Islam yang cukup progresif dan memiliki wawasan yang komprehensif.

Beliau dikenal sebagai tokoh Hermeneutika Al-Qur’an dengan teori Double Movement-nya yang berimplikasi pada pembedaan antara Ideal Moral dan Legal Spesific Al-Qur’an.

Hal itu diakui oleh murid-murid yang telah diajar beliau di Universitas Chicago. Mahasiswa dari Indonesia yang juga mengikuti perkuliahan beliau diantaranya adalah Nurcholis Madjid, Ahmad Syafii Maarif, Amin Rais, dan Mulyadhi Kartanegara.

Melihat empat tokoh Indonesia yang saya sebutkan diatas, adalah mereka yang mempunyai pengaruh luar biasa dalam perkembangan Islam Indonesia. Itu cukup menjadi bukti kapasitas keilmuan Fazlur Rahman yang menjadi Guru Besar Studi Islam di Universitas Chicago pada masanya.

Ketika saya mengkaji pemikiran-pemikiran beliau, saya menemukan banyak kesamaan dengan apa yang digaungkan oleh Islam Nusantara dewasa ini –terlepas dari kemungkinan bahwa beliau menjadi salah satu rujukannya. Islam Nusantara yang memiliki karakter moderat, toleran, bahkan liberal sekalipun, sama persis dengan pemikiran Fazlur Rahman. Itulah alasan ketertarikan saya pada beliau.

Hal tersebut dapat ditemukan dalam karya-karyanya yang sudah banyak dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia, seperti Islam, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, Major Themes of the Qur’an, Islamic Methodology in History, dan masih banyak lagi.

Setidaknya, kerangka pemikiran beliau adalah liberalis dalam kekangan konservatif, mengikuti jejak pemikiran modernis sebelumnya, seperti Sayyid Ahmad Khan, Jamaluddin Al-Afghani, sampai Muhammad Abduh dan Muhammad Iqbal.

Dalam tradisi pemikiran di Indonesia, pemikiran Rahman semakin lama semakin memberikan kontribusi dan pengaruh yang luar biasa. Dapat dilihat dari banyak diadakannya diskusi maupun seminar yang membahas tentang pemikiran beserta karya beliau.

Dalam pada itu, upaya yang paling menonjol baru-baru ini adalah Diskusi Buku Islam yang diadakan oleh Laboratorium Studi al-Quran dan Hadis (LSQH) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga yang bekerjasama dengan Penerbit Mizan.

Dua kali penyelenggara yang sama tersebut membahas karya dan pemikiran Fazlur Rahman, yang pertama buku Islam yang diadakan satu tahun silam, yang kedua buku Major Themes of the Qur’an yang diadakan bulan Maret kemarin. Dengan memilih narasumber sekaliber Ahmad Syafii Maarif, Abdul Mustaqim, Haidar Bagir, dan Moh. Nur Ichwan.

Tidak heran jika diskusi-diskusi mendatang akan kembali mengangkat pemikiran Fazlur Rahman. Karena saya kira, Fazlur Rahman mempunyai tipikal yang Indonesia banget.

Dalam artian, karena alasan Fazlur Rahman menulis tafsir adalah misi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin memahami pandangan Al-Qur’an mengenai Tuhan dan masyarakat, baik secara sosial maupun individu, yang dapat diimplementasikan pada kehidupan secara praktis. Untuk sekarang, Indonesia membutuhkan hal tersebut.

Menariknya, dalam buku Islam and Modernity, Fazlur Rahman memberikan sedikit “catatan untuk Indonesia”, walaupun secara spesifik buku itu membahas tentang pendidikan saat itu, namun setidaknya ungkapan beliau mampu untuk digeneralisasikan kepada kita sekarang.

Pada saat beliau menulis buku tersebut, yakni pada tahun 1980-an, Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki mayoritas umat Muslim yang cukup banyak, namun pergerakannya cenderung diabaikan, karena dianggap masih “muda”. Apresiasi beliau dimulai dari Indonesia dianggap sebagai pengembang Studi Islam yang cukup “segar” dan progresif.

Pasalnya, semakin menjamurnya Madrasah dan Pesantren di Indonesia juga tidak luput dari sorotan dan apresiasi beliau, karena cukup menjadi penyumbang terbesar dalam berkembangnya pendidikan Islam di Indonesia, selanjutnya alumni mereka yang menuju pada Pendidikan Tinggi berbasis Islam yang telah ada, seperti STAIN, IAIN, atau UIN, dapat menjadi tempat berkembangnya Studi Islam seperti yang beliau harapkan.

Tanpa mengesampingkan Spiritualisme atau Mistisisme khas Indonesia yang mengakar-membudaya yang terkadang memberikan dampak tertentu, Spiritualisme di Indonesia dianggap Rahman sebagai sesuatu yang juga dibutuhkan oleh kehidupan umat manusia dewasa ini, agar kehidupan tidak mengabaikan nilai-nilai moral-sosial dalam tatanan kehidupan.

Selain itu, salah satu Intelektual Muslim Indonesia yang memberikan perhatian penuh kepada Al-Qur’an, yang diketahui Rahman adalah Hasbi Ash-Shiddieqy, yang menekankan pada pendekatan Asbabun Nuzul dalam memahami Al-Qur’an, tanpa memahami itu, menurut Rahman adalah sesuatu yang mustahil untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an. Hal itu senada dengan beliau yang menekankan Asbabun Nuzul dalam skala makro pada tahap pertama Double Movement-nya.

Diakui pula oleh Rahman bahwa jurang pemisah antara Nahdlatul Ulama (sebagai tradisionalis) dan Muhammadiyah (sebagai reformis) sudah mulai tertutup dan teratasi. Dalam pada itu, mengenai watak bangsa Indonesia, Rahman mengungkapkan:

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mempunyai watak demokratis, hanya penafsiran terhadap Islam yang benar-benar demoktratis saja lah yang bisa sukses dan hidup di dalamnya”.

Rahman lagi-lagi tidak lupa memberi apresiasi kepada Indonesia yang lambat laun perkembangannya akan menjadi berarti, dan para masyarakat pribumi Islam akan benar-benar menjadi Muslim yang kreatif. Akhir kata, beliau menyampaikan bahwa:

“Meskipun untuk sekarang masih banyak yang perlu diperbaiki dan dipertahankan, namun ada semacam harapan untuk Indonesia kedepan. Kegiatan Pendidikan dan Intelektual yang bertumbuh pesat itu, pada akhirnya tampak menuju pada arah yang benar.”

Tim Editor Mizan yang pernah mewawancarai Mulyadhi Kartanegara untuk kepentingan penerbitan buku Fazlur Rahman, menulis bahwa pada tahun 1985, Rahman yang kala itu berkunjung ke Indonesia mengatakan:

“Peradaban Islam yang gemilang akan dimulai dari Indonesia, sebuah wilayah yang didiami oleh banyak masyarakat Muslim dengan tetap mempertahankan kekhasan budayanya.”

Jika beliau melihat secara langsung murid-muridnya dan Indonesia saat ini yang memiliki perkembangan keilmuan yang luar biasa, mungkin beliau akan tersenyum dan bangga. Namun juga akan sedih melihat Indonesia sedang berjuang keras menjaga keutuhan bangsanya, dan juga melihat semakin menipisnya nilai moral-sosial umat manusia. Al-Faatihah.

Sumber : qureta.com

Tags: ,

No Comments

    Leave a reply