Tidak Ada Tanggal Pasti Kapan Kiamat

Seperti kita ketahui bersama, saat ini tema ceramah about kiamat sangat menarik minat masyarakat kita. Ada yang menanggapinya secara positif, tapi ada pula yang menanggapinya dengan negatif.

Untuk yang pertama memang tidak ada masalah. Apalagi jika kabar tentang kiamat tersebut malah dijadikan motivasi atau dorongan untuk lebih giat dalam beramal saleh. Baik itu dengan selalu rutin melalukan salat, banyak bersedekah, membantu fakir miskin, dan lain-lain. Itu bagus.

Namun kita menaruh khawatir pada respons yang kedua, yaitu mereka yang merespons berita kiamat secara negatif. Mereka jadi lesu menghadapi hidup, gairahnya telah hilang, jadi bermalas-malasan, malas makan, susah tidur. Bahkan yang lebih parah, ada orang tua yang karena berita kiamat itu ingin membunuh anaknya. Karena takut akan masa depan (masa di mana kiamat akan terjadi). Na’uzubillah

Penulis merasa miris ketika mengetahuinya. Dan penulis melihat bahwa respons umat Islam yang demikian, di samping karena mereka yang lebay, juga karena penyampaian ustaz dan penceremah memang hiperbola, terlalu melebih-lebihkan.

Misalnya ada seorang ustaz (namanya tak perlu penulis sebut demi menjaga kode etik jurnalistik) yang menyatakan bahwa kiamat akan terjadi pada pekan pertama bulan ramadan. Apalagi hal itu disebut-sebut memiliki justifikasi (pembenaran) dari hadis Nabi.

Benarkah demikian? Adakah orang yang tahu kapan terjadinya kiamat? Untuk menjawabnya, penjelasan dari Ustaz Yuana Tresna, seorang yang konsen dan mumpuni dalam kajian ilmu hadis, penulis kira penting untuk kita dengarkan.

Kiamat dalam Kitab Hadis

Ustaz Yuana dalam suatu acara bincang-bincang bersama Ustaz Fatih Karim sebagaimana diunggah oleh Ustaz Fatih dalam akun instagramnya, menjelaskan, bahwa di dalam kitab-kitab hadis mu’tabar (terkenal) atau yang terkenal dengan sebutan kutub as-sittah (kitab hadis yang enam), memang akan kita dapati pembahasan mengenai kiamat. Bahkan pembahasannya ditempatkan dalam satu bab khusus, yaitu kitab al-fitan (bab tentang fitnah). Pembahasan tentang fitnah-fitnah di akhir zaman.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa untuk hadis-hadis tentang kiamat, setidaknya terdapat dua kategori atau pembagian. Pertama, khabar (berita). Kedua, apa yang harus kita persiapkan dalam menghadapi datangnya hari kiamat. Mari kita mulai dengan yang pertama.

Berita kiamat di dalam kitab-kitab hadis memang tak dapat kita sangsikan keberadaannya. Nabi menceritakan tentang adanya peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sebelum datangnya hari kiamat.

Misalnya di sana terdapat hadis yang bercerita tentang kemunculan dajjal, diutusnya imam mahdi, keluarnya ya’juj dan ma’juj dari tempat persembunyiannya, serta pembahasan tentang dukhan. Semuanya ada di sana.

Tapi yang perlu untuk kita catat adalah tidak semua hadisnya sahih (valid). Banyak yang dha’if (lemah), meskipun ada juga yang sahih. Tapi dibanding yang sahih, yang dha’if jauh lebih banyak. Makanya kita perlu selektif dan teliti membaca hadis-hadis tersebut.

Namun terlepas dari itu semua, khususnya terhadap berita kiamat yang dimuat dalam hadis yang sahih, sikap kita terhadapnya adalah sebatas menjadikannya sebagai informasi atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan khabar, yaitu informasi masa depan. Kita jangan sampai membawanya pada persoalan iman dan kufur. Penentu dan pembeda keimanan.

