Pentingnya Introspeksi Diri

Selama roda kehidupan masih berputar, manusia tidak pernah luput dari suatu kesalahan, maka dari itu manusia dianjurkan untuk melakukan introspeksi diri agar senantiasa menjadi manusia yang selalu memperbaiki diri, karena dari mana lagi belajar suatu hal berharga dalam hidup kalau bukan dari kesalahan diri sendiri.

Tasawuf mengenal istilah intropeksi diri dengan muhasabah, yakni menghisab sendiri segala perbuatan yang telah dilakukan. Banyak ulama sufi zaman dulu yang melakukan muhasabah untuk terus meningkatkan tingkatan ibadah mereka. Sebenarnya muhasabah tidak hanya harus dilakukan oleh seorang sufi bahkan orang awam pun harus melakukannya, agar kehidupan yang dijalani menjadi lebih terarahkan.

Muhasabah sangat perlu dilakukan dalam kehidupan agar kita sebagai manusia bisa lebih meneliti setiap kesalahan dan menghargai setiap hembusan nafas yang telah diberikan Allah swt. Disamping itu, manusia tidak pernah lepas dari pengawasan Allah dan para Malaikat-Nya, setiap kesalahan maupun kebaikan selalu ada catatannya di sisi Allah swt, maka dari itu manusia perlu melakukan muhasabah untuk  senantiasa memperbaiki diri.

Al-Ghazali dalam bukunya ihya ‘ulumuddin menjelaskan bahwa Muhasabah adalah mengadakan perhitungan dan  pemeriksaaan terhadap amal perbuatan yang telah dikerjakan. Berdasarkan definisi tersebut  dapat kita pahami bahwa manusia yang sadar akan adanya hari perhitungan di akhirat kelak harus lebih memperhatikan setiap amal perbuatan yang dilakukannya, lalu mengoreksi pekerjaan tersebut agar hidupnya selalu pada jalan yang benar.

Manusia sebagai satu-satunya makhluk Tuhan yang diberi karunia berupa akal sudah seharusnya memikirkan setiap kesalahan yang dilakukannya dengan akal tersebut, serta menyadari setiap rentang waktu yang terus berjalan disisinya agar mempunyai kehidupan yang lebih bermakna.

Memahami waktu yang berjalan sangatlah baik, karena dengan itu akan membuat kita berusaha untuk melakukan yang terbaik dari hari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Hidup memang sebuah proses dimana dengan proses itu tidak membuang waktu kita dengan sia-sia. Semuanya butuh perenungan yang dalam, agar muhasabah terjalankan dengan kesadaran dan berakhir dengan moral serta akhlak terpuji untuk membangun kehidupan yang lebih maju.

Kita dapat berkaca pada perkataan Umar r.a, seorang sahabat Rasulullah yang sangat pemberani bahkan setan saja takut melihatnya namun, itu bukan dari kegarangan wajahnya atau kegagahan tubuhnya melainkan kebersihan hatinya. Umar pernah berkata “Perhitungkanlah dirimu sebelum kamu diperhitungkan”.

 Umar mengatakan ini untuk memberi peringatan kepada manusia terutama umat Muslim agar senantiasa melakukan perhitungan dan pengoreksian terhadap seluruh amal perbuatan yang dilakukan karena pada hari akhir nanti pasti akan tiba masa dimana perhitungan itu benar-benar berlaku.

Seterusnya dia berkata “Ketahuilah, seorang hamba seharusnya mempunyai dua waktu, pada pagi harinya untuk menyusun seluruh kegiatan yang akan dilakukan dan pada sore harinya memperhitungkan hasil yang diperoleh seperti yang dilakukan pengusaha dengan mitra usahanya pada setiap awal dan akhir tahun, bulan dan hari”.

 Perkataan umar ini sejalan dengan sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa “Sudah seharusnya bagi orang yang berakal untuk menjadikan satu waktu dalam setiap harinya untuk melakukan perhitungan bagi dirinya”.

Mengenai pentingnya waktu senantiasa diperingatkan kepada kita namun, kita sering abai terhadap waktu, padahal kita sadar dia terus berputar dan menghilang tanpa jejak. konsepsi waktu sebenarnya telah tergambar dipikiran kita, hanya saja kita lalai bahkan mungkin gagal untuk membuat hidup yang bermakna disetiap detiknya.

Prof. Mujiburrahman mengatakan dalam bukunya Agama Generasi Elektronik bahwa ada dua jenis konsepsi waktu yang terus berputar di sekitar manusia. Pertama, waktu dipahami sebagai rentang masa yang berjalan lurus (linear). Dulu kita bayi, kemudian balita, lalu remaja, sekarang sudah dewasa dan nanti akan renta. Waktu yang memanjang lurus ini biasanya dinilai sebagai proses kehidupan. Kedua, waktu yang dipahami sebagai gerakan melingkar (circular), yang dimulai dari satu titik dan kembali ke titik itu pula. Hari ini Jumat, minggu depan Jumat lagi. Waktu yang bergerak melingkar ini akan terus ditemui dan inilah ruang kita untuk intospeksi diri.

Selanjutanya Imam Ghazali kembali mengingatkan tentang konsepsi waktu. Imam Ghazali berkata “ Tersebut dalam hadits Nabi saw., seharusnya bagi orang yang berakal itu ada baginya empat saat. Saat yang pertama tempat ia munajat di dalamnya itu akan Tuhannya yakni tempat ia bersungguh-sungguh berbuat ibadah yang fardhu, sunnah dan segala wiridnya. Saat yang kedua tempat ia menghisab di dalamnya itu akan dirinya. Saat yang ketiga tempat ia berpikir di dalamnya pada pekerjaan Allah ta’ala. Dan saat yang keempat tempat ia mencari di dalamnya itu makanan dan minumannya. Maka bahwasanya di dalam saat itu menolongi ia atas saat ia berbuat, saat ia menghisab dan saat ia berpikir”.

Introspeksi diri atau pengoreksian kembali mengenai diri sendiri merupakan hal yang penting, agar tidak semena-mena menyalahkan orang lain dan terus memperbaiki diri sendiri serta lebih menghargai kehidupan yang telah Allah berikan.
Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply