Islam yang Ramah bukan Pemarah

Manusia adalah mahluk individu sekaligus sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, tentu saja manusia dituntut untuk mampu beradaptasi dengan individu lain dalam rangka mempererat tali silaturahmi.

Dalam menjalankan kehidupan sosial dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda. Dalam rangka menjaga keutuhan dan persatuan dalam masyarakat, maka diperlukan sikap saling menghormati dan menghargai.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita terlalu egois, di mana kita berusaha agar setiap pendapat yang kita utarakan itu harus diterima. Atau terkadang kita memaksakan kehendak terhadap orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan kita. Begitu banyak sikap egois kita yang kita perlihatkan di masyarakat. Demikian gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan pertikaian, namun dapat dihindari.

Selain itu, masyarakat juga dituntut untuk saling menjaga hak dan kewajiban di antara satu sama lain. Dalam konteks berdakwah, Islam memiliki konsep yang sangat jelas, di mana tidak ada unsur paksaan ketika mengajak seseorang. Karena sesungguhnya, tugas seorang pendakwah hanya sebatas menyampaikan saja. Selebihnya, itu urusan manusia sama Allah SWT.

Tidak ada paksaan dalam agama. Bagimu agamamu, bagiku agamaku, merupakan contoh populer ketika berdakwah dalam Islam. Untuk menghindari itu semua, kita harus mempunyai sikap toleransi, sikap tenggang rasa, agar tidak terjadi rasa saling tidak suka antarsesama.

Jika toleransi ada dalam diri kita, insyaallah dalam bergaul di lingkungan kampus maupun masyarakat akan menjadi lebih baik. Dan ketika kita berdakwah pun   akan terasa nyaman. Dengan itu, tulisan ini sengaja dibuat untuk mengingatkan bagi para pendakwah, di mana ketika nanti berdakwah, diusahakan kegoisannya jangan sampai terlihat. Karena dalam Alquran telah diajarkan kepada kita semua, untuk bisa menyampaikan sesuatu dengan bijak, agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik.

Dalam Surat An-Nahl ayat 125 yang artinya serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik; sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih tahu orang yang mendapat petunjuk.

Dalam ayat ini, Allah SWT memberikan pedoman-pedoman kepada Rasul-Nya tentang cara mengajak manusia ke jalan Allah. Allah meletakkan dasar-dasar seruan untuk pegangan bagi umat-Nya.

Dasar-dasar seruan itu ada tiga tingkatan, yaitu seruan itu dilakukan dengan hikmah. Hikmah itu mengandung beberapa arti, diantaranya berarti pengetahuan tentang rahasia dari faedah segala sesuatu. Dengan pengetahuan itu, sesuatu dapat diyakini keberadaannya. Perkataan yang tepat dan benar yang menjadi dalil (argumen) untuk mana yang batal atau meragukan.

Allah menjelaskan kepada Rasul-Nya agar seruan itu dilakukan dengan mauidhah hasanah (pengajaran yang baik), yang diterima dengan lembut oleh hati manusia tetapi berkesan di dalam hati mereka.

Tidaklah patut jika pembelajaran itu selalu menimbulkan rasa cemas, gelisah, dan ketakutan pada jiwa manusia. Orang yang jatuh karena dosa disebabkan kebodohan atau tanpa sadar, maka tidaklah wajar jika kesalahan-kesalahannya itu dipaparkan secara terbuka sehingga menyakitkan hatinya.

Pembelajaran yang disampaikan dengan bahasa yang lemah lembut, sangat baik untuk menjinakkan hati yang liar dan lebih banyak memberikan ketenteraman daripada pembelajaran yang isinya ancaman dan kutukan-kutukan yang mengerikan. Jika sesuai tempat dan waktunya, tidak ada jeleknya memberikan pembelajaran yang berisikan peringatan yang keras atau tentang hukuman-hukuman dan azab yang diancamkan Allah kepada mereka yang sengaja berbuat dosa.

Untuk menghindari kebosanan dalam seruannya, Rasulullah menyisipkan dan mengolah bahan yang menyenangkan. Dengan demikian, tidak terjadi kebosanan yang disebabkan urutan-urutan pengajian yang berisi perintah dan larangan tanpa memberikan bahan-bahan yang bisa melapangkan dada atau yang merangsang hati untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan.

Allah SWT menjelaskan bahwa bila terjadi perbantahan atau perdebatan, maka hendaklah dibantah dengan cara yang terbaik. Pada dasarnya, seruan itu hanya dengan dua cara di atas (hikmah dan mauidhah hasanah). Akan tetapi, seseorang, ketika mendapat perlawanan yang berat, terkadang perlu menggunakan argumen-argumen yang keras dan kokoh yang bisa mengalahkan orang-orang yang diserunya.

Maka dari itulah cara menyeru yang berupa debat ini diikutkan pada pilihan metode menyeru ke jalan Allah SWT. Debat itu aslinya bukan merupakan bagian dari metode untuk menyeru, akan tetapi ia hanyalah sebagai alat alternatif ketika seseorang dalam kondisi terdesak setelah tidak berhasil menerapkan dua cara tersebut sebelumnya.

Satu contoh perdebatan yang baik adalah perdebatan antara Nabi Ibrahim dengan kaumnya yang kafir yang mana perdebatan tersebut tidak membawa mereka untuk berpikir untuk memperbaiki kesalahan mereka sendiri sehingga mereka menemukan kebenaran.

Tidaklah baik memancing lawan dalam berdebat dengan kata-kata yang tajam, karena hal itu dapat menimbulkan suasana yang panas. Sebaliknya, hendaklah diciptakan suasana nyaman dan santai sehingga tujuan dalam perdebatan untuk mencari kebenaran itu dapat tercapai dengan hati yang puas.

Suatu perdebatan yang baik adalah perdebatan yang dapat menghambat timbulnya sifat manusia yang negatif seperti sombong, tinggi hati, tahan harga diri karena sifat-sifat tersebut timbulnya peka. Lawan debat supaya dihadapi sedemikian rupa sehingga dia merasa bahwa harga dirinya dihormati, karena tujuan utama adalah mencari kebenaran dari Allah SWT dan menghilangkan semua kebatilan. Tidak ada tujuan tertentu selain itu.

Allah SWT menjelaskan bahwa ketentuan akhir dari segala usaha dan perjuangan itu ada pada Allah. Hanya Allah sendirilah yang bisa menganugerahkan iman kepada seseorang.

Dialah yang maha Mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang tidak dapat mempertahankan fitrah insaniahnya (iman kepada Allah) dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan hingga dia jadi tersesat. Dia jugalah Yang Maha Mengetahui di antara hamba-hamba-Nya yang fitrah insaniahnya tetap terpelihara sehingga terbuka hatinya untuk menerima petunjuk (hidayah) Allah SWT. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat Islam untuk saling mengingatkan.

Sumber : qureta.com

No Comments

    Leave a reply