Misalnya soal waktu diutusnya imam mahdi. Jangan sampai karena kita sudah percaya tentang satu waktu kapan ia akan diutus, dan kemudian orang lain belum percaya. Kita sontak langsung menuduhnya sebagai kafir. Menuduhnya tidak percaya kepada Tuhan. Itu tak dibenarkan. Karena lagi-lagi hal ini adalah masalah yang bersifat ghaib (transenden), persoalan yang belum diketahui pasti kapan terjadinya.

Apalagi posisi atau status hadis tersebut (hadis yang bercerita tentang kiamat) adalah hadis ahad. Hadis ahad, menurut ulama ushul fiqh, bukanlah suatu kepastian yang harus kita yakini dengan pasti. Sebab ia hanya diriwayatkan oleh satu rawi.

Berbeda halnya dengan status hadis mutawatir. Hadis ini harus kita terima dengan sam’an wa tha’atan (mendengar dan taat). Sebab ia diriwayatkan oleh banyak perawi. Dan menurut adat, mereka mustahil untuk sepakat dalam berdusta.

Adapun syarat terkait berapa banyak perawi yang dibutuhkan supaya sebuah hadis dikatakan hadis mutawatir, para ulama masih berbeda pendapat. Ada yang mengatakan 4 orang, ada 5 orang, dan ada pula 20 orang. Tapi terlepas dari perbedaan itu, jelasnya adalah hadis tentang kiamat tidak ada yang status sahihnya mencapai mutawatir. Hanya sebatas ahad.

Tetapi sekalipun status hadisnya hanyalah hadis ahad, kita tetap tidak boleh mengingkarinya. Kita harus percaya. Karena jika kita mengingkari hadis sahih, maka kita akan termasuk dalam golongan munkir as-sunnah. Dan ini tidak boleh. Karenanya kita harus tetap membenarkan.

Aksiologi Berita Kiamat

Hadirnya berita-berita tentang kiamat, seperti diutusnya imam mahdi, kemunculan dajjal, dan keluarnya ya’juj dan ma’juj dari tempat persembunyiannya, kata Ustad Yuana, seharusnya tidak membuat nyali kita ciut. Malah sebaliknya, harus makin termotivasi.

Karena dengan berita-berita tersebut, umat Islam diharapkan segera menyiapkan apa-apa saja yang harus disiapkan sebagai bekal saat menuju detik-detik terjadinya kiamat. Segala pemberitaan tentang kiamat harus melahirkan aksi amal saleh.

Adanya hari kiamat, lahirnya dajjal, dan keluarnya ya’juj dan ma’juj bukan bermaksud menjadikan kita takut. Malah ia menuntun kita pada optimisme. Di antaranya ialah agar kita lebih giat dalam beribadah, menyiapkan amal-amal terbaik, dan kebaikan-kebaikan lainnya yang dapat menyelamatkan kita ketika bertemu dengan hari kiamat kelak.

Dan sebagai jawaban atas pernyataan pada judul di atas, yaitu tentang waktu terjadinya hari kiamat, Ustaz Yuana menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadis yang sahih yang menjabarkan kapan waktu terjadinya hari kiamat. Kalaupun ada, itu hanya pendapat ulama.

Apakah boleh? Boleh saja. Namun hal itu jangan sampai menjadi suatu keyakinan.

Dan menurut ulama, hal seperti itu sebaiknya dihindari. Karena jangankan kita, jangankan kiai, jangankan mubaligh atau penceramah, jangankan ulama, Rasulullah pun sama sekali tidak mengetahuinya.

Maka, kita umat Islam jangan sampai termakan oleh hoaks-hoaks yang bertebaran tentang tanggal atau waktu terjadinya kiamat. Karena yakinlah, semua itu hanyalah dusta belaka. Kiamat adalah sesuatu yang ghaib. Dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, pencipta alam semesta.

Sumber : qureta.com

Tags: , ,

No Comments

    Leave a reply