Muslimah dan Islamophobia

Terlahir sebagai perempuan merupakan suatu karunia yang luar biasa, tidak benar jika perempuan adalah fitnah dunia yang memiliki kedudukan lebih rendah dibandingkan dengan laki -laki. Dalam pandangan Islam pun kedudukan perempuan dan laki-laki sama di hadapan Allah sebagaimana firmannya:

“Wahai manusia! Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan berauku-suku supaya kamu saling mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal” ( Q.s Al Hujarat 13)

Dalam peradaban Islam kita mengenal sosok Siti Khadijah, istri Rasulullah yang terkenal akan kasih sayang dan kelembutannya itu senantiasa menemani nabi dalam perjalanan dakwahnya. Beliau adalah wanita pertama yang beriman kepada risalah yang dibawa Rasulullah dan rela mengorbankan segalanya termasuk semua hartanya untuk mendukung dakwah Rasulullah Saw.

Kemudian ada Fatimah Az -Zahra, putri Rasulullah dan juga istri Ali bin Abi Thalib ini memiliki kepribadian yang mulia, penuh kasih sayang, dan keimanan. Beliau adalah cerminan wanita sholihah yang sangat patuh dan taat kepada Allah dan Rasulnya serta senantiasa menerima keadaan suaminya tanpa sedikitpun mengeluh.

Mereka adalah sosok wanita-wanita hebat yang dimiliki islam diawal peradaban, lalu bagaimana dengan perempuan hebat di zaman sekarang?

Muslimah pada masa sekarang menemui suatu problematika tersendiri, di Eropa misalnya, ada diskriminasi sebagai akibat dari adanya Islamofobia yang berkembang di dunia barat sehingga menyebar hampir di belahan dunia.

Stigma mengenai muslimah terutama yang memakai hijab tidak sebaik di negara indonesia yang mayoritas muslim, mereka diidentikan dengan terorisme dan radikalisme yang patut di curigai

Dalam sebuah buku yang berjudul Islamophobia/islamophilia: Beyond the politics of enemy and friends Andrew Shryock mencatat bahwa istilah islamophobia pertama kali muncul pada tahun 1997 dalam laporan berita The Runnymede Trust

Sebuah berita kanal inggris yang menyoroti masalah sentimen anti islam di ingris yang ketika itu posisi muslim adalah konstituen politik yang cukup kuat. sejak saat itu muslim minoritas yang tinggal di Eropa dan Amerika mulai aktif membendung gerakan anti rasisme dan anti islam.

Sayangnya, peristiwa 11 September 2001 menyebabkan gelombang islamophobia semakin kuat, bentuk nyata dari islamophobia ini yaitu aksi-aksi vandalisme yang diarahkan pada simbol-simbol islam terutama masjid, gerakan protes dijalanan, dan bahkan individu muslim menjadi korban bullying dan penyerangan fisik.

Data menyebutkan bahwa kejahatan hate crimes terhadap perempuan muslim di Amerika meningkat menjadi 1972 kasus pada tahun 2005, padahal di Amerika Serikat sendiri telah ada Civil Right Act 1965 yang mana konstitusi melarang segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

Stigma masyarakat mengenai perempuan muslim yang memakai hijab dibangun oleh kelompok ekstrimis yang mengatasnamakan Islam dengan melakukan tindakan terorisme, padahal agama Islam merupakan agama yang ramah, penuh toleransi, mengutamakan keadilan, melindungi hak-hak setiap manusia dan tidak ada ajaran seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut.

Sedangkan penggunaan hijab bagi muslimah merupakan suatu kewajiban dan merupakan suatu upaya Allah untuk memuliakan dan melindungi perempuan dari berbagai ancaman luar bukan sebuah kedok untuk berbuat kejahatan seperti yang kebanyakan dituduhkan kepadanya.

Islamofobia ini merupakan suatu tantangan berat bagi muslimah di negara-negara minoritas muslim. lingkungan yang tidak mendukung, sulitnya akses, pengucilan dan deskriminasi terhadap muslimah harus di hadapi tanpa mengenyampingkan akidah dan keimanan nya.

Bagaimana seorang muslimah ini dalam menyikapi Islamofobia?

Stigma masyarakat mengenai wanita muslimah yang menggunakan hijab terutama niqab yang identik dengan radikalisme dan terorisme akan hilang jika muslimah-muslimah mampu menunjukan akhlak mulia terhadap siapapun baik sesama muslim maupun mereka non muslim.

Karena akhlak mulia tersebut mampu menjadi gambaran bahwa muslimah sebenarnya adalah wanita-wanita islam yang ramah, berbuat baik terhadap siapa saja, saling menghargai dan toleransi antar sesama umat manusia jangan malah anti sosial dan berdiam diri dirumah saja tanpa melakukan sosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Muslimah hebat ialah perempuan yang memiliki kualitas dalam dirinya. Kualitas tersebut meliputi kualitas budi pekerti atau akhlak, keimanan dan ketaqwaan serta kualitas dalam hal keilmuan dan pemikiran nya.

Wanita harus memiliki pendidikan yang mumpuni, baik agamanya maupun pendidikan formalnya karena seorang perempuan merupakan tiang peradaban, darinya akan tercipta dua manusia hebat yakni suami dan anak-anaknya sesuai peranan wanita “Al Ummu madrasatul ‘ula” yang berarti Ibu (wanita) merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Tugas orang tua terlebih seorang ibu adalah mendidik, mengasuh dan merawat anak-anak nya sehingga mereka akan tumbuh menjadi anak yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Jadilah wanita yang senantiasa bijak dalam menyikapi setiap ujian, mengutamakan akhlak mulia, dan selalu Istiqomah dalam memperbaiki diri dan mencari ridha Allah SWT.

Beruntunglah kita yang tinggal di negara indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama islam. Kita dapat menjalankan ajaran agama tanpa suatu ancaman apapun. Bahkan negara wajib melindungi setiap warganya untuk menjalankan syariat islam tanpa ancaman dari siapapun.

Sudahkah kita bersyukur hari ini dan lebih banyak berbuat kebaikan?
Sumber : qureta.com
No Comments

    Leave a reply