Kertas dan Penyebaran Agama

Pernahkah kita berpikir bahwa kertas memiliki peranan penting dalam kehidupan beragama? Apakah kita dapat yakin jika kertas tidak memberi peran signifikan bagi penyebaran agama-agama atau sebaliknya?

Mungkin, kita akan memberi banyak alasan. Misalnya, penyebaran secara lisan adalah cara yang paling efektif sehingga kertas tidak begitu penting.

Namun seiring munculnya kertas, para pendakwah tidak serta-merta menolak untuk menggunakan media tulisan sebagai alat penyebaran. Dan itu terbukti, hampir setiap agama mewarisi tradisi tulisan. Di sana kertas menjadi sangat penting.

Tentu, kita akan bertanya-tanya bahwa bukankah sebelum munculnya kertas, manusia sudah memiliki tradisi tulisan. Manusia sudah mengenal tulisan jauh sebelum kemunculan kertas.

Itu artinya, dalam penyebaran agama-agama juga, manusia telah menggunakan media tulisan lain sebelum munculnya kertas. Tanpa mengurangi dan menghilangkan fakta-fakta sejarah dari agama lain, saya ingin menunjukkan perkembangan dalam kekristenan.

Alkitab, yang terdiri dari puluhan Kitab itu, awalnya ditulis dalam gulungan-gulungan yang terbuat dari kulit binatang. Setidaknya, setiap Kitab terdiri dari satu gulungan besar berbentuk persegi yang panjangnya satu hingga dua meter.

Dapat dibayangkan, betapa sulitnya dan tidak efektifnya. Tentu dalam memperbanyaknya tidak mudah apalagi sebagai pengikut (umat) akan sulit untuk mendapatkannya. Dengan demikian, hanya para pemuka agama saja yang dapat mengakses atau membaca Alkitab itu. Kiranya, demikian juga untuk agama-agama lain.  Situasi seperti itu sangatlah sulit dalam penyebaran agama baik bagi pendakwah maupun bagi para pengikutnya.

Tanpa lebih jauh lagi mengulas seputar fakta sejarah di atas, setidaknya ada beberapa dampak positif atas kemunculan kertas bagi penyebaran (perkembangan) agama-agama. Memang kita menyakini bahwa Al-Quran merupakan wahyu langsung dari Allah melalui Nabi Muhammad. Tetapi kiranya tidak demikian dalam proses penyebaraan dan penambahan jumlah. Kertas sebagai instrumen paling efektif telah memberi peran penting.

Pertama, dengan kemunculan kertas, media tulisan awalnya yang begitu besar (gulungan) kini menjadi lebih simple. Fakta itu tentu memberi kemudahan dalam pendakwahan. Demikianpun halnya dari segi kuantitas. Kita akan menjadi lebih mudah dalam proses penambahan kuantitas.

Kedua, kehadiran kertas telah memungkinkan para pengikut dari agama tertentu mengakses secara langsung Kitab Suci. Jumlah awalnya yang begitu terbatas karena ketidakefektifan bentuk kini telah memungkinkan untuk dibaca secara langsung bahkan dimiliki secara pribadi dengan pengandaian bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci dimengerti. (mengingat Al-Quran pada umumnya masih ditulis dalam bahasa Arab dan mungkin juga untuk Kitab Suci beberapa agama lain yang masih dalam bahasa asli)

Bagi saya, kenyataan ini bukan sesuatu yang dapat memberi efek negatif atau mengurangi esensi dari sebuah Kitab Suci. Akhirnya, kita semua dapat membaca secara langung apa yang yang difirmankan Allah melalui Kitab Suci. Pemahaman Kitab Suci tidak lagi dimonopoli kaum tertentu misalnya para pemuka agama saja. Hal ini akan memperkaya dalam pemahaman Kitab Suci itu sendiri bahkan termasuk mencegah pemahaman keliru atasnya atau demi kepentingan kelompok tertentu.

Alkitab yang awalnya terdiri dari gulungan-gulungan besar kini telah berubah menjadi “buku-buku” dan menjadi lebih efisien. Dan itu semua, salah-satu peranan paling penting adalah kemunculan kertas selain ditemukannya mesin cetak terutama dalam proses penambahan jumlah. Awalnya, Kitab Suci hanya “dimiliki” oleh kaum tertentu namun kertas telah merubah semua itu.

Setelah melihat historitas di atas, sekarang kita dihadapkan dengan perubahan zaman yaitu era teknologi digital.  Kini, Kitab Suci atau tulisan-tulisan seputar agama telah berubah dalam bentuk file-file atau Elektronic Book. Dengan mudah kita dapat mendownload E-Bible,  misalnya

Namun saya ingin menyampaikan beberapa ekses dari teknologi terutama dalam hubungannya dengan agama. Tentu agrumentasi saya ini dapat disanggah. Artinya, orang dapat memahami teknologi secara berbeda.

Pertama, peralihan Kitab Suci kedalam berbagai bentuk buku elektonik telah “menurunkan” unsur sakralitas Kitab Suci. Artinya, orang tidak lagi menghargainya sebagai Kitab Suci atau kumpulan firman Allah tetapi disamakan begitu saja dengan file-file elektronik yang kapan saja dapat dihapus. (Sekali lagi ini merupakan refleksi saya, yang dapat dibantah)

Orang menjadi begitu mudah untuk mendapatkannya namun begitu mudah juga untuk “menghilangkannya”. Kalau Kitab Suci itu dalam bentuk sebuah buku maka pasti kita memiliki tempat khusus untuk meletakkanya di rumah sehingga sakralitasnya tetap terjaga. Dengan demikian, kita dapat memiliki waktu khusus untuk membacanya sehingga pemahamanpun semakin dalam.

Tidak demikian, jika kita membacanya dalam smartphone. Secara otomatis kita akan terganggu oleh kicaun notifikasi sosial media. Kitab Suci bukan lagi sesuatu yang suci terutama ketika kita tidak lagi memiliki waktu khusus untuk membacanya.

Kedua, ketika unsur sakralitas itu berkurang maka tingkat dan semangat penghargaan kita atasnya dapat saja berkurang. Bagi saya, Kitab Suci mesti dikhususkan karena keistimewaannya sebagai kumpulan sabda Allah. Maka menjadikannya dalam sebuah bentuk buku adalah pilihan yang bijak daripada menyamakannya dengan file-file elektonik lain sehingga sakralitas dan keistimewaannya dapat hilang.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply