Menjadi Mukallaf Yang Taat Versi Kiyai Hasan Dimejo

Dalam agama Islam ada Ilmu yang disebut Ilmu Fiqih, Ilmu ini menjelaskan tentang bagaimana cara seorang muslim beribadah yang baik menurut syariatnya. Ilmu Fiqih ini wajib di pelajari bahkan hukumnya fardu ‘ain bagi setiap muslim, wajib di pelajari bagi seorang yang beriman. Untuk mempelajari Ilmu fiqih ini diharuskan bagi seorang muslim itu sudah mukallaf.

Dan siapakah yang dimaksud dengan mukallaf itu?

Mukallaf adalah orang Islam yang berakal dan wajib di kenai perintah atau larangan agama. Di dalam ceramah Buya Yahya, beliau menjelaskan bahwa, syarat seseorang yang disebut dengan mukallaf itu ada 4, yaitu:

  • 1.  Berakal, orang yang akalnya sehat.
  • 2. Baligh (dewasa) bagi anak laki-laki maupun anak perempuan, apabila terjadi di anak laki-laki maupun anak perempuan yang sudah memasuki usia 9-15 tahun dan sudah keluar mani maka mereka disebut sudah baligh, dan ciri anak perempuan yang sudah baligh apabila dalam usia 9-15 tahun sudah keluar haid.
  • 3. Orang yang sampai dakwah Islam kepadanya.
  • 4. Selamat pendengaran atau penglihatan, jika ada seorang yang lahirnya dalam keadaan tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar maka orang itu selamat hidupnya.

Maka apabila seseorang yang sudah di dalam dirinya ini memiliki 4 syarat ini maka dialah orang yang wajib mempelajari Ilmu Fiqih dan memiliki kewajiban untuk menjalankan syariat Islam.

Manuskrip Berjudul: Haqqul Islam Karya Kiyai Hasan Dimejo

Manuskrip yang berjudul Haqqul Islam ini ditulis oleh Kiyai Hasan Dimejo, beliau adalah salah satu ulama di tanah Jawa. Penulisan naskah ini disebutkan pada tahun 1331 H. Naskah ini memakai bahasa Jawa Kromo Inggil dengan huruf pegon arab kuno. Keadaan naskah ini secara fisik keseluruhan masih bagus, semua teksnya masih dapat dibaca dengan baik, hanya ada sedikit tintanya pecah.

Isi naskah ini menjelaskan tentang kwajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang Mukallaf. Ada 21 bab peringatan yang harus dilakukan oleh seorang muslim mukallaf, baik mengenai akidah maupun fiqih.

Teks awal naskah ini sudah di artikan dulu sebelumnya kedalam bahasa Indonesia supaya pembaca bisa lebih mudah mengerti dan paham dari apa yang ditulis oleh Kiyai Hasan Dimejo di dalam teks ini.

Manuskrip ini berumur sekitar 600-700 tahun yang lalu, masih tersimpan dan terawat rapih sampai sekarang. Alangkah beruntungnya kita dapat melihat peninggalan-peninggalan kuno pada zaman dahulu. Sebagai anak bangsa yang cinta tanah air, marilah kita rawat dan lestarikan Manuskrip kuno ini masih banyak manuskrip-manuskrip lainnya yang kita belum ketahui isinya dan keilmuannya. Manuskrip ini berumur sekitar 600-700 tahun yang lalu, masih tersimpan dan terawat rapih sampai sekarang. Alangkah beruntungnya kita dapat melihat peninggalan-peninggalan kuno pada zaman dahulu. Sebagai anak bangsa yang cinta tanah air, marilah kita rawat dan lestarikan Manuskrip kuno ini masih banyak manuskrip-manuskrip lainnya yang kita belum ketahui isinya dan keilmuannya. Untuk lebih jelas melihat manuskrip lainnya anda dapat mengaksesnya di https://lektur.kemenag.go.id/manuskrip/

Iman, Islam Tauhid dan Ma’rifat

Di kutipan awal lembar pertama:

Woten pernatan bab agami Haqqul Islam ingkang kasebut ing ngandap puniko wicara pernatanipun bab lampah kelakuhanipun Haqqul Islam ingkang dipun kacangakeun murih lerese pengamalan ilmu zahir lam batus, anggene ngelampahi perintahe Allah syariate kangjeng Rasulullah sollallahu alaihi wasallam, utawi murit rukad guyub lan rukat dating serendek Islam sedoyo, lan ingkang serto mangku amar makruf nahi mungkar miturut dawuh Qur’an Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasita’muruna bil ma’rufi wa tanhauna anil mungkari wa tu’minuna billahi . . . 

Kutipan awal naskah ini, sebelum menerangkan lebih jauh Kiyai Hasan Dimejo berwasiat “Kehati-hatian dalam agama Islam tentang cara pengamalan agama Islam yang sebenar-benarnya, dalam ilmu dzohir dan batinnya. Yakni menjalani perintah Allah dan syariat baginda Rasul, serta gotong-royong dalam kebaikan. Supaya bisa menjadi umat nabi yang wasath, mengarahkan kepada kebaikan menurut syara’ dan menjauhkan dari kedzaliman sesuai dengan firman Allah Q.S Ali Imran ayat 110.”

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Artinya: Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka yang beriman dan kebanyakan mereka orang-orang fasik.

Lembar kedua :

Kiyai Hasan Dimejo menjelaskan pada Bab 1 yaitu “wajib di ketahui oleh mukallaf, yakni yang sudah dibebani oleh syara’ menjalani semua ketentuan dalam haqqul Islam, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 19:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ

Artinya: ‘Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah hanyalah Islam.’

Sebagaimana ada 4 perkara yang terkumpul dalam agama Islam yakni Iman, Islam, Tauhid dan Ma’rifat yang sudah di ketahui, disepakati dan menjadi urgensi didalamnya. Karena itu setiap mukallaf wajib menanamkan di dalam hati secara dzohir dan batin.”

Di bab ke 3 dan ke 4, “Wajib bagi mukallaf mengetahui bagian-bagian dalam Islam, yang pertama menjalani perintah Allah dan yang kedua meninggalkan kemaksiatan. Bukti melakukan perintah Allah itu adalah mengistiqomahkan Imannya, Islamnya, dan ibadahnya dengan menjalani sesuai rukun dan syarat wajib yang ditentukan. Wajib bagi kita sebagai mukallaf berguru dengan orang yang sudah di percaya menurut syara disifati sebagai umat wasathan (orang yang tidak melakukan setengah kemaksiatanpun atau dosa sebanyak 75 kali).”

Kiyai Hasan Dimejo menyebutkan di dalam bab 5 dan 6, disini yang di maksud dalam umat wasathan yaitu orang yang bisa menerangkan segala yang ada di dalam haqqul Islam. Dan orang yang mau mendalami Islam tidak butuh sarana prasarana dan yang penting hatinya ingin benar-benar taubat kepada Allah.

Kutipan terakhir :

Pangingetan 

Awitipun katinda pernatan pengamalan bab agami Haqqul Islam woten ing Dusun Bakudai Wonosobo, naliko Tahun Jim akhir Hijratun Nabi sollallahu alaihi wasallam sewu kaliatus seket wolu tahun 1258

Duhu kainipun pendamele buku niko tahun alif Hijrah sewu tigangatus tigang doso satunggal 1331 tahun

Saking kulo Hasan Dimojo Ibn Abu Hasan Wonorejo gapil Beruna, pengamalan Haqqul Islam puniko sedoyo ugi mendet fatwa saking guru kula Kiyai Haji Ahmad Rifa’i Ibn Muhammad. Sya’ban ping 8 alif 1331

Artinya :

Pertama kali pelaksanaan atau pengamalan bab agama Haqqul Islam ini disusun bakudai Wonosobo ketika Tahun akhir 1258

Buku ini dibuat pada tahun 1331 H dari saya Hasan Dimojo bin Abu Husein Dusun Wornorejo dan sumbernya dari guru saya KH.

Ahmad Rifa’i bin Muhammad. 8 Sya’ban 1331 H.

Wallahu a’lam bisshowab..

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply